Pengolahan Limbah Cair PKS


SISTEM  PENGELOLAAN  LIMBAH  CAIR
PABRIK KELAPA SAWIT “LCPKS”

LCPKS :                   
seluruh bentuk produksi dari PKS dalam bentuk cair selain CPO dan PKO yang sering disebut juga dengan produk ikutan atau “by-product”


                                      Gambar-1. Sumber dan Pemanfaatan LC-PKS 


                                          Gambar-2. Sumber Pencemaran LC-PKS



Produksi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) bergantung kepada tingkat efisiensi pemakaian air selama proses,  secara umum.                                                                                     Rasio air : TBS adalah 1 : 1 .  lebih besar dari 1 : 1   dikatakan                                                                                 PKS tidak efisien.
Rasio produksi LCPKS di lingkungan perkebunan umumnya adalah 55 - 67%  terhadap TBS diolah.
Rasio produksi LCPKS di lingkungan perkebunan umumnya adalah 55 - 67%  terhadap TBS diolah
               
Beberapa sumber utama LCPKS :
q    “condensate” underflow dari   recovery tank         (17%)
q    heavy-phase dari sludge        separator (40%)
q    cucian klarifikasi (5%)



                                                      Gambar-3. LC dari Cucian PKS


                                                   Gambar-4. LC dari Heavy Phase


                                                Gambar-5. LC dari Kondensate-1



                                                    Gamabar-6. LC dari Kondensate-2




Tindakan apa yang harus dilakukan agar LCPKS tidak berbahaya bagi lingkungan ???

Dibutuhkan tindakan pengelolaan terhadap LCPKS dengan membangun unit “IPAL” instalasi pengolahan air limbah

Instalasi Pengolahan Air Limbah “IPAL” merupakan suatu unit proses yang bertujuan untuk menurunkan beban  pencemar yang terkandung di dalam air limbah sehingga   menjadi layak untuk  dimanfaatkan atau  dilepas ke lingkungan penerima atau  badan penerima.

                                                Gambar-7. IPAL LC-PKS


Secara umum ada 2 (dua) sistem pengolahan limbah di kolam IPAL, yaitu:
A.    single feeding
B.    multiple feeding

Sistem “single feeding” sering disebut juga dengan sistem seri
Prinsip dasar dari sistem ini adalah dengan mengalirkan limbah mentah (raw effluent) hanya ke 1 (satu) kolam saja dan selanjutnya dari kolam ini akan dialirkan secara simultan melalui beberapa proses dan tahapan tertentu bergantung kepada sistem pengendalian yang digunakan, apakah pengendalian anaerob atau aerob

Sistem single feeding “An-aerob”
Prinsip dasar :
1.     Perlakuan pendahuluan
a.      Pengutipan minyak
b. Kolam pembiakan
c. Kolam pengasaman
2.     Perlakuan pengendalian
a.             Kolam perombakan Anaerobik primer I + II
b. Kolam pematangan Anaerobik sekunder I + II
c. Kolam pengendapan

Sistem single feeding “aerob”
Prinsip dasar :
1.     Perlakuan pendahuluan
a.      Pengutipan minyak
b. Kolam pembiakan
c. Kolam pengasaman
2.     Perlakuan pengendalian
a.      Kolam perombakan Anaerobik primer I + II
b. Kolam pematangan Anaerobik sekunder I + II
c. Kolam aerobik

Sistem “multiple feeding”
sering disebut juga dengan sistem paralel
Prinsip dasar dari sistem ini adalah dengan mengalirkan limbah mentah (raw effluent) ke dalam setiap kolam IPAL secara berkala dan sistematis sehingga setiap unit kolam akan memiliki retensi waktu yang sama


                                              Gambar-8. An Aerobc Pond



                                                      Gambar-9. Flow Chart Multiple Feeding


Sistem pengolahan di lingkungan         Sinar Mas Agribusiness umumnya adalah Multiple-feeding secara anaerob                              yang pada dasarnya merupakan sistem pengolahan limbah dengan sistem pengenceran (dilution) LCPKS
yaitu pencampuran antara LCPKS segar (raw-effluent) dengan yang sudah diolah (diggest-effluent)

