Baca Selengkapnya »

PERINGATAN 30 TAHUN LEDAKAN PLTN CHERNOBYL


Tulisan Dr.Ir.Hamzah Lubis,SH.,M.Si berjudul : Peringatan 30 Tahun Ledakan PLTN Chernobyl telah dimuat pada SK. Perestasi  Reformasi di Medan, No.494 , tanggal 6 Juni 2016, hal.6 Kol.1-7 

                                   Hamzah Lubis, Bsc.,Ir.,SH.,M.Si,D
        *Dewan Daerah Perubahan Iklim Provsu *Mitra Baharai Provsu *Komisi Amdal Provsu   
     *Komisi Amdal  Medan *Pusat Kajian  Energi Terbarukan-ITM  *HAM KOMNAS HAM-RI 
                 *KSA XLII/1999 LEMHANNAS *aktifis hukum/ham/lingkungan/pendidikan












“Dan bila dikatakan kepada mereka janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab : sesungguhnya kami orang-orang  yang mengadakan  perbaikan. Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS. Al-Baqarah 11-12).


Tidak terasa, kecelakan nuklir terburuk dalam sejarah, telah diperingati ke-30.  Reaktor nuklir  Vladimir Ilyich Lenin atau Chernobyl di Ukrania, 26 April 1986 meledak.            Selasa, 26 April 2016 lalu, menandai tiga puluh tahun kecelakaan PLTN Chernobyl. Demikian juga peringatan ke-lima, kecelakaan reaktor nuklir Fukushima Daiichi, Jepang, tepatnya 11 Maret 2011 lalu.
Kecelakaan reaktor nuklir Chernobyl,  dipicu kecerobohan saat tes keamanan yang berjalan kacau, berujung ledakan dan tersebarnya awan radioaktif ke seluruh Eropa. Kecelakaan itu menandakan dan kegagapan negara super power USSR menanganinya. Misalnya perintah evakuasi sangat terlambat, baru diberikan setelah 36 jam setelah peristiwa terjadi.
                Sebanyak 31 orang tewas seketika dan  puluhan ribu orang terpaksa mengungsi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasi jumlah total korban yang tewas karena penyakit yang berhubungan dengan radiasi seperti kanker mencapai 9.000 orang. Namun organisasi pencinta alam Greenpeace mengutip riset seorang peneliti Belarus, memperkirakan jumlah korban tewas akibat kanker mencapai 115.000 orang. Padahal, penyakit terus mengancam warga di zona terlarang yang mengkonsumsi makanan dan minuman dengan tingkat radiasi tinggi.
                PLTN Indonesia
Hingga kini, Indonesia sudah mengoperasikan tiga reaktor nuklir. Reaktor nuklir Trigamark  di Bandung sejak tahun 1965, Reaktor nuklir Kartini di Yokyakarta sejak tahun 1978 dan Reaktor nuklir GA.Siwabessy di Serpong sejak tahun 2006. Ketiga reaktor nuklir ini berkapasitas kecil dan digunakan untuk kepentingan riset.
Indonesia, tidak lama lagi akan memiliki reaktor nuklir daya untuk pembangkit listrik komersial (PLTN). Menurut rencana PLTN pertama berkapasitas  4x1,1 gigawatt – 1,5 gigawatt atau total sekitar 5 gigawatt. Ada beberapa opsi lokasi pembangkit, yakni Pulau Bangka yang telah dilakukan studi kelayakan, Kalimantan Barat, Kalimantan  Timur atau Pulau Batam.
Keamanan Reaktor Nuklir  
Menurut Dirjen IAEA Yukiya Amano pada saat memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Depok, 23 Januari 2015 lalu mengatakan bahwa reaktor nuklir: “Tidak ada yang 100 persen  aman. Namun, IAEA (badan tenaga atom internasional) berusaha meminimalkan  dampak nuklir semaksimal mungkin”.  Semakin tingginya kesadaran lingkungan, menyebabkan sejak tahun 2006, produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir stagnan. Hal ini diperparah kecelakaan di Pltn Fukushima Daiichi, Jepang yang memicu penutupan PLTN dan penundaan pembangunan PLTN baru. Hal ini dikatakan Direktur Jenderal Asosiasi Nuklir Dunia (WNA) Agneta Rising pada pembukaan Forum Internasional AtomExpo 2015, di Moskowa, Rusia, Senin, 1 Juni 2015.
Demikian juga fisikawan L. Wilardjo menyatakan bahwa reactor nuklir fisi (tipe apapun) menyisakan limbah yang sangat radioaktif, diantaranya ada yang berumur panjang. Lagi rupa reaktor ini rentan terhadap musibah pelelehan teras dan sindroma China, seperti yang telah terjadi di Three-Mile Insland, Harrisburgh Pensylvenia Amerika; di Chernobyl (Kiev, Ukrania), dan di Fukushima (Jepang).
Penolakan PLTN
Sonny Keraf, mantan Menteri Lingkungan Hidup-RI,  anggota Dewan Energi Nasional (DEN) unsur pemangku kepentingan bidang lingkungan, menyatakan bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, nuklir merupakan alternatif energi terakhir untuk pemenuhan kebutuhan energi. Jika pemerintah tetap mendorong pengembangan PLTN, sedangkan potensi sumber energi lain masih melimpah, pemerintah melanggar kesepakatan PP yang juga melibatkan DPR.
                Menurut Sonny, yang seharusnya mendapat prioritas pengembangan adalah sumber energi baru dan terbarukan karena potensinya masih sangat besar dan ramah lingkungan. Sumber energy itu antara lain: air menyimpan potensi 75 gigawatt (GW), matahari (112 GW Peak), panas bumi (28,8 GW), angin (950 GW), biomassa (32 GW), bahan nabati atau biofuel (32 GW), dan energy arus laut (60GW).
 Sonny Keraf juga menilai pemerintah tak transparan tentang rencana pembangunan PLTN. Pembangunan reeaktor daya eksprimental di kompleks Batan di Serpong, Banten, tidak disosialisasikan. Padahal sekalipun berdaya 10 Megawatt, dampak yang ditimbulkan sama dengan reaktor nuklir berskala besar.
