MK.PK-7: VISIONER

                                     VISIONER - PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN 

 

“Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum, sampai mereka mengubahnya sendiri.” (Q.S Al-Ra'd - 11)

 

1. Pegertian Kepemimpianan

Kepemimpinan menurut Terry dalam Ardiansyah memberi definisi bahwa “Leadeship is the relationship in which one person, or the leade, influence others to work together willingly on relatied taks to attain that which the leader desires,” Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin dalam mempengaruhi orang-orang lain untuk bekerja sama secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan pemimpin.

        Sementara itu definisi kepemimpinan menurut Stogdill dalam Husaini Usman, ialah fokus dari proses kelompok, penerimaan kepribadian seseorang, seni mempengaruhi perilaku, alat untuk mempengaruhi perilaku, suatu tindakan perilaku, bentuk dari ajakan (persuasif), bentuk dari relasi yang kuat, alat untuk mencapai tujuan, akibat dari interaksi, peranan yang difirensial, dan pembuat struktur. Kepemimpinan Juga dapat diartikan setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin, sedangkan pemimpin merupakan bagian dari lambang identitas sebuah organisasi, tanpa adanya pemimpin tidak akan ada sebuah organisasi yang jelas, bahkan bisa dikatan tidak akan ada organisasi,tentunya organisasi yang terbaik memiliki pemimpin yang terbaik dengan berdasarkan nilai-nilai moral, budaya, keteladanan yang sesuai dengan aturan, kesepakatan, kemampuan, gaya, pendekatan dan perilaku kepemimpianan. Dalam kepemimpinan ada manajemen/pengelolaan yang memberikan konsepkonsep dan mengimplementasikan dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengrahakan dan mengendalikan yang menjadi satu kesatuan yang integral yang tidak bisa dipisahkan, dalam merencanakan visi, misi tujuan dan rencana kerja organisasi, mengorganisasikan dan melaksanakan tugas-tugas dan membina bawahannya dengan cara memberikan sarana, masukan dan pendapat dalam mengarahkan tugas dan tanggung jawab bawahannya, mengarahkan dalam memotivasi, membuat keputuan, membimbing, membina dan melatih. Mengendalikan dalam pengawasan, evaluasi dan penilaian dan pelaporan.

Pemimpin merupakan seseorang yang mempunyai pengaruh luar biasa terhadap proses perkembangan organisasi, sebab seorang pemimpin mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang  lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Sehingga dalam kepemimpinan merupakan upaya mewujudkan adanya kemampuan mempengaruhi untuk menggerakkan, membimbing, memimpin dan memberi kegairahan kerja terhadap orang lain, yang ada di dalam diri pemimpin sebagai orang yang dapat mempengaruhi, menggerakkan, menumbuhkan perasaan ikut serta dan tanggung jawab, memberi fasilitas, teladan yang baik serta kegairahan kerja terhadap orang lain.

Kepemimpinan akan efektif bila pemimpin dapat memberi inspirasi kepada yang dipimpin untuk bekerja sama ,bertindak mencapai tujuan organisasi, artinya kepemimpinan dijadikan sebagai alat (sarana) atau proses untuk mebujuk orang lain agar bersedia melakukan sesuatu secara sukarela sesuai dengan keinginan pemimpin sebagai pioner dalam organisasi, dan di dalam melakukan hal itu yang dipimpin akan mengalami proses pengembangan kepemimpinan sehingga kelak mereka kelak akan menjadi pemimpin. Perilaku yang demikian, menjadikan pemimpin ini pada sisi yang lain akan menjadikan ruang otonomi untuk mengartikulasikan potensi yang ada dalam diri komponen organisasi pendidikan.

Oleh sebab itu pemimpin organisasi pendidikan perlu secara jeli dan peka untuk memlihat kebutuhan-kebutuhan organisasi pendidikan yang disesuaikan dengan peluang-peluang dan kebutuhan dari stakeholders. Sebab secara teoritis maupun praktis pemimpin adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi.  Pola ini memerlukan internalitas dari sosok pemimpin dalam menggerakkan organisasi pendidikan. Artinya organisasi pendidikan akan berjalan dengan baik jika pemimpin mempunyai kecakpan dalam bidangnya, dan dan setiap pemimpin mempunyai ketrampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual.

Ada empat sifat umum yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yang terdiri dari:

a. Management of attention, yakni kemampuan mengomunikasikan tujuan atau arah yang dapat menarik perhatian anggota organisasi.

b. Management of meaning, yakni kemampuan menciptakan dan mengkomunikasikan makna tujuan yang jelas dan dapat dipakai.

c. Management of trust, yakni kemampuan untuk dipercaya dan konsisten sehingga orang-orang akan memerhatikannya. d. Management of selft, yakni kemampuan untuk mengetahui, menguasai, dan mengendalikan diri dalam batas kekuatan dan kelemahan diri.

Secara intelektual “ mendukung” (suporting) memiliki padanan kata dengan menyokong: membantu, dan menunjang. Memberi dukungan adalah perilaku kepemimpinan yang sangat diharapkan oleh bawahan dan dapat diwujudkan dalam bentuk memberi pertimbangan ( consideration), penerimaan (recievement), dan perhatian (attention) terhadap kebutuhan dan keinginan para bawahan.

Kemampuan persuasif pemimpin sangat urgen dalam hal ini, artinya pemimpin secara emosional maupun kultural terlebih struktural perlu untuk mendorong komponen organisasi dalam bekerja secara lebih efektif dan sesuai dengan harapan.  Secara operasional kepemimpinan bisa berfungsi sebagai tindakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin dalam upaya menggerakkan bawahannya agar mau berbuat sesuatu guna menyukseskan program kerja yang telah dirumuskan sebelumnya.