1. Perlakuan Pendahuluan
Pemisahan minyak dengan air serta padatan yang terlarut dengan sistem sentrifugasi (Sludge Centrifuge)
2. Perlakuan Pengendalian
Perombakan bahan-bahan  organik dalam LCPKS segar (raw effluent) dengan mencampurkan pada LCPKS yang sudah matang (proses pengenceran atau dilution)

Kelebihan :
LCPKS yang dihasilkan mempunyai potensial nutrisi yang tinggi sebagai substitusi pupuk
Rentang waktu proses yang singkat, setiap hari LCPKS dapat diumpan dan juga dialirkan ke lapangan (seluruh kolam IPAL kegiatan bakterinya sudah aktif)

Kekurangan :
Terjadinya pendangkalan yang hampir merata pada seluruh kolam IPAL
Dibutuhkan kejelian dalam melihat proses dekomposisi di dalam kolam IPAL agar proses perombakan dapat merata pada seluruh kolam 

                                           Gambar-10. Kondisi Kolam IPAL PKS

Selama proses perombakan bahan organik (LCPKS yang masih mengandung minyak & lemak serta padatan-padatan lainnya) akan berlangsung dalam suasana anaerob yg dibantu oleh bakteri anaerob dan dalam proses tersebut akan terjadi tahapan 2 proses perombakan seperti :
q   proses hydrolisis
q   proses acidogenesis
q   proses achetogenesis
q   proses methanogenesis

Merupakan tahapan awal dalam proses dekomposisi bahan organik polimer dalam  bentuk makro seperti protein, karbohidrat dan lemak.  .

BO tersebut oleh mikroba atau bakteri pengurai yang memproduksi enzim ekstra seluler (hydrolase) seperti lipase, protease dan karbohidrase akan dirombak menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana sehingga mudah dikonsumsi oleh mikroorganisme.

Merupakan tahapan lanjutan setelah proses hidrolisis bahan-bahan organik dari bentuk polimer menjadi monomer-monomer sederhana yang selanjutnya akan dirombak lagi menjadi asam-asam mudah menguap yang melibatkan bakteri acetogenik (penghasil ion hidrogen dari asam tertentu)

Proses acidogenesis ditandai dengan meningkatnya konsentrasi VFA (volatile fatty acid) atau asam-asam mudah menguap dalam larutan 

Tahapan selanjutnya adalah proses hidrolisis atau perombakan senyawa-senyawa unikarbon seperti H2 / CO2 atau HCOOH Yang dikatabolisis oleh bakteri homoacetogenik maupun senyawa-senyawa multikarbon menjadi asam acetat  
merupakan tahap terakhir dalam proses perombakan secara anaerobik

Pada tahapan ini terjadi proses pembentukan gas methane oleh bakteri Methanogenic seperti Methanobacillus omelianskii yang mengkatabolisis asam acetat dan senyawa karbon tunggal menjadi gas bio (memproduksi biogas)


                                                     Tabel-2. Karakteristik LC-PKS

                 

LCPKS berpotensi tinggi baik dari segi kwantitas dan juga kwalitas sebagai substitusi pupuk   an-organik

                                  Tabel-3. Analisis Keuntungan Pupuk Organik LC-PKS

Bagaimana teknis pemanfaatannya ???

Teknis aplikasi lahan yang populer sebagai  LAND  APLICATION adalah pilihan efektif

                                  Gambar-11. Distribusi Pipa Ke Blok

                                       Gambar-12. Distribusi Pipa Dalam Blok


                                                        Gambar-13. Sistem Flatbed

Parameter apa yang bisa digunakan untuk menentukan LCPKS  sudah layak atau belum layak untuk diaplikasi   ???          

Karakteristik LCPKS yang “ layak  aplikasi “ adalah pada BOD sekitar  1.500 s/d 3.500mg/L***


    Sumber: ANJ-Agri

      *Materi Kuliah Pengendalian Lingkungan Industri dan Kuliah Pengendalian Limbah Padat-Cair   Jurusan Teknik Mesin-ITM
*        **Dosen Dr.Ir.Hamzah Lubis,SH,M.Si




























                      

No comments:

Post a Comment