Pengantar Ilmu Ekologi

Dr.Ir.Hamzah Lubis,SH.M.Si

Pada saat ini, hampir semua negara telah menyadari bahwa dalam pembangunan negara sangat perlu memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup agar hasil pembangunan tidak menjadi bumerang kepada manusia sendiri. Untuk hal ini, diperlukan partisipasi seluruh warga negara dengan kesadaran yang tinggi. Partisipasi dan kesadaran itu akan timbur apabita setiap warga negara memahami ilmu lingkungan[1].

A. Ilmu Lingkungan
Ilmu lingkungan mengintegrasikan pelbasai ilmu yang meempelajari hubungan antara jasat hidup (termasuk manusia) dengan lingkungannya. Didalam perbagai disiplin ilmu, seperti , sosiologi, epidemiologi, kesehatan masyarakat, planologi,  geografi, ekonomi, meteorologi, hidrologi, bahkan pertanian, kehutnanan, perikanan, dan peternakana, sekaligus dipandang dalam satu ruang lingkup serta perspektif yang luas yang saling berkaitan.  Ilmu lingkungan dapat diibaratkan sebuah poros  tempat pelbagai asas dan konsep aneka ragam ilrmu yang terpencar dan terkhususkan dan dapat digabungkan kembali secara tunjang menunjang, untuk mengatasi masalah yang menyangkut hubungan antara jasat hidup dengan lingkungannya[1].
Pada dasarnya, fragmentasi  ilmu pengetahuan (sains) ke dalam pelbagai disiplin ilmu adalah akibat studi yang terlalu menjurus dan mendalam. Penelitian ilmiah dimasa lampau sering dipusatkan pada pelbagai kejadian yang sangat khas, pada penguraian pelbagai situasi yang selalu terpisah-pisah, dan pada gejala sebab-akibat yang terisolasi satu clari yang lain. Di dalam ilmu lingkungan, tekanan ditujukan terutama pada  mennyatukan kembali segala ilmu menyangkut masalah lingkungan ke dalam kategori variabel yang serupa,  yaitu energi, materi, ruang,waktu dan keanekaragaman (deversitas) [1].
Kalau integrasi keilmuan ini sudah dapat dipahami, akan tampak  dengan jelas semua disiplin ilmu yang terpencar itu, menelaah proses dan masalah yang serupa. Tidak peduli ilmu apa namanya, asal menyangkut hubungan antara jasad dengan Iingkungannya, fokusnya selalu tertuju pada proses kecermat an pemindahan energi dalam pelbagai sistem. Tampak, apa pun materi yang tersebar dalam ruang di atas bumi ini, tidak peduli tumbuhan, hewan, gedung, mobil, kota dan wilayah, dan lain-lain, mempunyai implikasi melakukan pemindahan energi. Jadi, jasad hidup dapat dianggap sebagai materi, tenrpat siklus energi itu beroperasi. Waktu juga penting sebab sebuah proses tidak akan sampai kepada ambang suatu tingkat apabila tidak diberi cukup waktu untuk mencapainya. Barangkali keanekaragamannya yang tidak terputus-putus daripada sifat morfologi dan genetika me-
nentukan tinggi rendah dinamika makhluk hidup, populasi, dan komunitas di muka Bumi[1].
Karena hal itu khas dalam makhluk hidup, maka penting pula untuk diperhatikan. Ilmu lingkungan dapat juga dianggap sebagai titik pertemuan ilmu murni dan ilmu terapan. Ilmu lingkungan sebenarnya adalah ilmu ekologi (ilmu murni yang mempelajari pengaruh faktor lingkungan terhadap makhluk hidup) yang menerapkan berbagai azas dan konsepnya kepada masalah yang lebih luas, yang menyangkut pula hubungan manusia dengan lingkungannya[1].
Dalam ilmu lingkungan perbedaan antara "ilmu murni" dan "ilmu terapan" hanyalah dihaiangi oleh batas yang terlalu dibuat-buat' yang bersifat tradisi belaka. ilmu lingkungan jelas menunjukkan bahwa asas dan konsep "ilmu murni" seperti ekologi ternyata berlaku juga untuk menanggulangi masalah yang praktis.  Dan sebaliknya banyak masalah teknologi dan sosio-ekonomi ternyata merupakan data yang berharga bagi para ahli "ilmu murni" untuk merumuskan teorinya. Kalau istilah ilmu mumi dan ilmu terapan akan tetap dipertahankan, ilmu lingkungan menyediakan titik perpaduannya. Walau bagaimanapun perluasan ruang lingkup "t otogi menjadi ilmu lingkungan, di satu pihak didasarkan kepada kenyataan, bahwa memang asas dan konsep ekologi sering rtapat digunakan menanggulangi masalah di bidang keilmuan yang lebih diterapkan. Di pihak lain, telah disadari pula bahwa meskipun masalah ekologi murni mungkin lebih menarik,  tetapi kalau masalah lingkungan hidup yang menyangkut diri manusia secara langsung maupun tidak langsung tidak ditanggulangi bersama, masalah ekologi murni tidak akan ada lagi di muka bumi
ini[1].
Dalam sebuah Perguruan Tinggi, tempat beranekaragaman ilmu dapat dituntut, ilmu Iingkungan Inenjadi penting untuk menciasari pengetahuan para penuntut ilmu' Di samping dapat menyajikan pelbagai asas dan konsep umum yang dapat digunakan oleh pelbagai macam ilmu secara menyeluruh' ilmu lingkungan juga dapat menonjolkan kaitan serta hubungan aneka macam ilmu. Ilmu lingkungan dapat menjadi wadah bagi pendekatan interdisiplin ilmu dalam mengatasi masalah lingkungan hidup  manusia khususnya dan makhluk hidup umumnya[1].

B. Ekologi sebagai Dasar Ilmu Lingkungan
Ekologi merupakan salah satu ilmu dasar bagi ilmu lingkungan. Data- ilmu lingkungan seperti halnya ekologi makhluk hidup (organisme) pada dasarnya dipelajari dalam unit populasi. Populasi ialah sekelompokindividu-individu makhluk hidup yang sejenis yang hidup dalam suatu lingkungan tertentu[1].

1.    Individu (Latin: in=tidak, dividus = dapat dibagi)
Individu adalah satu satuan sturuktur yang membangun suatu kehidupan dalam bentuk makhluk hidup. jika kita bayangkan pandangan ke sebuah kebun, kita mungkin akan menemukan beberpaa tumbuhan misalnya pohon jambu, pohon pisang, jahe, rumput dan sebagainya. setiap pohon tersebut individu. dengan demikian kita katakan: individu pisamg, individu jambu, individu jahe dan lainnya[1].
 Terkadang kita sulit membedakan individu dalam suatu rumpun. Serumpun rumput atau serumpun jahe sukar ditentukan secara pasti, apakah rumpun itu sebuah individu atau sekumpulan individu. Jika kita memeniti serumpun rumput, batang-batang yang nampak seperti individu, ternyat bagian dibawah tanahnya yang tertimbun saling berhubungan. Bila batang yang menjulang ke atas dipindahkan dengan jalan memotong pada bagian bawahnya, ia akan tumbuh menjadi individu baru. Begitu juga halnya dengan tumbuhan jahe dan kunyit[1].
Peristiwa yang sama akan terlihat pada hewan, misalnya Volvox. Volvok merupakan hewan bersel satu, tetapi kita tidak dapat seekor hewan Volvox sebagau suatu hewan bersel satu yang hidup tersendiri, mereka hidup berkelompok (koloni).
Banyak sedikit individu yang termasuk dalam satu populasi bergantung pada potensi untuk berbiak silang antara individu yang satu dengan individu yang lain. Kepadatan populasi ialah hubungan jumlah individu tiap m3.  Misalnya, dalam sebuah akuarium yang brukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm dipelihara ikan mas sebanyak 30 ekor. Daram hal ini, kita katakan bahwa kepadatan popurasi ikan mas di dalam akuarium itu 30 ekor untuk 54.000 cm3 atau dalam 0,54 m3. jadi, kepadatan ikan mas di dalam akuarium[1].