 Dari penjelasan-penjelasan di atas terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kepemimpinan agar bisa berhasil dengan baik, yaitu:

a.Kemampuan kepala sekolah, merupakan kemampuan untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya yang meliputi: Technical skills, human skills, dan conseptual skill.

b. Mempengaruhi orang lain. hakikat dari kepemimpinan kepala madrasah adalah upaya mempengaruhi orang lain sehingga dapat diajak kerja sama dalam mencapai tujuan. Kepala madrasah ditunutut bisa berkomunikasi dengan baik dan menjalin hubungan interpersonal yang baik dalam organisasi maupun di luar organisasi., mampu membangun kepercayaaan serta tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.

c. Interaksi individu dengan kelopok, kepala sekolah mampu membangun interaksi antar individu dengan kelompok, dalam organisasi dengan bai, dalam hal ini, seorang pemimpin, dituntut untuk memiliki kecerdasan emosional, motivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan mampu membina hubungan baik.

d. Kerjasama. Kerjasama merupakan aspek yang paling penting dalam memnjalankan organisasi sekolah. kepala sekolah harus mampu membangun kerjasama internal dan eksternal dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dalam konteks ini teamwork harus dibangun sesuai dengan program-program pemberdayaan di sekolah agar mampu mencapai visi dan misi sekolah dengan baik. Keja sama yang baik akan mnentukan hasil yang baik atau mutu pendidikan yang ada di sekolah/madrasah.

e. Tujuan. Tujuan harus dirumuskan dengan jelas dan operasional dengan visi dan misi sekolah/madrasah. Tujuan menjadi tolak ukur menentukan keberhasilan sekolah. f. Efektif dan efisien, Komponen ini berkaitan dengan keseluruhan program kegiatan yang telah dirumuskan oleh kepala madrasah, baik kurikuler maupun ekstrakulikuler Pada intinya kepemimpinan merupakan kemampuan seorang pemimpin dalam menggerakan serta mengarahkan orang lain dalam 28 sebuah organisasi agar dapat secara bersama-sama mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.


2. Pegertian Visioner

Vision berasal dari bahasa Inggris yang mengandung arti penglihatan atau daya lihat, pandangan, impian, atau bayangan. Dalam bahasa Arab, kata visi dapat diwakili oleh kata nadzor, jamaknya indzar, yang berarti seing (penglihatan), eye-sight (pandangan mata), vision (pandangan), look (penglihatan), glance (pandangan sekilas), sight (pemikiran), outlook (pandangan), prospect (gambaran ke depan), view (peninjauan), aspect (bagian), appearance (perwujudan), evidence (bukti), insight (pandangan), penetration (penembusan atau perembesan), perception (pendapat), contemplation (merenung secara mendalam dan menyendiri), examination (pelatihan berpikir).

Artinya setiap visi ketika dimasukakan pada sebuah lembaga atau tempat, maka akan memberikan dampak yang signifikan dan dapat memberika pegaruh dalam bagaimaa menentukan berlangsungnya kehidupan menuju ke depan. Sedangkan kata visioner dapat juga dikatakan dengan visi yakni jembatan antara masa kini dan masa depan, sehingga harus realistis sekaligus idealistis. Realistis dalam arti berpijak pada kenyataan dan orang percaya bahwa mimpi itu dapat diraih. Idealistis dalam arti visi harus menyiratkan aspirasi yang tinggi agar dapat memacu orang untuk berupaya keras melakukan yang terbaik dalam rangka mencapai cita-cita yang digambarkan dalam visi.

Visi juga harus memiliki daya tarik luar biasa, agar orang terinspirasi dan termotivasi melalui visi itu. Di tangan seorang pemimpin, visi diharapkan dapat menjadi energizer dan menciptakan antusiasme. Pada hakikatnya, kepemimpinan yang visioner adalah kepemimpinan yang mampu untuk menciptakan dan mengartikulasikan sebuah visi yang realistis, kredibel, dan mendorong para pengikutnya untuk tumbuh dan berkembang menuju masa depan.13 Semetara itu Visionaris adalah orang yang telah mengalami
personal victory, dengan membiasakan diri bersikap proaktif  (beproactive), terbiasa memulai aktifitas dengan membayangkan hasil akhirnya dalam fikiran (begin with the end in mind), dan terbiasa mendahulukan hal-hal yang utama (pur first thing first), serta terbiasa untuk memperbarui diri secara terus-menerus (self renerwal).


3. Pengertian kepemimpinan Visioner

Vehrizal dan Arviyan Arifin mendifinisikan,“visionary leadership adalah pemimpin yang memiliki arah dan wujud masa depan yang merupakan gambaran masa depan yang disepakati dengan rasa kebersamaan dan komitmen yang tinggi untuk mewujudkannya”.15 Sementara itu, menurut A. Komariyah dan C Triatna, kepemimpian visioner merupakan, “kemampuan pemimpin dalam mencipta,  merumuskan, mengomunikasikan, mensosialisasikan, mentransformasikan, dan mengimplementasikan pemiran-pemikiran ideal dirinya sendiri maupun hasil interaksi sosial anggota organisasi dan stakeholder sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus direalisasikan melalui semua personel”.

 Menurut Nwankwo dan Richardson dalam Paul Mupa visionary leadership is the leader who “wins hearts and minds” and charismatically takes the organisation into a new successful era. The process of visionary leadership involves the design of a desired future
and the motivation of others in the organisation to share it and commit oneself to taking personal responsibility for its achievement.

Jadi seorang pemimpin yang visioner merupakan pemimpin yang "memenangkan hati dan pikiran" dan secara karismatik membawa organisasi ke dalam era baru yang sukses. Proses kepemimpinan visioner melibatkan desain masa depan yang diinginkan dan motivasi orang lain dalam organisasi untuk berbagi dan berkomitmen untuk mengambil tanggung jawab pribadi atas pencapaiannya.17 Kepemimpinan visioner ini termasuk jajaran model kepemimpinan yang diyakini banyak orang sebagai model kepemimpinan yang membawa pemecahan bagi masa depan lembaga pendidikan Islam. Sebab, model ini memiliki kemampuan yang sangat besar dalam memahami, menyikapi dan merespons perkembangan zaman semodern apapun. Tidak jarang, kepemimpinan visioner ini melaksanakan proyek kegiatan yang menggerakan dan membuat penasaran orang lain, karena tidak lazim menurut ukuran zamannya.

Mujamil Qomar menegaskan bahwa “Pemimpin visioner mampu menembus „kabut gelap‟ masadepan mampu membaca gelagat zaman, mampu menerjemahkan  kebutuhankebutuhan masa depan, bahkan pemimpin visioner ini mampu berfikir
dan bertindak melampaui zaman”. Kepemimpinan visioner (Visionery leadership), merupakan kemampuan untuk menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang realistik, dapat dipercaya, atraktif tentang masa depan bagi suatu organisasi atau unit organisasional yang terus bertumbuh dan meningkat sampai saat ini. Karena sifat dasar dari suatu visi adalah untuk memberi inspirasi yang berpusat pada nilai dan dapat diwujudkan, maka dibutuhkan gambaran dan artikulasi yang unggul sehingga bisa menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang memeberi inspirasi dan manawarkan tatanan baru, lebih menantang (challenge) namun dapat dicapai, yang dapat menghasilkan kualitas organisasi yang lebih kompetitif.

