Pengantar Pengolahan Air

Dr.Ir.Hamzah Lubis,SH.,M.Si 
I.Pengantar
"Tidak ada kehidupan tanpa adanya air".  The Best of All Things is Water (Air adalah yang terbaik dari segalanya) ". Demikian beberapa ungkapan yang menggambarkan betapa pentingnya manfaat air bagi kehidupan. Hal ini karena sebagian besar dari komponen penyusun makhluk hidup terdiri dari air. Pada orang dewasa misalnya, 80 % dari berat badannya terdiri dari air. Demikian juga untuk hewan dan tanaman, komponen utama penyusunnya adalah air. Akibat yang terjadi akan sangat fatal bila terjadi kehilangan air yang berlebihan dari makhluk hidup (Budiono,2013).

II. Persediaan air
Oleh karena itu diperlukan persediaan air secara cukup untuk kelangsungan kehidupan. Ada suatu ramalan yang mengatakan bahwa pada tahun 2025 akan ada sekitar tiga milyar penduduk dunia yang mengalami kekurangan air secara kronis. Kekurangan air yang terjadi bisa ditinjau dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Dari segi kuantitas, Falkenmark (1993) membagi ketersediaan air suatu negara atau daerah sebagai berikut: (a) negara/daerah yang mempunyai ketersediaan air 10.000 m3 atau lebih/tahun/kapita disebut tidak ada masalah dengan air, (b) 1670-10.000 m3/kapita/tahun disebut memiliki permasalahan tentang air; (c) 1.000 - 1670 m3/kapita/tahun disebut stress terhadap air; (d) 500-1000 m3/kapita/tahun disebut kekurangan air secara kronis; dan (d) di bawah 500 m3/kapita/tahun disebut kekurangan air di bawah ambang batas kebutuhan(Budiono,2013).
Sebenarnya,80 % dari permukaan bumi ini tertutup oleh air sehingga persediaan air di bumi sangat melimpah. Namun demikian, sebagian besar dari persediaan tersebut yaitu 96,5 % berupa air laut dan hanya sekitar 2,5 % yang berupa air tawar. Dari persediaan air tawar tersebut, ternyata 68,7 % berupa salju yang terjebak di kutub bumi dan hanya sekitar 31 % saja yang berupa air tanah. Oleh karena itu, dari keseluruhan jumlah air yang tersedia di bumi, hanya sekitar 0,8 % saja yang bisa digunakan secara langsung untuk keperluan manusia. Secara kuantitatif, distribusi jumlah air yang terdapat di bumi ini tersaji pada Tabel- 1(Budiono,2013).

                      Tabel 1.Distribusi Jumlah Air yang Terdapat di Bumi(Budiono,2013).
Jenis Air
Jumlah (km3)
Prosentase (%)
Air laut
1.338x106
96,5
Air tawar
35,03x103
2,53 (100)
Salju
24,06x103
1,78(68,7)
Air tanah
10,85x103
0,78(31,0)
Uap air (di udara)
0,01x103
0,0007(0,03)
Danau
0,108x103
0,008 (0,29)
Sungai
0,002x103
0,00015 (0,006)
Lain-lain
12,97x103
0,97
Total
1.386x106
100

III. Siklus air
Di bumi ini, air dijumpai dalam tiga bentuk. Pertama, bentuk cair yang berupa air laut, air tanah, atau air permukaan seperti air sungai dan air danau. Kedua, benfuk padat, misalnya es yang terdapat di kutub bumi dan kadang-kadang dari air hujan yang berupa salju dan es. Ketiga, bentuk uap yang terdapat di udara(Budiono,2013).
Panas yang bersumber dari matahari akan mengubah air laut dan air permukaan untuk menjadi uap yang kemudian oleh pengaruh energi akan diubah menjadi hujan. Hujan dapat berupa bahan cair atau hujan salju dan turun ke bumi menjadi air laut, air sungai, air danau, dan air tanah. Hujan salju menjadi cair dan mengalir ke sungai, danau, atau ke laut. Sementara itu, salju atau es melalui cairan baru menjadi uap yang berubah lagi menjadi cairan yang secara global di sebut sebagai suatu siklus yang tidak berujung pangkal(Budiono,2013). Skema daur ulang air secara umum tersaji pada Gambar 1.

 
                                            Gambar 1.  Skema daur ulang air(Budiono,2013).

Teori relativitas Einstein menegaskan bahwa tidak ada suatu energi yang terbuang, hanya terjadi perubahan bentuk dari energi tersebut. Oleh karena itu, persediaan air dunia tidak akan habis. Namun, persediaan air parsial dapat mengalami kekurangan, bahkan dapat mengalami kekeringan akibat perpindahan dari siklus air itu. Hal ini akibat ketidakmampuan manusia, terutama dalam mempertahankan daur ulang air sehingga air hujan yang semestinya dapat ditahan sebagai air tanah terus saja mengalir ke laut. Pada saat musim hujan terjadi banjir dan saat musim kemarau terjadi kekeringan. Jadi, persediaan air secara global bukan menjadi permasalahan, tetapi air sebagai persediaan parsial akan menggali kesulitan apabila tidak ada usaha pencegahan terhadap peralihan dari siklus air. Namun demikian, kualitas air bisa saja selalu mengalami penurunan kualitas dari tahun ke tahun walaupun jumlahnya secara global tidak mengalami perubahan. Hal ini karena, bila ditinjau dari segi daur ulang air, air selalu membawa komponen terlarut dari media yang dilewatinya. Media yang dilewati bisa udara, tanah, sungai, laut, dan makhluk hidup. Komponen terlarut dari media yang dilewatinya akan semakin besar sebagai akibat dari semakin majunya aktifitas manusia seperti kegiatan rumah tangga, perkantoran, pertanian, dan industri(Budiono,2013).
Oleh karena itu, walaupun air yang tersedia cukup melimpah, namun jumlah yang bisa digunakan bisa semakin kecil sebagai akibat dari semakin menurunnya kualitas air. Sebagaimana telah diungkapkan oleh penyair terkenal Coloridge, seorang Pelaut Kuno sebagai berikut. "Water; water everywhere, nor any drop to drinK” (Air, air, di mana-mana air, tetapi setetespun tidak ada untuk minum). Dengan semakin terbatasnya persediaan air untuk berbagai kebutuhan, maka peran teknologi pengolahan air menjadi sangat penting (Budiono,2013).

Sumber: Budiyono.2013. Teknik Pengolahan Air. Yokyakarta: Graha Ilmu, hal.1-3


No comments:

Post a Comment