     30 ekor
= -----------------    = 555 ekor/m3
   0,054 m3

Untuk hewan yang hidup di darat biasanya dipergunakan dalam satuan m2. Misalnya, kepadatan populasi sapi di desa A = 0,5 untuk tiap m2. Untuk mencari kepadatan populasi digunakan rumus[1]:
                   N
D   = -------------------
                    S

D = Densus =padat = kepadatan
N = Numerus= Jumlah = frekuensi
S =Spatum = ruang = luasan daerah yang ditempati

Perubahan kepadatn populasi disebabkan oleh:
- (a) Mortalitas (angka kematian)
- (b) Natalitas (angka kelahiran), dan
- (c) Imigrasi-/emigrasi (perpindahan)

2. Populasi
Populasi dapat dikatakan sebagai kumprilan individu suatu spesies makhluk hidup yang sama. Timbul pertanyaan, berapa banyakkah individu yang dapat rerkumpul menjadi sebuah popu
lasi? Dan berapa luaskah daerah yang dapat dihuni oleh sebuah populasi? Biawak (Varanus salvator) sejenis reprilia. dijumpai secara tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Sejauh manakah biawak ini akan dianggap sebagai populasi? Menentukan populasi memang sukar jika anggotanya terpisah-pisah dalam sebuah wilayah di mana jarak menjadi penghalang antar individu, seperti halnya gajah atau harimau di Asia, pohon cemara diEropa, bahkan manusia di dunia. Cara menentukan batasan populasi yang lebih baik didasarkan pada pengaruh atau individu yang lain dalam suatu populasi. Jadi, populasi dipandang sebagai suatu sistem yang dinamis daripada gejala individu yang selalu melakukan hubungan. Maka, populasi adalah kumpulan individu sebuah spesies yang mempunyai potensi untuk berbiak silang antar satu individu dengan individu lainnya. Tentu saja antara individu betida dengan individu jantan[1].
Jadi, meskipun banteng di Ujung Kulon dan banteng di Pananjung Pengandaran, Baluran (Jatim), spesiesnya sama yaitu Bos Javonicus. Karena potensinya untuk berbiak silang dihalangi oleh
jarak yang jauh (isolasi geografis), tiga kumpulan banteng itu merupakan tiga populasi. Tentu saja individu dalam sebuah populasi itu tidak hanya berinteraksi melalui biak silang, tetapi juga berhubungan secara dinamis dalam hal-hal lain[1].
                Kalau jumlah individu per unit luas bertmbah dalam perjalanan waktu, kita katapan kepadatan (sudah lazim kita menggunakan isitilah kepadatan untuk manusia dan hewan dan kerapatan untuk tumbuhan.    Jika pembicaraan menyangkut keduanya sekaligus, buku ini menggunakan istilah kepadatan saja sebagai singkatan dari kepadatan atau kerapatan  populasi itu naik[1]. Kalau kepadatanpopulasi itu sedemikian rupa, sehingga kebutuhan populasi kan bahan makanan, tempat tinggal dan kebutuhan hidup lainny,  menjadi di luar kemampuan alam lingkungan untuk menyediakan atau menyokong secukupnya timbullah persaingan atau kompetisi. Persaingan itu menimbulkan dua akibat: (1) Dalam jangka waktu yang singkat akan menimbulkan efek ekologi dan (2) dalam waktu yang panjang akan menimbulkan efek evolusi[1].
               Persaingan menimbulkan daya juang untuk mempertahankan kelangsungan hidup, yang dapat dimemangkan oleh yang kuat atas anggota yang lemah. Dalam waktu yang singkat, akibat eologi itu berupa: (1) kelahiran, kelangsungan hidup dan pertumbuhan populasi yang mungkin meningkat, serta (2) pemindahan (emigrasi) populasi yang mungkin meningkat. Persaingan dalam populasi dapat berupa persaingan langsung antar individu. Misalnya daya pembiakan menurun atau tertekan oleh kepadatan individu jantan yang begitu besar sehingga sijantn lebih banyak membuang waktu memperebutkan betina daripada melakukan proses pembiakannya sendiri. Persaingan tidak langsungsung, misalnya seekor hewan kelaparan kerena makanannya dihabiskan oleh hewan Iain. Dalam hal ini, hewan yang kelaparan itu ridak pernahbersentuhan dengan hewan yang mendahuluinya dalam menghabiskan persediaan makanan[1].
 Persaingan elapat pula berakibat pembahan yang berangsur-angsur pada populasi (efek evolusi). Misalnya, dalam sebuah popuIasi terdapat individu yang tubuhnya besar besarbersaing dengan individu hewan yang kecil. Katakanlah hewan yang kecil itu terkalahkan dalam peisaingan memperoleh  makanan. Maka  hewan yang bertubuh   kecil itu tidak hanya terancam bahaya kelaparan, tetapi umur  dan daya perkembangannya juga akan turun dalam populasi secara keseluruhan[1].
               Lama-kelamaan evolusi akan banyak melahirkan individu-individu besar dari populasi tersebut, dan yang bertubuh kecil akan tersisihkan. Akhirnya   populasi akan dikuasai oleh popuasi
hewan yang bertubuh besar. Bahkan, yang kecil , akan hilang karena  tidak berkembang. Satu hal yang penting di sini ialah bahwa dalam setiap persaingan individu, kemampuan anggota pupulasi bersaing pada akhirnya dapat dipertahankan  karena memanglah yang akan menentukan kelangsungan generasi[1].
Ada dua faktor lingkungan yang dapat rnenurunkan daya  biak populasi: (1) fajtor  bergantung pqla kepadatan populasi itu sendiri ( density dependent factor) misalnya kekurangan
bahan makanan, kekurangan ruangan untuk hidup, karena populasi terlapau  padat; (2) serta faktor yang tidak bergantung kepada kepada kepadatan populasi (density independent faktor) misalnya terdapat penurunan suhu lingkungan secara derastik dan mendadak sehinga dapat membunuh banyak individu dalam populasi. Faktor lingkungan semacam itu dapat saja muncul[1].
Ciri penting dalam sebual populasi ialah sturuktur  umur anggotanya. Pada Gambar 38 misalnya, digambarkan dua sturuktur umur  populasi manusia. Pada populasi A' tampak angka keiahiran (usia muda) lebih tinggi daripada angka kematian (usia tua), populasi bertambah cepat yang menghasilkan daya tumbuh populasi sebesar 2 % per tahun. Struktur umur yang demikian khas
bagi populasi di negara yang sedang berkembang[1].
Dalam populasi A,52,4 %  anggotapopulasi berumur kurang dari 20 tahun. Sebaliknya, pada populasi B (seperti populasi negara Inggris sekarang) tidak tampak perbedaan yang nyata pada jumlah penduduk di perbagai umur di mana jumlah penduduk naik perlahan-iahan. Jumlah penduduk di bawah umur 20 tahun hanya 31 %. Struktur umur dalam populasi penting karena dapat memberikan gambaran serta sifat individu populasi itu, sesuai dengan karakter setiap batas kisaran (range) umurnya. Misalnya, hal yang berhubungan dengan derajat angka kelahiran, derajat angka kematian, kecenderungan untuk beremigrasi atau berimigrasi, keperluan bahan makanan, dan potensi kerja serta nilai sosio-ekonominya. Oleh karena itu, struktur umur sangat penting untuk diamati dan diperhatikan dalam perkembangan suatu populasi[1].














 Gambar 1. Struktur umur populasi manusia[1].