Dengan demikian pemimpin visioner harus bisa memahami elemen-elemen visi agar terarah dalam menggambarkan arah dan langkah yang akan ditempuh oleh organisasinya. Secara sederhana kepemimpinan visioner dapat diartikan sebagai kemapuan pemimpin dalam mencipta, merumuskan, mengkomunikasikan dan mensosialisasikan, mentransformasikan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial di antara anggota organisasi dan stakeholder yang diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus diraih dan diwujudkan melalui komitmen semua personel.

 Visionary leadership dapat diartikan juga Kepemimpinan yang memiliki visi, Visionary leadership merupakan sebuah konsep tentang kepemimpinan yang kerja pokoknya difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan. Kepemimpinan ini menuntut kepala madrasah sebagai manajer di sekolah agar memiliki kemapauan yang visioner, yitu kemampuan dalam melakukan inovasi dan pengembangan madrasah yang disertai dengan pandangan jauh ke depan dalam mengembangkan madrsah untuk meningkatkan kualitas pendidikannya secara efektif dan kompetitif. Oleh karena itu seorang pemimpin pendidikan harus mampu memprediksi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kekutan-kekuatan yang dimiliki, peluang-peluang yang dan tantangan-tantangan yang harus di hadapi, ancaman-ancaman yang sekiranya muncul dalam memajukan lembaga pendidikan yang
dipimpinnya.

Wawasan dan pandangan tersebut harus dimiliki oleh kepala madrasah dalam memajukan lembaga madrasah melalui visionary leadership.  Pemimpin visioner harus memiliki visi yang tepat sebagai pedoman bagi staf untuk bekerja yang diberikan dalam arah, termasuk kapasitas untuk memiliki inovasi yang mengarah pada perubahan di masa depan. Pemimpin harus memiliki kompetensi dalam mendefinisikan visi mereka sehingga jelas dipahami oleh orang lain. Mereka harus mengekspresikan visi mereka secara verbal dan perilaku yang praktis, dan memiliki kompetensi dalam menerapkan penjelasan mereka yang berbeda, melalui persyaratan untuk pemimpin visioner adalah sebagai berikut:

(1) komunikasi visi, didorong oleh pemahaman organisasi, staf organisasi, dan lingkungan; (2) berpikiran berpikiran terbuka yang mampu merengkuh masa depan;

(3)kompetensi dalam menciptakan jaringan serta kerja tim, dan mengembangkan budaya untuk dukungan kerja yang sangat baik;

(4) kompetensi dalam mengembangkan interaksi dengan orang melalui komunikasi dua arah, mengenali signifikansi orang dan partisipasi, dan;

(5) pengembangan kebiasaan pribadi yang dapat diandalkan, misalnya, kejelasan komunikatif, kepercayaan diri, belajar kegagalan sebagai pengalaman dalam membangun peluang, memahami titik lemah pengikut dan menggunakan rekomendasi yang meningkatkan poin kekuatan lembaga.

 Sehingga bagi kepemimpinan visioner, visi menjadi pusat perhatian.visi yang baik bisa diturunkan menjadi misi-misi strategis dan kondusif merealisasikan visi, bisa dirancang sejumlah program kegiatan yang strategis, bisa disiapkan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan, bisa dikondisikan lingkungan yang menunjang, bisa ditanggulangi ancamanancaman yang menghadang, bisa diimplememntasikan pada serangkaian kegiatan, dan bisa disiapkan mekanisme evaluasi yang komprehensif, untuk itulah kepemimpinan visioner itu memiliki “penglihatan yang tajam” dalam melihat peluang-peluang di masa yang akan datang yang bisa dimanfaatkan guna mendongkrak kemajuan lembaga pendidikan Islam.

Seorang pemimpin visioner harus memahami tigal hal, yaitu konsep karakter dan usnsur visi dan tujuan visi:

a. Konsep Visi

Dua kata kunci dari esensi visi yaitu daya pandang jauh ke depan. Dan daya fikir yang memiliki kekuatan dahsyat dan menerobos batas-batas visi, waktu dan tempat. Visi adalah semacam sasaran yang kuat yang dapat kita umpamakan dengan semacam sasaran kuat yang dapat kita umpamakan dengan suatu cahaya yang menyinari jalan yang sangat gelap. Visi merupakan bayangan cermin mengenai keadaan internal dan kehandalahn inti seluruh organisasi. Visi merupakan gambaran tentang masa depan (future) yang realistik dan ingin diwujudkandalam kurun waktu tertentu ( dapat mengisyarakan adanya misi dan tantangan).
Visi menjawab pertanyaan „ what do we want to become ?”.
vision statement thinking about “ what is our business in the future?”,
or about “our mission in the future”. A vision is a statement about the
future, spoken or written today; it is a process of managing the
present from a streching view of the future.

Visi adalah pernyataan yang diucapkan atau ditulis hari ini, yang merupakan proses manajemen saat ini yang menjangkau ke depan. The vision must be able to give strong sense of what are the areas of business focus (beyond the boundary ). Visi harus dapat memberi kepekaan yang kuat tentang area fokus bisnis. Hal ini lebih lanjut diungkapkan oleh Hax & Majluf dalam Akdon bahwa visi adalah pernyataan yang merupakan sarana untuk :

1) Mengkomunikasikan alasan keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok.

2) Memperlihatkan framework hubungan antara organisasi, dengan stakeholders (sumber daya manusia organisasi, konsumen/citizen, pihak lain yang terkait).
          Pernyataan visi perlu diekspresikan dengan baik agar mampu menjadi tema yang mempersatukan semua unit dalam organisasi, menjadi media komunikasi dan motivasi semua pihak, serta sebagai sumber kreativitas dan inovasi organisasi. Kriteria pembuatan visi meliputi antara lain:

1) Visi bukanlah fakta, tetapi gambaran pandanagan ideal masa depan yang ingin diwujudkan.

2) Visi dapat memberi arahan mendorong anggota untuk menunjukkan kinerja yang baik.

3) Dapat menimbulkan inspirasi dan siap menghadapi tantangan.

4) Menjembatani masa kini dan masa mendatang 5) Gambaran yang realistikdan kredibel dengan masa depan yang menarik.

6) Sifatnya tidak statis dan tidak untuk selamanya.