 Pada sisi lain, pengembangan energi baru dan terbarukan bisa membangkitkan kemandirian bangsa. Sebab, melibatkan lebih banyak masyarakat dalam produksinya.”Jika pembangunan PLTN, orang yang terlibat sedikit dan sebagian besar asing, sedangkan biofuel dan biomassa misalnya, bisa melibatkan banyak petani untuk menanam tanaman sumber energy”,ujar Sonny.
                Menurut Nengah Sudja,  pembangunan PLTN membutuhkan biaya yang sangat besar dan biaya akan terus bertambah dari tahun ke tahun untuk pemeliharaan dan terutama mengolah limbah yang sangat berbahaya. Biaya pembangunan PLTN berkapasitass 1.000 Megawatt dapat digunakan untuk mendirikan  4 hingga 5 pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara dengan daya yang sama. “Yang murah dari PLTN hanya biaya bahan bakar. Itupun belum mempertimbangkan biaya pengolahan material dan pengolahan limbahnya”.  Menurutnya, Indonesia tidak perlu dan tidak siap membangun PLTN. Banyak sumber energy lain yang dapat dikembangkan, terutama untuk mendukung energi terbarukan.
                Demikian juga pengamat nuklir, Iwan Kurniawan, menyebutkan, stok torium (sumber bahan bakar nuklir) di Bangka Belitung tidak seolah-olah langsung diambil dan dimanfaatkan. Torium juga perlu diolah hingga dapat menjadi bahan bakar reaktor. Hingga kini, belum ada negara yang menggunakan Torium untuk reaktor komersial. Meski dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan uranium, torium bersifat radioaktif sehingga tetap berbahaya..1-2).
                Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, 25 Mei 2015 menyatakan: ”Dengan PLTN kita akan bergantung luar negeri karena belum ada industri nasional berpengalaman”. Karena beresiko tinggi, industri  yang terlibat dalam pembangunan PLTN harus yang sudah berpengalaman, sedangkan Indonesia belum ada perusahaan nasional yang terlibat. Ia mencontohkan untuk bejana reactor saja, hanya ada 2-3 perusahaan saja di dunia yang mampu membuat, salahsatunya adalah Nippon Steel and Sumitomo Metal.
                Demikian juga tentang bahan bakar nuklir berupa uranium-pun hanya dikuasai 4-5 perusahaan di dunia.  Bahkan pengisian bahan bakar setiap 18 bulan, pengolahan limbah dan transportasi bahan bakar sama sekali tidak ada perusahaan nasional yang memiliki kualifikasi. ”Dengan demikain karena sepenuhnya bergantung asing, nawacita Presiden Joko Widodo tentang kemandirian bangsa tidak tercapai jika membangun PLTN”, ujarnya.
Belajar dari Pengalaman
Bila pada pembukaan tulisan ini, penulis menampilkan pengalaman negara adidaya USSR, maka pada penutup tulisan ditampilkan pengalaman Jepang sebagai negara maju dengan teknologi modernnya. Kecelakaan nuklir Fukushima Daiichi, Jepang,  11 Maret 2011 lalu, telah merusak catu daya darurat yang menyebabkan kegagalan sistem pendingin. Akibatnya terjadi pelelehan teras reaktor dan memicu kecelakaan nuklir terburuk sejak bancana nuklir Chernobyl. Radiasi meluas ke wilayah barat laut Fukushima Daiichi, memaksa 140.000 orang yang tinggal di tujuh kota dalam radius 20 km dari pusat bencana mengungsi.
 Jajak pendapat setelah insiden Fukushimaa memperlihatkan, lebih dari 80 persen rakyat Jepang tidak lagi percaya kepada kemampuan pemerintah mengelola energi nuklir. Dampak yang menyertainya memicu perdebatan panjang tentang pemanfaatan energy nuklir di Jepang.  Akhirnya, rakyat mendesak pemerintahan Perdana Mentri Naoto Kan menutup 54 reaktor di seluruh Jepang. Buku putih tentang kebijakan energi yang dikeluarkan pemerintah menyebutkan:”Kepercayaan publik pada keamanan energi nuklir rusak karena insiden Fukushima. Pemerintah menyesali hal itu dan akan melakukan evaluasi menyeluruh”. Buku putih tersebut juga menyerukan agar Jepang mengurangi ketergantungan pada tenaga nuklir.
Satu persatu, reaktor nuklir Jepang dipadamkan, dihentikan sementara untuk diperiksa atau untuk perawatan. Pada akhir Oktober 2011 tinggal 10 reaktor yang beroperasi. Saat reaktor Tomari-3 dipadamkan untuk perawatan  bulan Mei 2012, Jepang untuk pertama kali tidak menggunakan listrik yang diproduksi dari PLTN sejak tahun 1970. Reaktor Tomari-3 sempat dioperasikan kembali selama 1,5 tahun sebelum kembali dipadamkan pada tahun 2013.
Penutup
Ketika Olexsandra, pengungsi korban Chernobyl memasuki zona terlarang, di Kiev, Ukrania, 30 tahun kemudian, ia menemukan surat kabar Soviet pada bangku taman tertanggal 24 Januari 1986, empat bulan sebelum bencana terjadi. Di halaman muka koran terlihat berjudul “Katakan Tidak pada Ujicoba Nukir”.  Tentu, bila di Indonesia sekarang ini, ada orang berpendapat dan dimuat media menyebutkan “Katakan tidak pada PLTN”, tentu kita berharap kejadian di Chernobyl tidak terulang di Serpong, Kalimantan, Batam, Bangka dan tempat lain di Indonesia. Namun penyesalan selalu datang terlambat. Semoga….