3. Komunitas
               Komunitas ialah beberapa kelompok makhluk yang hidup bersama-sama dalam suatu tempat yang bersamaan, misalnya populasi semut, populasi kutu daun, dan pohon mereka hidup membentuk  suatu masyarakat atau suau komunitas. Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas,  dapat diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitas tersebut. Komunitas dengan populasinya adalah ibarat makhluk dengan sistem organnya, tetapi dengan singgkat organisasi yang lebih tinggi  sehingga memiliki sifat yang khusus atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh baik sistem organ maupun organisasi hidup lainnya[1].



a. Perubahan Komunitas
Permukaan Bumi yang terlihat subur dan banyak ditumbuhi tumbuhan, pada permulaannya hanya merupakan suatu batuan yang tidak dapat ditumbuhi oleh tumbuhan yang biasa tumbuh di tanah. Lumut  kerak merupkan satu-satunya tumbuhan yang dapat tumbuh di permukaan batuan. Sebagai akibat pertumbuhan lumut kerak batuan itu menjadi lapuk. Di samping itu, pertukaran udara pernapasan lumut kerak , terbentuklah H2CO3 (asam karbonat). Karena zat inilah permukaan batuan menjadi rusak dan berpori-pori. Pori-pori kemudian diisi debu dan air.  Sebagai akibat perubahan suhu, air mengalami penyusutan dan pemuaian serta menyebbkan batuannya itu menjadi semakin  lapuk [1].
Dengan adanya tumbuhan  baru ini, debu akan semakin banyak terdapat di permukaan batuan. Dengan demikian, lingkungan menjadi lebih baik bagi pertumbuhan lumut daun. Semua yang hidup akhirnya akan mengalami kematian, begitu juga Iumut daun. Semakin banyak sisa-sisa tumbuhan lumut yang membusuk, semakin baik permukaan batuan ini untuk ditumbuhi oleh tumbuhan jenis lain[1].
Keadaan komunitas di permukaan batuan berubah sesuai dengan perubahan lingkungan yang terjadi. Perubahan komunitas yang sesuai dengan perubahan lingkungan yang terjadi akan berlangsung terus sampai pada suatu saat terjadi suatu "komunitas padat" sehingga timbulnya jenis tumbuhan atau hewan baru akan kecil sekali kemungkinannya. Komunitas padat ini disebut "komunitas klimaks". Namun, perubahan akan selalu terjadi. OIeh karena itu, komunitas klimaks yang stabil tidak mungkin dapat dicapai. Perubahan komunitas tidak hanya terjadi oleh timbulnya penghuni baru, tetapi juga hilangnya penghuni yang pertama. Dalam contoh di atas, tumbuhan lumut kerak akhirnya terdesak  dan kemudian tidak tedengar lagi di tempat itu[1].

b. Pemungutan hasil populasi
Ada empat macam pengertian yang penting untuk diketahui sehubungan dengan pemungutan hasil pelbagai bentuk populasi oleh manusi a: (1) Biomassa ialah berat total populasi.
Jadi, sama dengan jumlah individu dalam populasi X berat rata-rata individu tersebut; (2) Hasil bawaan (standing crop) ialah jumlah individu atau biomasssa suatu populasi dalam jangka waktu tertentu, (3) prodiuktivitas, ialah jumlah jaringan hidup yang dihasilkan oleh suatu populasi dalam jangka waktu tertentu, dan (4) hasil panen ialah jumlah hasil yang dipungut pada suatu waktu panen bagi kepentingan manusia. Sering terjadi, spesies tumbuhan dan hewan dijumpai berulang kali dalam pelbagai komunitas dan menjalankan fungsi yung  agak berbeda[1].
Kombinasi antar habitat, tempat suatu spesies hidup, dengan fungsi spesies dalam habitat itu, memberikan pengertian nicia (niche). Konsep niche ini pentingnya bagi seorang ahli lingkungan. Selain digunakan untuk meramal macam tumbuhan  dan hewan yang  yang dapat ditemukan dalam suatu komunitas, nicia juga dipakai untuk menaksir kepadatan serta fungsinya pada suatu komunitas, serta menaksir kepadatah clan fungsinya pada suatu musim. Kepadatan individu dalam suatu populasi langsung dapat dikaitkan dengan penngertian keanekaragaman[1].
Isitlah ini dapatditerapkan pada pelbagai bentuk, sifat, dan ciri suatu komunitas. Misalnya, keanekaraman didalam spesies, keanekaragaman dalam pola penyebaran. Margalef (1958) mengemukakan bahwa untuk menentukan keanekaragaman komunitas perlu dipelajari aspek keanekaragaman itu dalam  organisasi komunitasnya. Misalnya: (l) mengalokasikan individu populasinya ke dalarn speciesnya; (2) menempatkan spesies tersebut ke dalam  habitat atau nicia-nya; (3) , mementukan kepadatan relatifnyadalam habitat tersebut; serta (4).memenpatkan  setiap individu ke dalam tiap habitatnya dan menentukan fungsinya. Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas, dapat diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitas tersebut. Biasanya semakin beranekaragam suatu komunitas, semakin tinggi organisasi dalam komunitas tersebut. Hal ini menunjukkan tingkat kedewasaannya sehingga keadaannya lebih mantap. Komunitas, seperti halnya tingkat organisasi makhluk hiduplain, juga mengalami serta menjalani siklus hidup[1].
               Dalam pertanian dan perkebunan, pemungutan produk suatu tumbuhan akan mengurangi zat hara tanah yang semakin lama semakin banyak. Oleh karena , pengirisan zat hara perlu dilakukan denan  pemupukan untuk memulihkan kembali kadar  zat hara dan juga meningkatkan hasil produksi. Pupuk buatan yang diptmi-dtlrm pemupukan dibuat melalui proses yang banyak menggunakan energi. Dengan kata lain bahwa pemupukan untuk meningkatkan  produksi diperlukin peningkatan pengisian energi[1].

4. Ekosistem
Tingkat organisasi yang lebih ringgi dari komuniras adalah ekosistem. Di sini tidak hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan, tetapi juga segala macam bentuk materi yang melakukan siklus dalam sistem itu dan energi yang menjadi sumber kekuatan bagi ekosistem. Sinar matahari rnerupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem yang oleh tumbuhan dapat diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Pembentukan jaringan hidup selanjutnya tentu saja bergantung pula pada kemampuan tumbuhan menyerap pelbagai bahan mineral dari dalam tanah, yang seterusnya diolah dalam proses metabolisme. Beberapa bagian jaringan hidup yang dibentuk, seperti daun, buah, biji, dan umbi dapar dimakan oleh karnivora. Kemudian hewan itu menjadi mangsa karnivoara yang lebih besar. Akhirnya, semua jaringan hidup, baik dari hewan maupun tumbuhan akan mati, jatuh ke tanah sebagai sampah dan menjadi bahan makanan bagi keanekaragaman miroba tanah. Sampah tumbuhan dan hewan ini diubah oleh mikroba tanah melalui prses pembusukan menjadi humus, serta diuraikan menjadi bahan mineral melalui proses mineralisasi. Jadi di dalam tanah dijumpai dua jenis mikroba, yaitu mikroba pembusuk dan mikroba pengurai. Berdasarkan uraian singkat di atas, tampak bahwa dalam sebuah sekosistem terdapat rantai makanan, yang secara umum dapat digambarkan pada gambar 39[1].
               Pada rantai makanan makhluk hidup dalam ekosistem dikumpulkan menjadi beberapa kelompok yang masing-masing mempunyai jarak transfer makanan tertentu dari sumber energi yang masuk ekosistem. -Tumbuhan yang dapat membentuk bahan organik dari mineral dan energi- matahari dengan proses fotosintesis merupakan komponen produsen dalam ekosistem. Makhluk
yang menggunakan bahan organik yang telah dibentuk oleh  produsen, merupakan komponen konsumen dalam ekosistem (lihat Gambar 2 dan 3). Masing-masing kelompok makhluk yang mempunyai jarak transfer makanan tertentu dari sumber energi, menempati suatu tingkatan trofik tertentu.  Tingkat trofik I berupa tumbuhan, tingkatan trofik 2 hewan herbivora, tingkatan
trofik 3 hewan kamivora kecir, dan seterusnya. Daram ekosis tem, biasanya tingkatan trofiknya tidak lebih dari 5. Konsep rantai makanan sangat praktis untuk membahas aliran dalamenergi ekosistem[1].