         Suatu visi agar menjadi realistik, dapat diperacaya, meyakinkan, serta mengandung daya tarik, maka dalam proses pembuatannya perlu melibatkan semua stakeholeders. Selain keterlibatanberbagai pihak visi. Visi perlu secara intensif dikomunikasikan kepada semua anggota organisasi sehingga merasa sebagai pemilik visi tersebut. Hal lain yang terkadang terlihat simpel tapi sering dilupakan dalam pembuatan visi, bahwa visi akanlebih mudah diingat dna dijadikan komitmen jika dibuat ke dalam kalimat yang singkat. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa visi adalah pernyataan dari organisasi tentang tujuan utama dari organisasi, kebijakan dan nilai-nilai yang dianut, sebagai pernyataan yang bersifat permanen. Visi tidak perlu diupdate pada setiap planning cycle (misalnya 1 tahun), namun visi ini merupakan subjek untuk direvisi dalam interval yang lebih lama misalnya lima tahun atau lebih. 

Ketika terdapat visi pasti ada yang namanya misi, di mana dari visi yang telah kita peroleh harus kita terjemahkan kedalam guidelines yang lebih pragmatis dan kongrit yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan strategi dan aktivitas di dalam organisasi. Untuk hal itu dibutuhkan misi. Pernyataan dalam misi lebih tajam dan lebih detail jika dibandingkan dengan visi. Misi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang harus dicapai oleh organisasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan di masa datang.

Pernyataan misi mencerminkan tentang segala sesuatu penjelasan tentang bisnis/ produk atau pelayanan yang ditawarkan yang sangat diperlukan oleh masayarakat untuk pencapaian misi. Mission statement are enduring statement ofpurposethat distingush one
business from other similarfirm. A mission statement identifies the scope of a frim operations in product and market term. It addresses the basic question that faces all strategies “what is our business?”. Definisi di atas memperlihatkan bahwa pernyataan misi memeprlihatkan tugas utama yang harus dilakukan organisasi dalam mencapai tujuan organisasi (what business are we really in? ).

Dalam pernyataan misi terkandung definisi yang jelas tentang pekerjaan atau tugas pokok yang diemban suatu organisasi dan yang didinginkan dalam kurun waktu tertentu. Pernyataan misi menunjukkan dengan jelas arti penting ekssitensi organisasi, karena misi mewakili alasan dasar untuk berdirinya organisasi. Banyak organisasi gagal karena pernytaan misi yang dirumuskan hanya memperlihatkan kepentingan dirinya saja dan memngabaikan kepentingan masyarakat, pelangganmaupun stakeholders. Oleh karena itu misi harus jelasmenyatakan kepedulaian organisasi terhadap kepentingan pelanggan (expressed in customer driven term).

 Pernyataan misi harus:

1) Menunjukkan secara jelas tentang apa yang hendak dicapai.

2) Secara eksplisit mengandung apa yang harus dilakukan untuk mencapainya.

3) Mengundang partisipasi masyarakat luas terhadap perkembangan bidang utama yang digeluti organisasi.

b. Karakter dan Unsur visi

Bennis dalam Buchari menyatakan bahwa leader bekerja, manage to dream: kemampuan pemimpin menciptakan visi dan menerjemahkannya ke dalam kenyataan disebut dengan visionary leadership. Lock dkk,mengemukakan bahwa walaupun visi sangat  bervariasi,pernyataan visi yang membangkitkan inspirasi dan memotivasi mempunyai persamaan kasrakteristik sebagai berikut :

1) Ringkas, pernytaan visi harus ringkas, agar bisa dikomunikasikan demngan mudah dan sering.

2) Kejelasan, tingkat kejelasan dari pernyataan-pernyataan visi mempengaruhi seberapa baik visi itu dimengerti dan diterima.

3) Abstraksi, visi seharusnya mewakili sebuah ideal umum yang berbeda dengan sebuah pencapaian spesifik.

4) Tantangan, sebuah visi yang baik dirumuskan denganpernyataan yang menantang kemampuan personel sehingga dcapat menunjukkan kinerjanya secara optimal dan membentuk rasa percaya diriyang besar.

5) Orientasi, masa depan visi adalah kualitasdari sebuah aspek organisasi.

6) Subilitas, visi bukan pernyataan yang mudah berubah karena ia dapat mengkomodasi perubahan, kepentingan dan keinginan organisasi dalam jangka waktu yang relatif panjang sehingga perubahan-perubahan yang terjadi di luar organisasi tidak membuat terancamnya visi organisasi.

7) Disukai, visi harus disukai, para pengikut harus memandang visi itu sebagai sebuah ideal yang bernilai untuk dicapai.

 Komariah dan Triatna menyimpulkan ciri-ciri visi yang baik berdasarkan karakteristik di atas, sebagai berikut:

(1) menjelaskan arah dan tujuan;

(2) mudah dipahami dan diartikulasikan;

(3) mencerminkan cita-cita yang tinggi dan mmenetapkan standart of excellence;

(4) menumbuhkan inspirasi, semangat, kegairahan dan komitmen;

(5) menciptakan makna bagi anggota organisai;

(6) merefleksikan keunikan atau keistimewaan organisasi;

(7) menyiratkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh organisasi;

(8) kontekstual dalam arti merhatikan secara langsung saksama hubungan organisasi dengan lingkungan dan sejarah perkembangan organisasi yang bersangkutan.

 Sebuaha Visi mengandung unsur basic values, mission dan
ojectivies. 1) Nilai (Basic Value) Qieqley mendefinisikan “nilai sebagai keyakinan yang mendasar dari organisasi”.  Nilai-nilai dasar atau falsafah yanag dianut seseorang tentang organisasinya meliputi pertanyaan ingin menjadi apa organisasi ini dan ingin berperan apa di kemudian hari ? sedangkan objeknya adalah tujuan-tujuan yang merupakan arah ke mana organisasi dibawa yang meliputi pertanyaan: ingin menghasilkan apa lembaga ini? Untuk siapa ? dan dengan mutu yang bagaimana?

Quiqely mendefinisikan sebagai “what it is today and what it aspire to be”. Misi institusi harus konsisten dengan nilai-nilai yang dijadikan landasan dan penunjang institusi tersebut. Msi merupakan tugs pokok yang harus dilaksanakan uintuk merealisasikan visi. Misalnya visi adalah membangun manusia yang untuh jasmani dan ruhani. Maka misinya adalah mewujudkan melalui pengelolaan pendidikan.