 

Baca Selengkapnya »

AIR SUMBER KEHIDUPAN

Tulisan Dr.Ir. Hamzah Lubis, SH.,M.Si   berjudul "Air Sumber Kehidupan"   ini telah  telah  dimuat  pada Tabloit Mingguan NU News di Medan edisi Minggu ke- 2 Oktober 2011 

Hamzah Lubis, Bsc.,Ir.,SH.,M.Si,Dr
*Dewan Daerah Perubahan Iklim Provsu *Mitra Baharai Provsu *Komisi Amdal Provsu
*Komisi Amdal  Medan *Pusat Kajian  Energi Terbarukan-ITM *Jejaring HAM KOMNAS HAM-RI
*KSA XLII/1999 LEMHANNAS *aktifis hukum/ham/lingkungan/pendidikan
Description: C:\Users\Hamzah\Pictures\MP Navigator EX\2016_12_20\IMG_0011.tif
Baca Selengkapnya »

ECO-RELIGION

Tulisan Dr.Ir. Hamzah Lubis, SH.,M.Si, berjudul:  "ECO-RELIGION"  ini telah  telah dimuat  pada Tabloit bulanan NU News  di Medan  edisi Minggu-1 September 2011 
Hamzah Lubis, Bsc.,Ir.,SH.,M.Si,Dr
*Dewan Daerah Perubahan Iklim Provsu *Mitra Baharai Provsu *Komisi Amdal Provsu
*Komisi Amdal  Medan *Pusat Kajian  Energi Terbarukan-ITM *Jejaring HAM KOMNAS HAM-RI
*KSA XLII/1999 LEMHANNAS *aktifis hukum/ham/lingkungan/pendidikan


Baca Selengkapnya »

ISLAM DAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

Tulisan Dr.Ir. Hamzah Lubis, SH.,M.Si berjuduk:  ISLAM DAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP  ini telah  telah dimuat  pada Tabloit bulanan NU News di Medan, Minggu-1 Agusus 2011 (Penyunting).



Baca Selengkapnya »

MENCARI BUMI BARU, PLENET MANUSIA UFO

Tulisan Dr.Ir. Hamzah Lubis, SH.,M.Si:  MENCARI BUMI BARU, PLENET MANUSIA UFO  ini telah  telah dimuat  pada Harian Bukit Barisan di Medan tahun 1980-an (Penyunting).


Baca Selengkapnya »

LINGKUNGAN HIDUP

Tulisan Dr.Ir. Hamzah Lubis, SH.,M.Si:  LINGKUNGAN HIDUP    ini telah  telah dimuat  pada Tabloit bulanan Saintek-ITM  di Medan  edisi bulan Maret 1996 (Penyunting).




Baca Selengkapnya »