                             











                                                  Gambar 2. Rantai makanan[1]





















                    Gambar 3. Bagan perpindahan energi dan mineral di dalam ekosistem[1].

Namun, yang biasa dalam ekosistem yang sebenarnya  adalah hubungan saling  makan yang lebih komplek.  kalau hubungan yan saling memakan tadi disusun secara lebih lengkap, akan diperoleh jaring makanan. Kalai biomassa  dari setiap tingkatan tropik dinyatakan dalam perbandingan luas,
disusun muiai dari tumbuhan cli tenrpat paling bawah dan tingkatan trofik yang lebih tinggi di atasnya, akan terbentuklah sebuah piramida trofik  (disebut juga piramida makanan) seperti teriihat
pada Gambar 4[1].



















                  Gambar 4. Piramida makanan sebuah ekosisten, dinyatakan dalam biomassa[1]

Perhatikan bahwa  aliran energi tidak berupa berupa siklus, sedangkan mineral beredar merupakan siklus. Energi matahari yang dirubah menjadi energi kimia oleh tumbuhan yang berklorofil digunakan untuk membentuk jaringan hidup, atau ikatan kimia konplek, seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Hasil ini dalam ekologi dinyatakan dengan unit produksi fotosintesis kotor (gross photosyntetic producton) per luas tertentu.  Meskipun demikian hanya sebagian jaringan biomassa; yang lain melepaskan riiri, sebagian lagi tak terasimiiasi, dan sisanya hilang dalarn proses perirafasan. Efisiensi produksi (production efficiency) pada setiap tingkat makanan dinyatakan ilengan clerajat produksi -biomassa tersebut pada suatu tingkat dan dibagi oieh derajat produksi biomassa pada tingkat yang dimakannya (lihat Gambar 5). Derajat produksi (produktivitas) dalam ekosistem dinyatakan dalam satuan: berat (biasanya berat kering) atau kalori, karena berat makhluk kering kalau dibakar menghasilkan panas; Persatuan luas (m2 untuk unit kecil, ha atau km2 unti:k unit besar) per satuan waktu (hari atau tahun) [1].


















Gambar 5. Jaring -jaring makanan sederhana[1]