 Tujuan/Sasaran (Objectivies)
Tujuan menurut Quiqley “merupakan bagian dari visi yang menjabarkan secara jelas komitmen organisasi yang akan dibawa”. Tujuan diturunkan dari misi yang merupakan kondisi jangka panjang yang diinginkan,dinyatakan dalam istilah yang umum dan kualitatif.

c. Tujuan Visi Depdikbud menyatakan bahwa tujuan adanya visi adalah:

1) Kesatuan pandangan akan tercapai, dan dengan kesatuan itu usaha peningkatan mau dapat dilaksanakan dengan lebih efektif, serta konsistensi dan berkesinambungan;

2) Pemahaman masa depan lebih mantap;

3) Usaha-usaha peningkatan mutu dapat lebih terarah.

 Bila dikaitkan dengan proses perubhan menurut Kotter, visi yang baik memiliki tujuan utama sebagai berikut:

(1) menjelaskan  arah umum perubahan kebijakan organisasi;

(2) memotivasi karyawan untuk bertindak dengan arah yang benar;

(3) membantu proses mengoordinasi tindakan tertentu dari yang berbeda-beda.  

        Kepemimpinan Visioner atau visionary leadership kepala madrasah memiliki konsep dasar seorang pemimpin yang dapat memiliki ide-ide untuk berinovasi karena memiliki konsep pemikiran yang jauh ke depan dan membawanya kemasa kini. Seorang pemimpin yang visioner yakni pemimpin yang memiliki visi, dan memiliki semangat untuk mengaplikasikanya secara nyata, karena menjadikan visi sebagai dasar organisasi. Untuk memiliki visi yang dapat menjadi dasar dari organisasi yang dipimpinya maka pemimpin yang visioner harus memiliki daya pandang jauh kedepan, dan berusaha untuk menggerakkan orang-orang kearah impian bersama ke arah yang jelas sehingga visi harus dirumuskan secara jelas dan realistis. Selain memiliki visi seorang pepmimpin yang visioner juga harus dapat menerjemahkan visi menjadi sebuah aksi sehingga visi yang dibuat dapat dimplementasikan ke dalam kegiatan sekolah dan programprogram sekolah. dapat ditarik kesimpulan bahwa sbuah visi merupakan pandangan umum organisasi/lembaga/pemimpin terhadap cita-cita yang ingin dicapai yang dirumuskan melalui sebuah kalimat yang tegas dan efektif yang dapat mewakili cita-cita tersebut, sedangkan misi merupakan tujuan ksusus organisasi/pemimpin terhadap cita-cita yang hendak dicapai yang telah dirumuskan ke dalam visi yang biasanya dirumuskan kedalam beberapa kalimat yang menegaskan poin poin apa saja yang hendak dicapai pada sebuah visi yang telah dirumuskan.


B. Karakteristik Kepemimpinan Visioner

Kepemimpinan visioner ini memiliki karakteristik yang membedakan dengan karakteristik model-model kepemimpinan lainnya. Istilah kepemimpinan visioner mengekspresikan ciri-ciri khusus yang mewarnai penampilan kepemimpinannya sehingga membentuk identitas yang merefleksikan substansinya dan membedakan dengan model-model kepemimpinan lainnya. Karakteristik itu membantu kita dalam memahami substansi kepemimpinan visioner dan membedakan secara tajam dengan model-model kepemimpinan lainnya yang begitu banyak. Terutama, modelmodel kepemimpinan yang populer belakangan ini. Walaupun terkadang terdapat titik-titik kesamaan maupun perbedaannya sangat tipis dengan model kepemimpinan tertentu lainnya sehingga agak mengaburkan pemahaman kita. Karakteristik kepemimpinan visioner ini mengundang perhatian para ahli untuk merumuskannya.
          Burt Nanus menyatakan bahwa “pemimpin visioner merupakan pemimpin yang efektif berdasakran karakteristik antara lain:

(1) senantiasa memiliki rencana;

(2) berorientasi penuh pada hasil;

(3) mengangkat visivisi baru yang menantang, menjadi kebutuhan dan terjangkau;

(4) mengkomunikasikan visi;

(5) mempengaruhi orang lain untuk memperoleh dukungan; dan

(6) bersemangat memanfaatkan sumber daya untuk  mewujudkan visi.

 Sementara itu, menurut Aan Komariyah dan Cepi Trianita, “pemimpin visioner mempunyai karakteristik:

(1) fokus ke masa depan yang penuh tantangan dan mampu menyisiatinya;

(2) menjadi agen perubahan yang unggul;

(3) menjadi penentu arah organisasi yang memahami prioritas; (4) menjadi pelatih profesional;

(5) membimbing orang ke arah profesisionalisme kerja yang diharapakan”.

 Menurut Shaskin, “pemimpin visioner memiliki tiga karakteristik yaitu, berpikir ke masa depan, membangun dan menggambarkan visi yang jelas, dan terlibat bersama orang lain dalam memncari dukungan untuk visi.”

Pertama, berpikir ke masa depan, ia memfokuskan kerja pokoknya pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan. Ia juga mampu dan cerdik dalam menyiasati masa depan, yakni memperkirakan dan menyiapkan diri atas perubahan yang terjadi akibat globalisasi, reformasi dan pelaksanaan pemerintahan terhadap organisasi yang dipimpinnya di masa depan.

Kedua, membangun dan menggambarkan visi secara jelas serta menggunakan metode untuk mencapai visi tersebut. Pemimpin visioner memiliki kemampuan merumuskan visi yang jelas inspiratif, dan menggugah karena ia adalah pemikir strategis. Ketiga, terlibat bersama orang lain dalam mencari dukungan untuk visi, pemimpin visioner selalu memberdayakan
orang lain (empowering) dan mempengaruhi mereka untuk mendapat dukungan dalam mewujudkan visi.

Peter dan Austin dalam Sagala mengemukakan perlunya pemimpin yang memiliki visi dan misi atau disebut dengan pemimpin visioner dalam setiap institusi, yang dekat dengan pelanggan/masyarakat, memiliki gagasan inovatif, dan punya semangat kerja tinggi. Visionariy adalah mereka yang telah mengalami Persanal Victory. Dengan membiasakan diri bersikap proaktif (be proactive), terbiasa memulai aktifitas dengan membayangkan hasil akhirnya dalam fikiran (begin with the end in mind), dan terbiasa mendahulukan hal-hal yang utama (pur first thing first), serta terbiasa untuk memperbarui diri secara terusmenerus (self renerwal).