Dalam kegunaan praktis, derajat produksi sering diukur dalam kalori per meter persegi per tahun. Seperti dalam ilmu fisika, kimia dan ilmu lainnya, seorang yang mempelajari ilmu lingkungan sering berhubungan dengan  pengertian kadar, cepat perubahan jumlah (rate of change in number). Misalnya perubahan N sehubungan dengan waktu, dimana N dapat menyatakan jumlah penduduk dunia, atau penduduk Indonesia, ataupun jumlah hama wereng yang terdapat  di suatu sawah.
Dari serangkaian uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam kehidupan di muka bumi (biosfir), makhluk hidup tidak dapat berdiri sendiri, bergntung sama dengan lainnya dan lingkungan abiotik.  Daram ekosistem terjadi aliran energi dan siklus  materi. Sebagai sumber energi  awalah adalah matahari, sedangkan materi diubah dari bentuk senyawa atau ke bentuk senyawa lain dan pada hakikatnya tidak ada materi yang hilang dalam ekosistem bahkan di alam semesta ini. Energi pada masa purba tertangkap oleh tumbuhan berhijau daun dan tumbuhan itu (tumbuhan paku besar)  terkubur jutaan tahun menjadi batubara yang kini digali maiusia untuk sumber energi pabrik dan lainnya. Minyak bumi sebagai sumber energi  juga terjadi dari hewan bersel tunggal (protozoa) yang mendapat energi dari matahari  karena hewan ini makan tumbuh-tumbuhan berhijau daun yang bersel tunggal[1].
Apabila suatu ekosistem terganggu, dimana siklus materi dan transfer energi terpotong, maka komponen dalam ekosistem, termasuk manusia, akan terganggu pula sampai keseimbangan baru tercapai. Dalam  mencapai keseimbangan baru, terkadang suatu populasi akan tersingkirkan dari ekosistem atau dengan kata lain punah.
Ekosistem secara rinci dibedakan atas ekosistem darat dan ekosistem air, selanjutnya, dibedakan nienjadi ekosistem air tawar misalnya ekosistem danau, ekosistem sungai hulu, ekosistem air payau, misalnya muara sungai, tambak dan ekosistem air asin, misalnya ekosistem laut[1]. Faktor lingkungan, baik yang biotik maupun yang abiotik, selalu mengalami perubahan ini dapat terjadi secara tiba-tiba ataupun secara perlahn. manusiaa dengan pengetahuannya mampu  mengubah keadaan lingkungan sehingga  menguntungkan dirinya, guna  memenuhi kebutuhannya. Mula-mula perubahan itu dalam lingkup yang lebih kecil saja, pengaruhnyapun sangat terbatas. Pda zaman Neo-litikum, kira-kira 12.000 tahun lalu, nenek moyang kita dari berburu kemudian memelihara hewan buruannya. Dari manusia pemburu berobah menjadi manusia pemelihara. Dari manusia nomadis berobah menjadi manusia menetap. Mulailah perkembangan cara bercocok tanam[1].
Ekosistem yang kini terdapat cli sekitar manusia, merupakan suatu ekosistem yang baru diciptan, yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Suatu ekosistem manusia penuh dengan keanekaragaman tumbuh-tubhan, dan  hewan yang ditanami dan dipeliharanya. Mula-mula pengaruh manusia terhadap lingkungannya, dan keseleraaanya ini tidaklah terlalu besar. Alam masih sanggup membuat keseimbangang baru akibat perubahan yang dibuat oleh menusia. Namun apa yang terjadi kemudian sangatlah mencengangkan kita. Manusia, karena evolusi kebudayaannya melahirkan ilmu dan teknologi yang terdakadang sekalipun belum sepenuhnya telah digunakan secara luas, bukan hal yang mustahil justru menghancurkan kemampuan alam untuk memulihkan diri. Akibatnya, lingkungan tidak dapat lagi mendukung kehidupan, dan akhirnya berenti pula ,manusia sebabai penduduk bumi[1].
Dengan ilmu dan teknologi, kemampuan manusia untuk mengubah lingkungan semakin besar. Mulailah manusia melepaskan diri dari ketergantungan pada alam sekitemya. Dia merasa bahwa alama diciptakan untuk manusia dan karena itu maka alam haruslah ditaklukkan untuk kepentinnya. Dilain pihak kemajuan dalam bidang kebudayaan telah pula menambah kebutuhan manusia.  Mencari makan bukanlah sekedar lapar, berpakaian bukan sekedar untuk melindungi tubuh dari panas dan dingin, melainkan ingin menikmatinya, ingin yang indah-indah. Alat rumah tanggal semakin bermacam-macam. Semua diciptakan untuk kesenangan manusia. Diciptakan pula berbagai jenis alat angkut untuk memudahkan kehidupan. Di galinya berbagai jenis barang tambang, dibangunnya berbagai bendungan, pusat tenaga listrik untuk memudahkan hidup manusia. Dibakarnya beribu-ribu bensin, batu bara untuk menggerakkan pabrik  dan alat transporta dan rumit, semua itu demi kesenangannya[1].
Semakin tinggi kualitas lingkungan bagi didirnya,  jumlahnyaun semakin meningkat. Terlihat bahwa populasi manusia yang  berkembang  dengan pesat ini, didampingi oleh perubahan lingkungan yang terus-menerus. Akhirnya perlu mendapatkan perhatian dan tindakan,bersama yang terencana dan terkoordinasi sehingga janganlah sampai menjerumus ke arah yang dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Perlu juga diingat bahwa kita hanya punya satu Bumi dan bumi ini tidak pernah bertambah luas permukaannya. Bagaimanapun. pada suatu saat kapasitas tampung bumi ini akan mencapai titik maksimal[1].
Setiap makhluk hidup menginginkan agar rempat hidup nya memberikan keamanan dan menyenangkan. Semuanya demi untuk kelangsungan hidup bagi individu itu dan bagi jenisnya. Suatu ekosistem mempunyai stabilitas tertentu. Semakin besar keanekaragaman ekosistem, semakin besar stabilitasnya. Misalnya, hutan tropis yang terdiri dari beranekaragam tumbuhan atau hewan, walaupun tanpa perawatan tetap akan dapat melangsungkan hidupnya. Sebaliknya, suatu ladang atau sawah yang terdiri atas beberapa macam tumbuhan akan mempunyai stabilitas yang kecil[1].
Walaupun hutan dikatakan mempunyai stabilitas yang tinggi, tetapi kecil sekali memberikan daya dukung (carrying capasity) untuk kelangsungan cara hidup manusia.  Yang dimaksud dengan daya dukung ialah adanya unsur biotik dan aliotik yang dapat dimanfaatkan oreh manusia. oleh karena itu, manusia selalu berusaha menaikkan daya dukung lingkungannya. Dalam hal ini, kepada ekosistem tertentu diberikan energi. Energi tambahan yan diberikan kepada ekosistem itu disebut sebagai subsidi energi, isitilah ini dikemukakan oleh Adam (1971) [1].
Baik di kota maupun di desa, cenderung untuk dikatakan bahwa keanekaragaman makhluk hidup semakin kecil, dan dengan sendirinya daya stabilitas kora ataupun desa juga kecil. Akan tetapi, di desa terdapat lebih banyak keanekaragaman makhluk hidup, khususnya tumbuhan dan hewan. Namun, desa di negara kita masih mempunyai carrying capasity yang rendah jika dibandingkan dengan desa di negara maju[1].
Harus diakui bahwa di satu pihak T uhan telah menciptakan semua alam beserta isinya untuk manusia, tetapi dilain pihak manusia harus menggunakan potensi ini lebih efisien dan lebih bermanfaat.  Lingkungan hidup dapat memenuhi syarat kehidupan para penghuninya jika situasi dan kondisi lingkungan hidup itu dapat  disesuaikan dengan kebutuhan minimal para penghuninya. Kelvin Lynch dalam  bukunya Site Planning (1962) mengnigkan bahwa suatu kota harus menyediakan cukup fasilitas yang berupa perumahan, air, udara, cahaya, bebas dari gangguan kebisingan suara, dan tempat untuk menampung kegiatan sehari-hari tanpa meninggalkan segi estetika perkotaan. Maka, untuk menyediakan lingkungan hidup yang memadai kebutuhan hidup diperlukan perencanaan. Dalam perkotaan itu, harus dapat dianalisis kemungkinan yang dihadapi dalam jangka pendek dan menjangkau kemungkinan jangka panjang[1].
Semakin modern suatu masyarakat berarti semakin kompleks pola hidupnya dan semakin beranekaragam kebutuhannya. Berkat kemajuan teknologi, manusia lebih mendapat kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi semakin mencemari lingkungan hidupnya. Namun perencanaan untuk suatu lingkungan hidup tidak akan berjalan  jika penduduk untuk suatu lingkungan hidup sudahi menjadi terlalu banyak[1].
Penduduk yang padat pada suatu lingkungan hidup seringkali merusak estetika iingkungan hidup itu. Semakin banyak kenderaan bermotor, maka sangat diperlukan adanya taman yang menberikan suasana evergreen. Hal ini dapat dicapai dengan mengisi tanah  yang tidak  dipergunakan bangunan atau bentuk lain, dengan tumbuhan, sedangkan pada bagian yang lain perlu dibuat jalur hijau.  Pada umumnya  setiap negara memiiliki suatu tempat yang dijadikan kebanggaan negara itu karena memiliki keistimewaan yang khusus. Tempat itu terkadang memiliki keindahan yang luas biasa atau berupa peninggalan benda yang tidak ada duanya di dunia atau terdapat flora dan fauna khusus yang,   hanya ada ditempat itu, perlu dirawat dan dijaga kelestariannya. Tempat demikian disebut Taman Nasional (National Park). Misalnya Serengati National Park, Tanganyika National Park, de Furibus Berlgium, Laha Distric National Park,  Cumberland England, Riviera Zombouti. Lefin Reserva Congo, Kalahasi Ge-mabok National Park South Afrika, Yellowstone Niational Park USA, Kebun Raya Bogor-Indoncsia, dan lain-lain[1].
Taman Nasional ini umumnya menjadi daerah pariwisata untuk negara tersebut. Pendatang ke Taman Nasional selain dapat menikmati keindahan taman atau  mengagumi apa yang mencirikan tamau itu, juga melakun olahraga, memancing, berkuda, dan lain-lain sesuai dengan sarana yang tersedia. Apa yang diuraikan di atas adalah ciri-ciri contoh estetika lingkungan hidup makro, sedangkan ciri-ciri mikro ialah taman mini di setiap halaman rumah, tanaman hias, dan tanaman yang diatur, serta serasi dengan iingkungannya yang menggambarkan suatu estetika tersendiri[1].
Suasana yang indah dan tenang adalah hal yang didambakan oleh setiap manusia, tetapi semua itu amat sukar dilakukan jika penduduk dari daerah itu telah mencemari iingkungan hidupnya. Perumahan sulit untuk diatur baik bentuk ataupun suasananya. Air mungkin tidak mencukupi lagi kalau menjadi kurang sehat, udara rnenjadi kotor, dan cahaya matahari tidak lagi secerah yang diharapkar.  Kesadaran dan pengertian harus dijalankan dengan teratur. Semuanya akan lebih mudah bila jumlah tidak melebihi kapasitas tampung suatu lingkungan hidup yang penuh dengan daya pdukung terhadap makhluk  yang rnenghuninya. Fendek kata, bumi adalah placenta (ar-ari) kehidupan ,tidak ada tempat lain[1].





2. Macam Sumber Daya Alam
Bumi sampai saat ini telah menunjukkan kemampuannya untuk memberikan kehidupan bagi makhluk penghuninya. Hal ini disebabkan terdapat sumber daya alam yang dapat digunakan manusia untuk memenuhi keperluan hidupnya. Dari sekjan banyak sumber daya alam yang tersedia, kita dapat mengelompokkan menjadi dua golongan, yaitu sumber daya alam berupa makhluk hidup (sumber daya alam bioktik) dan sumber daya alam berupa benda tidak hidup (sumberdaya alam abiotik) [1].
Sumber alam biotik melipuii hewan liar maupun piaraan, hutan, dan tumbuhan lainnya. Sumberdaya alam ini memiliki sifat dapat memperbaharui diri sendiri, artinya dapat memperbanyak diri dengan cara berkembang biak. Oleh karena sifat tersebut, sumberdaya alam biotik sering pula dinamakan  renewable resources. Sumber alam abiotik tidak mempunyai kemampuan memperbanyak diri sendiri atau bertambah banyak, dan disebut non-renewable resources. Sebagai contoh sumberdaya alam  abiotik ini adalah, minyak bumi, barang tambang atau mineral seperti batubara, tembaga, nikel, dan lain-lain[1].
Sehubungan dengan sifat sumber daya alam tersebut, maka hendaknya manusia bijaksana dalam penggunaan, khususnya terhadap alam abiotik. Kita ketahui bahwa adanya sumber daya alam abiotik pada bumi ini terbatas. Sekali kita menghahiskan sumber daya alam tersebut, maka habislah sudah persediaan yang terdapat dalam kerak bumi. Dengan kata lain,  manusia harus menghemat persediaan sumber daya alam abiotik agar bumi lebih lama Iagi dapat mendukung kehidupan di permukaan Bumi ini. Apalagi kalau kita lihat bahwa kehidupan penduduk masih terus berlangsung schingga dengan sendirinya kebutuhan akan sumber daya alam terus akan meningkat pula[1].
Walaupun sumber daya alam biotik dapat memperbanri diri, tidak berarti manusia dapat mempergunakan surnber daya alam  biotik semena-mena. Kita tidak boleh menghabiskan tumbuhan,  hewan yang dapat kita pergunakan sebagai bahan makanan. Kita harus nemberi keseimpatan pada hewan atau tumbuhan untuk memperbarui atau memperbanyak diri. Sebab jika jenis (spesiesnya) hewan atau tumbuh-tumbuhan lenyap dari permukaan bumi, jangan harap jenis tersebut akan muncul kembali dikemudian hari. Semua ini mencerminkan keterbatasan sumberdaya alam yang terdapat di bumi ini[1].

3. Konservasi Surnber Daya Alam
Manusia mempergunakan sumberdaya alam baik biotik maupun abiotik, untuk mendukung kelangsungan hidup di planet bumi ini. Keperluan sumberdaya alam cendrung meningkatkat karena adanya dua fakktor utama: (1) adanya pertumbuhan penduduk yang pesat dan (2) karena perkembangan peradaban manusia yang memerlukan sumberdaya alam yang lebih banyak lagi. Akibat dari penggunaan sumberdaya alam yang tidak bijaksana, dalam arti tidak meinperhitungkan faktor lingkungan, timbullah masalah besar bagi manusia selidiri. Misalnya, erosi, banjir, polusi, dan punahnya spesies hewan atau tumbuhan tertentu dari permukaan bumi. Bil peristiwa itu berlangsung terus,  dikhawatirkan manusia akan ,menghabiskan sumber daya alam. Niscaya manusia tidak akan dapat bertahan hidup di Bumi[1].
Untuk itu  perlu adanya usaha yang bijaksana dengan tujuan agar sumber daya alam tersedia sebanyak- mungkin. Usaha ini kit  kenal sekaran g sebagai usaha Konservasi lingkungan. Konservasi lingkungan merupakan masalah besar bagi kita yang meliputi: konselvasi air, tanah, hutan, mineral, dan margasatwa. Konservasi air bertalian erat dengan konservasi tanah, dan bila kita berhasil mengatasi masalah air, kita sekaligus dapat pula mengatasi masalah tanah. Air, seperti kita ketahui, sangat diperlukan dalam kehidupan manusia sehari-hari maupun bagi makhluk lainnya.  Masalahhnya di sini bagaimana memanfaatkan air yang ada semaksimaksimal mungkin bagi keperluan manusia[1].
Masalah utama dari penggunaan dan pengontrolan air antara lain: (1) penyimpanan air sampai kita gunakan, (2) mengangkutnya sampai pada tempat manusia memerlukannya; dan (3 ) menhayakan manusia dan makhluk lainnya.
Air hujan yang jatuh dan mengalirnya air inilah yang menyebabkan terhanyutnya tanah permukaan Bumi. Dengan membuat sesedikit mungkin tanah yang gundul, maka bahaya erosi  dapat dikurangi. Tanaman rumput rnerupakan salah satu tanaman yang baik untuk mengikat tanah agar tetap tinggal di tempatnya. Alangkah baiknya jika jenis tanaman yang dipilih masih dapat dipergunakan manusia untuk hewan ternak. Lebih baik lagi jika lereng bukit dapat dihutankan dengan pohon kayu yang sekaligus dapat diambil hasilnya, dan di samping itu tanah menjadi subur
kembali berkat terjadinya kembang tanah (humus) [1].
Seperti sudah dikatakan bahwa konservasi air erat hubungannya dengan konservasi tanah. Usaha yang dipergunakan untuk mengawetkan atau mengontrol air antara lain dengan pembuatar/sodetan irigasi yang baik. Adanya erosi pada sepanjang aliran sungai yang menuju ke bendungan dapat menyebabkan tumpukan lumpur di bendungan tersebut. Hal ini mempercepat pendangkalan sehingga mengurangi kapasitas tampungnya. Untuk mencegahnya, diperlukan penanaman di sepanjang aliran sungai tersebut. Sebagai gambaran, dikemukakan bahwa setiap tahunnya sungai Citarum mengangkut 3 juta ton lumput dari hulu sungai. Dan, di bendungan Hover, Amerika Serikat setiap harinya masuk lumpur 700  ribu ton. Ini menggambarkan erosi di sipenjang aliran sungai tersebut[1].
Pada saat ini, jumlah penduduk meningkat di desa, sehingga mendorong mereka untuk mendaki lereng gunung, membabat hutan, dan menanami dengan tumbuhan bahan pangan. Bahaya
kekurangan air dan timbulnya erosi serta banjir merupakan salah satu akibat dari pembabatan hutan-hutan tersebut. Luas hutan produksi di pulau lawa (1972) seluas 1908.600 ha, di antaranya seluas 761.000 ha adalah hutan jati. Setiap hektar hutan jati tersebut dapat menghasilkan lk 3.juta m3/tahun. Namun, karena adanya pembabatan yang terus menerus, tanpa adanya penanaman kembali, potensi ini terus-menerus turun dan mencapai  761.000 m3/tahun, kira-kira menurun  60 %. Dewasa ini, keperluan kayu di Jawa, tidak dapat terpenuhi  kayu dari luar pulau Jawa. Pengolahan hutan pada saat ini sedang giat dilakukan di Kalimantan dan Sumatra dan menghasilkan devisa  cukup banyak bagi negara. Sekai  lagi, apabila pengolahan hutan tidak dibarengi dengan penanaman kembali, niscaya pada waktu yang tidak lama lagi timbul bahaya seperti banjir dan lain-lain[1].
Pengawetan hutan sebenarnya erat hubungan dengan perlindungari margasatwa yang hidup di hutan tersebut. Hewan liar mulai berkurang karena adanya perburuan yang liar. Jumlah spesies hewan yang hanya terdapat di Indonesia diadakan suaka margasatwa. Suaka margasatwa terdapat di Ujung Kulon, Pandandaran, Baluran, dan masih banyak tempat lainnya. Pengurangan jumlah populasi hewan tertentu mungkin perlu dilakukan untuk mancapai keseimbangan antara jumlah hewan dengan makanan yairg tersedia[1].

4. Pertumbuhan Fenduduk dan Sumber Daya Alam
Penduduk Bumi pada tahun 1975 diperkirakan berjumlah 3967 juta, tahun 1991 berjumlah 5 miliar, dan pada tahun 2000 diperkirakan mencapai 6253 juta jiwa. Pertambahan penduduk yang pesat tersebut sudah dapat dipastikan akan meningkatkan keperluan sumber daya alarn bagi manusia. Sampai saat ini, hampir di seluruh bagian Bumi telah banyak ditemukan sumber daya alam mineral, dan bahan tambang lainnya. Bahkan, masih terus dilakukan eksplorasi di beberapa bagian Bumi ini. Untung bagi suatu negara yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah seperti minyak bumi, tembaga, bijih besi,  nikel, mangan, dan sebagainya. Kekayaan sumber daya alam tersebut akan memungkinkan negara ini kuat dalam ekonomi maupun politik[1].
Namun, pada kenyataannya, tidak semua negara memiliki kekayaan sumberdaya alam yang sama. Hal ini disebabkan antara lain karena penyebaran sumberdaya alam di bumi tidak merata. Disamping itu  jumlah pendudukk suatu negara dan kemampuan teknologi yang dimilikinya turut mempengaruhi kemakmuran suatu negara. Cepat atau lambat habisnya sumber duya alam tersebut tergantung pada jumlah pemakaianya, yaitu penduduk Bumi ini[1].
Marilah kita tinjau secara sepintas beberapa sumber daya alam  yang selama ini telah dapat dimanfaatkan bagi keseiahteraan manusia. Sumber daya alam  tumbuhan dapat berupa tumbuhan yang dibudidayakan seperti perkebunan, pertanian maupun  tumbuhan yang dapat dimamfaatkan sebagai obat-obatan.
Kita masih dapat mempertahankan hutan, asalkan kita dapat mengatur hutan sebagai  kebutuhan kita. Apalagi pada saat ini, keperluan manusia dari hutan terus eniggkat sehubungan dengan adanya pertumbuhan penduduk di dunia, maka hutan akan menyusut[1].
Masalah pangan menjadi penting di samping masalah kehidupan lainnya pada saat ini. Para ahli di dunia masih berusaha agar pangan dapat mencukupi kebutuhan manusia, baik dengan cara ektensifikasi, intensifikasi pertanian maupun mencari sumber pangan baru. Laut dan kekayaannya pada saat ini menjadi obyek penelitian dalam pencarian sumber makanan baru. Laut menjadi sasaran baru pencarian sumberdaya mineral yang mungkin terdapat di dasarnya[1].