 Menurut Andrians, seorang visioner kesadaran terhadap besarnya ponensi yang belum teraktualisasikan dengan baik, ciri manusia visioner ada dua adalah:

1. Memiliki rasa tidak puas melihat status quo dan kemapanan yang dibarengi dengan suatu pandangan yang amat tajam mengenai kemungkinan menciptakan relasi baru di masa depan. 2. Visioner adalah kemampuan untuk melihat sebuah ide, impian, masa depan sebagai sebuah kenyataan.

 Selain itu seorang pemimpin yang visioner memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Berwawasan ke masa depan : pemimpin visoner mempunyai pandangan yang jelas terhadap suatu visi yang ingin di capai, agar organisasi yang dia masuki dapat berkembang. Sesuai dengan visi yang ingin dia capai.

2. Berani bertindak dalam meraih tujuan, penuh percaya diri, tidak peragu dan selalu siap menghadapi resiko. Pada saat yang bersamaan, pemimpin visioner juga menunjukkan perhitungan yang cermat, teliti dan akurat. Dalam memperhitungkan kejadian yang di anggapnya penting.

3. Mampu menggalang orang lain untuk kerja keras dan kerjasama dalam menggapai tujuan. Pemimpin visioner adalah sosok pemimpin yang patut di contoh, dia mau membuat contoh agar masyarakat sekitar mencontoh dia.

4. Mampu merumuskan visi yang jelas, inspirasional dan menggugah, mengelola „mimpi‟ menjadi kenyataan: pemimpin visioner sangatlah orang yang mempunyai komitmen yang kuat terhadap visi diembannya, dia ingin mewujudkan visinya kedalam suatu organisasi yang dipimpinya.

5. Mampu mengubah visi ke dalam aksi : dia dapat merumuskan visi kedalam misinya yang selanjutnya dapat diserap anggota organisasi. Yang dapat menjadikan bahan acuan dalam setiap melangkah kedepan.

6. Berpegang erat kepada nilai-nilai spiritual yang diyakininya: pemimpin visioner sangatlah profesionalitas terhadap apa yang diyakini, seperti  nilai-nilai luhur yang ada di bangsa ini. Dia sosok pemimpin yang bisa dijadikan tauladan.

7. Membangun hubungan (relationship) secara efektif: pemimpin visoner sangatlah pandai dalam membangun hubungan antar anggota, dalam hal memotivasi, memberi, membuat anggotanya lebih maju dan mandiri.

8. Inovatif: dalam berfikir pemimpin visioner sangatlah kreatif dia mengubah berfikir konvesional menjadi paradigma baru, dia sangatlah sosok pemimpin yang kreatif dan aktif. Selain hal-hal di atas seorang visionary leadership juga memiliki karakter yakni memiliki komitmen dalam mencari peluang-peluang yang menantang, berani mencoba dan mengambil resiko sebagai upaya mencapai visi. Hal-hal tersebut di ataslah yang erat kaitannya dengan karakteristik kepemimpinan visioner.


C. Langkah-langkah Kepemimpinan Visioner Pendidikan

Kepemimpinan Visioner(Visionary Leadership) adalah kemampuan pemimpin dalam mencipta merumuskan, mensosialisasikan atau mentransformatifkan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosiaol diantara anggota organisasi dan stakehorders yang meyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus diraih atau diwujudkan melalui komitmen semua personil.

 Visi harus disegerakan sehingga tetap sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan. Karena visi dalam konteks ini merupakan atribut utama seorang pemimpin. Sudah menjadi tanggung jawab dan tugas pemimpin untuk melahirkan, memelihara, mengembangkan, menerapkan dan menyegerakan visi agar tetap memiliki kemampuan untuk memberikan respons yang tepat dan cepat terhadap berbagai permasalahan dan tuntunan yang dihadapi lembaga pendidikan.

Pelaksanaan kepemimpinan visioner kepala madrasah dapat menempuh strategi, antara lain:

 1. Penciptaan,

2. Merumuskan,

3. Mensosialisasikan,

4. Menstranformasikan serta,

5. Implementasi Visi.

1. Penciptaan Visi Visi tercipta dari hasil kreatifitas pikir pemimpin sebagai refleksi profesionalisme dan pengalaman pribadi atau sebagai hasil elaborasi pemikiran mendalam dengan personil lain berupa ide-ide ideal tentang cita-cita organisasi di masa depan yang ingin diwujudkan bersama. Pemimpin sebagai pencipta visi berarti mampu memikirkan secara kreatif masa depan organisasi. Terbentuknya visi dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pendidikan, pengalaman profesional, interaksi dan komunikasi, pertemuan keilmuan, kegiatan intelektual yang membentuk pola pikir (mindset) tertentu. Dengan demikian visi tersebut terbentuk dari perpaduan antara inspirasi, imajinasi “insight”, nilai-nilai informasi, pengetahuan dan judgement”.49 Terdapat dua tahapan dalam penciptaan visi yakni Trend
Waching dan Evisioning. Trand Waching adalah kemampuan tingkat tinggi untuk memprediksikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan melalui kepekaannya menangkap signal-signal dan perubahan sebagai peluang. Sementara Evisioning adalah kemampuan pimpinan untuk menciptakan visi berdasarkan pengamtan trend perubahan yang akan terjadi di masa yang akan datang. serta harus ada campur tangan dari komite atau personel untukmemberikan masukan dalam penciptaan visi.

2. Perumusan Visi Kepemimpinan visioner dalam tugas perumusan visi adalah kesadaran akan pentingnya visi dirumuskan dalam statement atau pernyataan yang jelas dan tegas agar dapat menjadi komitmen semua personil. Visi harus dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan dan harapan stakeholder potensial dan kegiatan utama lembaga. Visi dirumuskan dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami dan menunjukkan suatu keadaan sekolah/madrasah dalam jangka panjang (5- 10 tahun). Secara lengkap perumusan visi yang baik harus:

a. Menggambarkan kepercayaan-kepercayaan dan kebutuhan dan harapan stakeholder sekolah/madrasah.
b. Menggambarkan apa yang diinginkan pada masa yang akan datang.

c. Spesifik hanya khusus untuk sekolah/madrasah tertentu.

d. Mampu memberikan inspirasi.

e. Jangan mengasumsikan pada sistem yang sama.

f. Terbuka untuk dilakukan pengembangan sesuai dengan organisasi yang ada, medologi, fasilitas, dan proses pembelajaran.