5. Macam Polusi dan Bahayanya
Di suatu pihak, manusia telah rnenikmati sumbangan teknologi yang telah berhasil menunjang kehidupannya, sedangkan dipihak lain manusia telah pula mengalami akibatnya. Akibat tersebut, bersama-sama dengan adanya peledakan penduduk, telah meninbulkan krisis lingkungan manusia. Salahsatu bentuknya  ialah timbulnya polusi atau pencemaran lingkungan manusia dengan berbai akibatnya[1].
Akibat darui krisis lingkungan ini jelas tampak pembgaruhnya bagi kesehatan manusia. Penyebab polusi (pollutant) masuk ke tubuh kita melalui udara  yang kita hirup, makanan yang kita makan sehari-hari dan suara yang kita dengar. Semua polusi tersebut jelas mempunyai pengaruh langsung pada kehidupan manusia. Disamping itu, terus mempengaruhi lokasi yang tidak langsung, yaitu pengaruh terhadap ekosistem yang sangat konplek. Pollutant dapat digolongkan ke dalam dua golongan, bersifat kuantitatif (quantitative pollutant ) dan bersifat kualitatif (qualitative pollutant) [1].
Substansi yang secara alamiah terdapat di alam lingkungan, tetapi jumlahnya menjadi meningkat  karena adanya  kegiatan manusia dinamakan polutan yang bersitat kuantitatif. Sintesis yang dihasilkan oleh adanya kegiatan hidup. manusia kita sebut pollutan yang bersifat kualitatif. Contoh pertama ialah di alam kini sudah terdapat berbagai unsur seperti karbon, nitrogen dan fosfor dalam siklus yang berlangsung terus menerus. Namun karena kegiatan manusia, unsur tersebut menjadi bertambah sehingga kemungkinan besar siklusnya pun akan terganggu. Contoh yang kedua misalnya, adanya subtansi sintesis buatan manusia, seperti pestisida, deterjen, dan lainnya yang masuk lingkungan hidup manusia[1].
a. Polusi Udara
Pada saat ini,  masalah polusi udara telah menimbulkan kekhawatiran banyak penduduk, terutama yang tinggal di kota besar dan daerah indeustri, bahkan ahli antropolgi mengatakan bahwa polusi udara tidak hanya meliputi kota besar, tetapi polusi udara telah meliputi ke seluruh atmosier bumi kita. Lapisan oksigen  tipis yang menyelimuti permukaan Bumi mulai rusak karenaadanya polusi udara. Polusi udara menjadi penyebab logam cepat berkarat dan menyebabkan kerugian besar pada panen hasil pertanian[1].
Polusi udara mempunyai sumber  yang beraneka ragam . Dari kenderaan bermotor dikeluarkan polutan ke udara dalam bentuk gas: karbon monoksida (CO), nitrogen oksida, belerang oksida,  hidrokarbon, dan partikel padat. Semua ini hasil  pembakaran bahan bakar kenderan jumlah bermotor yang menyebabkan semakin banyak   jumlah polutan yang dihasilkan ke udara. Sebagai gambaran disini, telah dikemukakan di Amerika Serikat bahw pada tahun  60-an, terdapat 90 juta kenderaan bermotor yang setiap tahunnya mengeluarkan ke udara 66 juta ton CO, 1 juta ton belerang hidroksida, dan 1 juta bahan lain termasuk juga partikel padat.  Disamping itu, masih terdapat lagi sumber polusi udara, misalnya pabrik besi baja, penyulingan minyak bumi, dan pabrik
petrokimia[1].
Menurut data yang diperoleh dari penelitian menunjukkan bahwa polusi udara telah banyak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan lebih jauh lagt  telah banyak menimbulkan kematian. Apa sebenarnya akibat dari polusi udara terhadap kesehatan manusia itu, marilah kita teliti lebih lanjut mengenai polutan dan efeknya terhadap tubuh manusia[1].
Karbon monoksida dapat menyebabkan pekerjaan darah (butir darah merah) atau hemoglobin terganggu. Fungsi hemoglobin yang ada pada butir darah nrerah untuik mengikat oksigen dan mengedarkannya ke seluruh tubuh menjadi terganggu karena teriikatannya CO2 pada hemoglobin.  Akibatnya, tubuh akan  mengalami kekurangan oksigen yaitu sangat vital sehingga jantung dan paru-paru  akan bekerja lebih keras lagi untuk  memberikan oksigen. Pengaruhy ini cukup terasa akibatnya bagi penyakit jantung dan paru-paru[1].
 Jika seseorang tinggal pada suatu tempat dengan mengandung 80 per juta bagian CO, kapasitas sistem peredaran darah untuk mengikat oksigen akan berkurang lk 50%. Hal ini sama halnya dengan yang terjadi bila seseorang kehilangan darah sebanyak 0,57 liter. Gejala seperti pusing, daya penglihatan  berkurang, sakit perut, dan menurunnya koordinasi otot banyak dialami para pengemudi kendaraan bermotor. Apabila seseorang sering mengalami keadaan seperti itu, akibat selanjutnya dapat timbul keadaan tidak sadarkan diri dan bahkan pada akhirnya meninggal. Gas itrogen oksida mempurryai pengaruh sama seperti gas karbon monoksida, yaitu  mempenqaruhi kemampuran dalam menqikat  dan mengangkut oksigen[1].
Belerang dioksida banyak menimbulkan penyakit  pada pada saluran pernapasan, misalnya, asma, bronchitis yang sering diikuti dengan timbulnya emphysema, di mana alveoli cenderung menjadi  bersatu sehingga memperkecil permukaannya. Kemudian, diikuti dengan menyempitkan cabang-cabang bronkhioli yang akan mengurangi laju pertukaran gas CO2 dan O2[1].
Malapetaka terbesar pernah terjadi di beberapa kota terbesar di dunia. Di Genewa, Pensylvania, yang terletak dilembah dan tebing yang curam, pada  tahun 1948 telah terjadi malapetaka yang menyebabkan matinya 15 orang pria dan 5 orang wanita serta 6.000 orang menderita sakita saluran pernapasan. Peristiwa yang terjadi disebabkan asap dari indusrti di kota tersebut bersama dengan kabut terhalang untuk keluar lembah oleh adanya lapisan udara panas yang menyelimuti kota tersebut. Peristiwa yang sama, pernah terjadi di Kota London pada tahun 1952 yang menimbulkan kematian sebanyak 4.OO0 orang, di Belgia pada tahun 1930 dan di Meksiko pada tahun 1950[1].