 Visi yang baik dirumuskan secara sederhana dan terfokus, dapat ditangkap maknanya oleh staf atau tenaga pelaksanaan, menggambarkan kepastian, dapat dilaksanakan serta realistik. Visi yang demikian itu harus menckup hal-hal berikut:

 a. Visi yang mampu merangsang kreativitas kepala madrasah, guru. Staf, tata usaha, dan anggota komite madrasah.

b. Visi yang menumbuhkan kebersamaan bagi kepala madrasah, guru. Staf, tata usaha, dan anggota komite madrasah untuk tumbuh secara profesional.

c. Visi yang mampu mereduksi sikap egoistik-individual atau egoistik unit ke format berfikir kolegalitas, komprehensif dan bekerja dengan cara-cara yang dapat diterima orang lain.

d. Visi yang mampu merangsang sikap dan sifat dalam aneka perbedaan dalam diri kepala madrasah, guru. Staf, tata usaha, dan anggota komite madrasah, sekaligus menghargai.

e. Visi yang mampu merangsang seluruh anggota dari hanya bekerja secara peforma ke kinerja riil yang bermashlahat, efektif, efisien, dan dengan akuntabilitas tertentu.

Menurut Danil dan Daniels dalam Komariah dan Triatna menyatakan kejelasan perumusan visi melalui tiga fase proses, yaitu:

a) discovery berarti validasi, internalisasi, dan rasionalisasi atas proses globalisasi;

b) visualization adalah menggambarkan atau penjelasan konsep-konsep dalam membangun visi global;

c) actualization adalah sebuah pernyataan visi global yaitu perumusan dan pemasyarakatan visi dalam organisasi.

 Sosialisasi visi Visi harus disosialisasikan dan komunikasikan agar seluruh civitas akademik lembaga dapat menjalankannya dengan baik. Sosialisasi visi merupakan kemampuan membangun kepercayaan melalui komunikasi intensif dan efektif sebagai upaya shared visison pada stakeholders, sehingga diperoleh sense of belonging dan sense of
ownership. Visi perlu sosialisasikan dengan melakukan upaya berbagi visi dan diharapkan terjadi difusi visi dan menimbulkan komitmen seluruh personil.  Transformasi Visi Transformasi visi dilakukan dengan cara mencoba mengadakan penyesuaian, lalu meluruskan, menjernihakan dan mengembangakan visi melalui Misi diharapkan dapat digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran.

Kepala madrasah harus dapat mentransformasikan visi dengan baik, karena visi merupakan komponen sentral dari semua great leadership. Terminologi great leadership merujuk pada orang-orang yang duduk pada posisi pmpinan yang benar-benar piawai dalam memnjalankan tugas pokok dan fungsinya untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif, efisien dan dengan akuntabilitas tertentu. Implementasi Visi Implementasi visi merupakan kemampuan pemimpin dalam menjabarkan dan menerjemahkan visi ke dalam tindakan. Visi merupakan atribut kepemimpinan dan pembuatan keputusan yang strategik, efektif dan efisien dan dengan akuntabilitas tertentu.

 Dalam mengimplementasikan visi di perlukan strategi dan taktik. Setelah visi teridentifikasi dan ditentukan, maka pemimpin harus mampu menjelaskan dan  memperagakan visi agar dapat diterima oleh anggota dan dapat dilaksanakan. Seghingga di sinilah letak kemampuan atau keterampilan seorang pemimpin untuk memberikan keyakinan menyeluruh kepada komponen organisasinya tentang apa yang ingin dicapai dlam perjalanan organisasi yang dipimpinnya. Peran kepemimpinan visioner adalah untuk memberikan contoh atau cara kerja strategis dalam mengimplementasikan visi.

 Visi harus dapat diwujudkan dalam kerja kepemimpinan yang terangkum dalam empat pilar di antaranya:

a. Penentu arah Pemimpin yang memiliki visi berperan sebagai penentu arah organisasi. Disaat organisasi sedang menemui kebingungan menghadapi berbagai pembaharuan-pembaharuan dan struktur baru. Visionary leadership tampil sebagai pelopor yang menentukan arah yang dituju melalui pikiran-pikiran rasional dan cerdas tentang sasaran-sasaran yang akan dituju. Untuk menjadi seorang penentu arah yang tepat, pemimpin harus memiliki kemampuan menganalisis posisi misalnya dengan analisis SWOT yang kemudian disharing kan dengan personil lainya. Peran kepemimpinan visioner dalam hal ini untuk membimbing dalam menetapkan arah yang harus dituju dalam pengimplementasikan visi sekolah.

b. Agen perubahan
Visionary leadership berperan sebagai agen perubahan. Pemimpin bertanggung jawab untuk dapat melakukan perubahan di lingkungan internal, dengan memimpikan kesuksesan organisasi melalui gebrakan-gebrakan baru yang memicu kinerja dan menerima tantangan-tantangan dengan menterjemahkannya ke dalam agendaagenda kerja yang jelas dan rasional. Peran kepemimpinan yang memiliki visi adalah untuk menjadi pelopor inovasi dan meenjadi
trigger/pelopor bagi berbagai perubahan yang terjadi ke arah yang lebih baik dalam mengimplementasikan visi.

c. Juru bicara Kepemimpinan visioner berperan sebagai juru bicara. Seorang pemimpin tidak saja memiliki kemampuan meyakinkan orang dalam kelompok internal, tetapi lebih jauhnya lagi adalah bagaimana seorang pemimpin dapat mengakses dunia luar dan memperkenalkan serta mesnsosialisasikan keunggulan-keunggulan dan visi organisasinya yang berimplikasi pada kemajuan organisasi. Peran kepemimpinan visioner menyampaikan pokok-pokok pikiran, gagasan dan tulisan dan mampu berkomunikasi secara emphatik dalam membangun komitmen dan penyampaian berbagai kepentingan yang berhubungan dengan implementasi visi.

d. Pelatih Kepemimpinan visioner berperan sebagai pelatih, sebgai pelatih dituntut kesabaran dan suri tauladan (yang didasari kemampuan/keahlian dan akhlak mulia). Sebagai pelatih yang efektif pemimpin harus mengkomunikasikan, mensosialisakan sekaligus bekerja sama dengan orang lain untuk membangun, mempertahankan, dan mengembangkan visi yang dianutnya, basic competencies yang dipersyaratkannya, budaya yang harus diciptakan, dan perilaku yang harus ditampilkan oleh organisasi dan bagaimana cara-cara merealisasikan visi ke dalam budaya dan perilaku organisasi. Ini  semua menuntut pemimpin sebagai pakar/ahli yang bertugas sebagai pelatih yang dapat menularkan kemampuannya kepada orang lain. peran kepemimpinan visioner untuk memberikan contoh atau cara kerja strategis dalam memngimplementasikan visi.

Kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan dasar manajemen sekolah dan mengharapkan adanya peningkatan kualitas pendidikan adalah kepemimpinan yang memiliki visi serta kepemimpinan yang tugas pokoknya difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh dengan tantangan. Kemudian menjadikan dirinya sebagai agen perubahan yang unggul dan menjadi penentu arah organisasi yang memahami prioritas, menjadi pelatih yang profesional serta dapat membimbing personil lainnya kearah profesionalisme kerja yang diharapkan.  Penciptaan dan perumusan Visi sekolah dilakukan secara mendalam dengan menganalisa kondisi saat ini dengan dinamika perubaanperubahan yang terjadi dan prediksi-prediksi tantangan di masa depan serta mengandung nilai-nilai sekolah dan budaya lokal. Visi dirumuskan oleh tim sekolah dengan melibatkan unsur-unsur yang berkompeten dibidang pendidikan dengan melibatkan stakeholder.

Kemudian rumusan visi dikomunikasikan dan ditransformasikan agar dapat diimplementasikan sehingga visi dapat menjadi komitmen yang inspiratif, mudah diingat, dan mampu memberikan semangat hidup bagi personel sekolah yang kemudian akan berorientasi perbaikan di masa kini dan masa depan kepemimpinan visioner berdasarkan Islam tidak terlepas dari tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW., sebagai suri tauladan bagi ummat Islam se-dunia dan menjadi hujjah atau pedoman bagi pengikut-Nya. Islam memandang kepemimpinan visioner berdasarkan al-Qur‟ an dan al- Hadits antara lain Adanya kepemimpinan visioner dalam perspektif Islam yang telah dipraktekkan Nabi Muhammad SAW., selama berada di Madinah.

Karena kota Madinah merupakan sebuah kota di mana Rasulullah SAW., telah mampu mengembangkan dan mengaktualisasikan kepemimpinannya dengan skala yang lebih besar serta didorong langsung oleh antusias masyarakat yang menginginkan seorang pemimpi yang dapat mejadi tauladan. Nabi Muhammad SAW, sebagai visioner ditandai dengan adanya:

1) visi kebesaran/keagungan,

2) misi agung di muka bumi,

3) tujuan, sasaran dan target dalam mencapai risalah Isalam,

4) rencana tindakan yang telah dibuat dengan matang, dan

5) ajaran untuk membagi kekalifahan.

Kepemimpinan visioner kerja pokoknya difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan. Masa depan bagi Umat Islam adalah Akhirat. Percaya kepada hari Kiyamat adalah rukun Iman yang Ke-lima. Allah dan RasulNya telah mengharuskan kepada kita untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi hari Akhir Nanti. Kepemimpinan visioner adalah kepemimpinan yang berkualitas, salah satunya cirinya adalah memiliki antusiasme  terhadap perkembangan lembaga yang dipipimnya.

Kepemimpinan visioner salah satunya ditandai dengan adanya perrencanaan yang jelas sehingga dari rumusan visinya tersebut akan tergambar sasaran apa yang hendak dicapai dari pengembangan lembaga yang dipimpinnya. 59 Firman Allah Swt dalam Qs. Al-Hasyr (59): 18: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 Ayat tersebut menjelaskan bahwa sebagai orang yang beriman diajarkan untuk memiliki sifat yang visioner, untuk selalu memperhatikan yang diperbuatnya hari ini dalam rangka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di hari esok/ atau masa depan. Adapun dasar-dasar kepemimpinan Visioner dalam Islam adalah sebagai berikut: Kepemimpinan Visioner adalah kepemimpinan yang bervisi. Visi agung dalam Islam adalah Tauhid. QS Al-Ikhlas (112); 1-4:
Artinya: 1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.".

 Ayat tersebut merupakan sebuah visi agung yang diemban oleh Rasulullah kala menjalankan tugasnya sebagai Rasul Allah untuk mentauhidkan Umat dan sekaligus menjadi pemimpin kala itu. Sehingga dapat dilihat betapa visionernya beliau memiliki visi dan berusaha keras untuk mewujudkannya.

Kepemimpinan Visioner memiliki dan mengemban Strategi dan perencanaan yang tepat untuk mencapai visi. QS. Al-Hasyr (59) ayat 18:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah
kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat di atas menjelaskan tentang bagaimana orang beriman yang bertakwa kepada Allah hendaknya memperhatikan apa yang telah dilakukannya agar dapat mengambil hikmah dari yang telah lalu dan dapat menjadi lebih baik di masa yang akan datang atau hari esok. Jika ditarik ke dalam ranah kepemimpinan visioner hendaknya seorang pemimpin senantiasa mengevaluasi tentang apa yang telah dicapai dan hendaknya dari hasil evaluasi tersebut dapat memiliki perencanaan  sekaligus strategi baru untuk senantiasa memperbaiki mutu dari sebuah lembaga pendidikan yang dinaunginya.

Kepemimpinan Visioner selalu bekerja sama dengan orang lain untuk mendukung visi. Qs. Tha Ha (20); 44: Artinya: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".

 Seorang pemimpin yang visioner untuk mewujudkan visi misinya, tentunya perlu adanya dukungan dari seluruh stake holder. Sehingga perlu adanya komunikasi yang baik antara pemimpin dengan seluruh anggota setakeholder sekolah. dalam ayat tersebut tentunya dijelaskan dengan mengginakan komunikasi yang baik, agar dapat terjalin hubungan yang baik antara pemimpin dengan seluruh stakeholder sehingga visi dapat diwujudkan dengan bersama-sama dan menjadi tanggungjwab bersama atau komitmen bersama.  

Kemimpinan visioner memiliki kemampuan yang baik untuk menjadi penentu arah/ pemberi petunjuk. Qs. Al-Anbiya‟(21); 73: Artinya: Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami
wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah.

 Berdasarkan ayat tersebut di atas seorang pemimpin yang visioner hendaknya dapat menjadi penunjuk arah sekaligus penentu arah dari tujuan lembaga Madrasah melalui kebiajakan lembaga yang terterenacana pada program kerja. Sehingga sebuah lembaga pendidikan ibarat sebuah kendaraan dan visi merupakan sebuah roda dan penggeraknya adalah seorang pemimpin 

Tugas Kuliah:

Buatlah rangkuman materi kuliah dan berilah catatan penting menurut anda. Kirimkan tugas ke WA group paling lama 7 (tujuh) hari setelah kuliah.  

 

No comments:

Post a Comment