b. Polusi Air dan Tanah
Polutan sebagai hasil kegiatan hidup manusia dapat juga mencemarkan air dan tanah. Di sini, sukar untuk membicarakan jenis polusi tersebut secara terpisah karena keduanya erat sekari. Bila jumlah penduduk suatu negara berkembang jumlahnya maka, perindustrian pun berkembang, sehingga masuklah banyak polutan ke sistem perairan, yang  antara lain adalah detergen, asam belerang, dan banyak lagi substansi kimia. Begitu pula dengan peningkatan produksi pertanian untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk, semakin banyak Iagi polutan dihasilkan seperli: pestisida, herbisida, dan nitrat. Akibit seIanjutnya tidak hanya terjadi pada sungai, danau, dan sepanjang pantai laut, tetapi yang lebih terasa polutan tadi telah masuk ke air anah[1].
Polusi air didalam tanah karena polutan tertentu dapat membinasakan mikro-organisma  yang,  terdapat pada tanah dan perairaan yang sumbernya mempunyai peranan penting dari siklus materi pada suatu ekosistem. Sebagai gambaran disini dikemukakan, pada 1 gram tanah pertanian yang subur terdapat 2,5 milyar bakteri, 400.000 fungi, 50.000 algae dan 30.000 protozoa. Kesuburan suatu tanah ditentukan oleh proses fisik dan kimia yang komplek dari makhluk tersebut[1].
Dari daerah  pertanian, banyak digunakan pupuk dan pestisida yang telah mencemari perairan dan hasil pertanian itu sendiri. Nitrat akan membahayakan bila telah diubah menjadi nitrit. Perubahan ini terjadi dalam sistem peredaran darah dimana akan terikat dengan hemoglobin sehingga fungsi hemoglobin terganggu. Seorang bayi yang mengalami hal  tersebut akan sulit bemapas, yang berakhir dengan kematian. Bahaya polusi nitrat ini akam semakin besar jika banyak pupuk nitrogen yang digunan untuk meningkatkan hasil pertanian[1].
Pestida  meliputi fungisida, herbisida, insektisida, fumigan dan rodentisida. Secara kikiawi, insektisida digolongkan menjadi dua  golongan besar;  hidrokarbon chlorida (Chlorinate hidrocarbon) misalnya DDT, endrin, aldrin, dan lainnya, serta fosfor organik, seperti parathion, malathion dan  Iain-lain. Sisa pestisida dalam tunah dapat  menimbulkan banyak masalah pertanian. Pengaruh ini tampak pada tanaman yang ditanam  pada masa berikutnya, atau dapat membinasakan mikro-organisme tanah. Sisa-sisa pestisida terbesar disebabkan oleh penyemprotan atau penggunaan  langsung dari tanah. Aldrin masih dijumpai dalam tanah setelah 4 tahun sejak dipergunakan, baik dijumpai dalam jumlah kecil,  maupun  dalam jumlah banyak. Beberapa insektisida masih dapat ditemukan dalam di tanah selama 11 tahun sejak pemakaiannya. Pemakaian insektisida dalam ukuran sedang dalam tanah, misalnya, pemakaian 1 kg DDT per ha secara berulang-ulang akan mengakibatkan penumpukan DDT tersebut, misalnya pada kebun kebun kentang pada satu musim tanam (4-5 bulan)  daput mencapai 14-23 kg/ha. Keadaan tanah dengan bahan organik  tinggi akan menyebabkan lebih lama lagi insektisida tersebut tersebut tinggal dalam-tanah dibandingkan dengan tanah pasir atau tanah liat. Dan tanah kering akan menyebabkan lebih lama tertahannya suatu insektisida daripada tanah basah. Demikian pula mempercepat insektisida tersebut terurai[1].
Sisa-sisa insektisida pada penguraian dapat  sampai pada manusia melalui air yang diminum, tetapi konsentrasinya pada umumnya dibawah tingkatan yang beracun. Bahaya-bahaya utama dari sisa-sisa insektisida hidrokarbon chlorida adalah bahaya terhadap rantai makanan pada suatu ekosistem. DDT yang terdapat pada satu tahun, misalnya dihisap secara selektif oleh plankton yang akan dimakan oleh ikan kecil, yang akan dimakan oleh ikan lebih besar. Konsentrasi ini sering pula disebut sebagai niological magnification. Hal ini terjadi karena sifat DDT tersebut yang stabil dan larut pada lemak sehingga mempunyai kemungkinan yang besar sekali untuk pindah dari suatu lingkungan abiotik (fisik) menuju ke tubuh suatu makhluk hidup[1].
 Insektisida secara tidak langsung dapat menimbulkan kanker. Terlebih dahulu jaringan rusak karena adanya timbunan DDT yang banyak sehingga fungsi jaringan tidak baik lagi untuk menyaring bahan penyebab kanker (Carcinogen) yang masuk melalui makanan. Susunan syaraf manusia dapat terkena akibat adanya DDT dalam tubuh, yaitu di susunan syaraf pusat. Gejalanya mungkin dapat muncul sebagai kelelahan, gatal-gatal, kejang dan sampai timbul kelumpuhan[1].
Jenis polusi yang dijumpai pada negara yang sudah berkembang maupun yang sedang berkembang ialah adanya bahan plastik. Pada saat ini, telah banyak alat rumah tangga dan bahan pembungkus dari plastik. Bila bahan tersebut dibuang hegitu saja, ia  tidak dapat terurai sehingga akan mencemari perairan maupun tanah lingkungan hidup kita. Botol dan kaleng bekas juga merupakan sampah yang dapat merusak lingkungan kita[1].

c. Polusi Suara
Kebisingan yang berlangsung sehari-hari terutama di kota-kota besar, dengan berkembangnya teknologi dan pertumbuhan penduduk yang pesat diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam waktu 20 tahun mendatang. Seperti halnya suhu kuat lemahnya suara dapat diukur pula yaitu digunakan satuan decibel (db). Misyalnya suara percakapan biasa berkekuatan 60 db, dan bila meningkat menjadi keributan tercatat sebesar 80 db, kereta api sebesar 95 db, pesawat jet yang sedang take of sebesar 150 db dan petir atau halilintar 120 db[1].
lS2 llmu Alamiah Dasar
Peneitian telah dilakukan untuk mengetahui sampai dimana pengaruh suara terhada organ tubuh manusia. Akibatnya yang  dapat timbul ialah hilangnya daya pendengaran secara permanen bila seseorang mendengar suara dengan kekuatan yang tinggi. Suara dengan tingkatan suara 50-55 db menunda seseorng tidur dan merasa lelah bila orang itu bangun kembali. Suara dengan kekuatan 90 db dapat berpengaruh terhadap syaraf  otonom (syarat tidak sadar) dengan gejala perubahan tekanan darah, denyut nadi, kontraksi perut dan usus, sakit perut dan lain-lain[1].
Selama tahun 1968 dan 1969, telah tercatat bahwa orang yang masuk rumah sakit jiwa di London lebih banyak dari daerah dekat lapangan terbang Heathrow dibandingkan dengan daerah
lainnya yang kurang terganggu oleh suara bising pesawat terbang. Akibat dari polusi suara ini menjadi seaakin mencemaskan setelah diketahui adanya beberapa pemuda yang mulai kehilangan daya pendengarannya yang disebabkan musik rock di Amerika Serikat[1].
Pada saat ini, kehidupan di kota, terutama di kota besar dan daerah industri, terancam karena adanya berbagai jenis polusi. Hal ini disebabkan kemajuan teknologi yang pesar pada abad ke-20 ini. Kemajuan teknologidi satu sisi menguntungkan, tetapi di sisi lain mempunyai efek negatif[1].
Pencemaran fisik tidak semata-mata karena manusia mengeksplorasi lingkungan fisik. Pada hakikatnya, benruk pencemaran yang ada adalah karena adanya pencemaran moral. Moral  yang menjadi dasar terjadinya pencemaran yang bersifat fisik. Untuk menanggulangi pencemaran secara menyeluruh, harus dilakukan perbaikan terhadap pencemaran moral dan mengembalikan sifat mental manusia terhadap pengenalan dan pemahaman
kembali seluruh nilai-nilai yang terkandung dalam hubungan manusia dengan lingkungannya[1].
               kebangkitan materialisme, renaisance, raionalisme, kapitalisme serta pemujaan terhadap hasil-hasil ilmu pengetahuan teknologi tidak akan memecahkan persoalan jika manusia tidak kembali kepada kebenaran mental dan moral. Apapun revolusi yang dilakukan tidak akan memecahkan persoalan, kecuali manusia kembali ke hakikat manusia yang serasi dengan hukum kelestairn lingkungan hidup.*



[1] Maskoeri Jasin.2013.Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Raja Grafindo  Persada, 256 hal, 159 -194


No comments:

Post a Comment