potensi sda p berhala sergei

Tulisan Dr.Ir.Hamzah Lubis,SH.M.Si berjudul “Potensi Sumberdaya Alam Laut Pulau Berhala Kabupaten Serdang Bedagai”, telah dimuat pada Majalah Rona di Medan, Volume 10 Nomor 4 tahun 2011, hal.4-10
Hamzah Lubis, Bsc.,Ir.,SH.,M.Si,Dr
*Dewan Daerah Perubahan Iklim Provsu *Mitra Baharai Provsu *Komisi Amdal Provsu
*Komisi Amdal  Medan *Pusat Kajian  Energi Terbarukan-ITM *Jejaring HAM KOMNAS HAM-RI
*KSA XLII/1999 LEMHANNAS *aktifis hukum/ham/lingkungan/pendidikan







POTENSI SUMBERDAYA ALAM LAUT PULAU BERHALA
 KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

Latar Belakang
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2002 telah menetapkan tiga buah   pulau-pulau kecil  di Sumatera Utara sebagai pulau-pulau kecil terluar sebagai titik garis pangkal kepulauan dari 92 buah pulau kecil terluar Indonesia. Salah satu pulau tersebut adalah pulau  Berhala di selat Malaka, pada koordinat 030 46’ 38” lintang utara dan 990 30’ 03” bujur timur dan pulau lainnya adalah Pulau Simuk dan Pulau Wunga di Pantai Barat Sumatera Utara.
Mengacu kepada Undang-undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan  Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, pada pasal 24 dijelaskan  bahwa: ”Pulau kecil, gosong, atol  dan gugusan karang yang ditetapkan  sebagai titik pangkal pengukuran perairan Indonesia ditetapkan oleh Menteri  sebagai kawasan yang dilindungi”.  Pada penjelasannya disebutkan bahwa kawasan yang dilindungi merupakan kawasan  yang harus tetap dipertahankan  keberadaannya dari kerusakan  lingkungan,  baik yang diakibatkan oleh tindakan  manusia maupun  yang diakibatkan oleh alam untuk menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia.
Tujuan utama konservasi, menurut ‘Strategi Konservasi Sedunia’ (World Conservation Strategy), ada tiga yaitu: (a) memelihara proses ekologi yang esensial dan sistem pendukung kehidupan, (b) mempertahankan keanekaan genetis, (c) menjamin pemanfaatan jenis (spesies) dan ekosistem secara berkelanjutan. Untuk mendapatkan strategi pengelolaan sumberdaya alam pulau-pulau kecil terluar ini, diperlukan data awal potensi sumberdaya alam. Oleh karena data ini belum ada, maka penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian.

Studi Kepustakaan
Konservasi (conservation) dapat diartikan sebagai suatu usaha pengelolaan yang dilakukan oleh manusia dalam memanfaatkan biosfir sehingga dapat menghasilkan keuntungan sebesar – besarnya secara berkelanjutan untuk generasi manusia saat ini, serta tetap memelihara potensinya untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan dan aspirasi- aspirasi generasi- generasi yang akan datang. Berdasarkan pengertian tersebut, konservasi mencakup berbagai aspek positif, yaitu perlindungan, pemeliharaan, pemanfaatan secara berkelanjutan, restorasi, dan penguatan lingkungan alam. Pengertian tersebut juga menekankan bahwa konservasi tidak bertentangan dengan pemanfaatan aneka ragam varietas, jenis dan ekosistem untuk kepentingan manusia secara maksimal selama pemanfaatan tersebut dilakukan secara berkelanjutan.
 Secara umum bentuk konsevasi dapat dibedakan atas dua golongan besar, yaitu (a) melakukan konservasi jenis- jenis di habitat aslinya (konservasi in- situ) dan (b) konservasi di luar habitat aslinya (konservasi ex- situ).
Konservasi in- situ dimaksudkan untuk konservasi keanekaragaman jenis dan genetik di daerah yang dilindungi yang mencakup cagar alam (daerah yang khusus dilindungi), hutan lindung (hutan memiliki fungsi utama pengatur tata air dialam / sistem hidrologi ), suaka marga satwa (daerah untuk konservasi satwa), hutan wisata (hutan yang dikonservasi untuk fungsi pariwisata), taman wisata laut (laut yang dikonservasi untuk  pariwisata), hutan buru (diperuntukkan untuk perburuan satwa   liar) dan taman nasional (prinsipnya sama seperti cagar alam, tetapi didalamnya ada bagian yang dapat dimanfaatkan untuk pariwisata, selama tidak bertentangan dengan tujuan konservasi).
Kelebihan konservasi in- situ, antara lain bahwa keanekaragaman genetik / varietes atau jenis dialam diharapkan kehidupannya lebih baik, karena varietes atau jenis itu telah hidup di habitat yang asli yang sesuai, karena telah melakukan proses adaptasi yang sangat lama, dapat ratusan bahkan ribuan tahun sehingga keliarannya dapat dipertahankan. Keuntungan lain, karena berbagai varietas dan jenis hidup di alam bebas, maka tidak di butuhkan peralatan yang canggih untuk memeliharanya agar varietas- varietas atau jenis- jenis tidak rusak.
     kriteria ekologi pemilihan calon lokasi konservasi didasarkan atas keriteria –kriteria berikut :
1.Keanekaragaman,  varietas atau kekayaan (richness) ekosistem, habitat, komunitas, dan species.
2.Alamiah,  yaitu ketidakadaan gangguan atau perusakan.
3.Ketergantungan, yaitu tingkatan yang mana suatu species tergantung pada daerah yang ditempati, atau tingkatan yang mana suatu ekosistem tergantung pada proses ekologis yang terjadi di daerah tersebut.
4.Perwakilan (Representativeness), tingkatan yang mana suatu daerah mewakili suatu tipe habitat, proses ekologis, komunitas biologis, kondisi fisiografis atau karakteristik alami lainnya.
5.Keunikan, sebagai contoh adalah habitat dari species langka yang terdapat hanya di satu daerah.
6.Integritas, yaitu tingkatan yang mana suatu daerah merupakan suatu unit yang berfungsi atau efektif, mampu melestarikan ekologis sendiri.
7.Produktivitas, yaitu tingkatan yang mana proses produksi di dalam area menyumbangkan keuntungan-keuntungan kepada species atau manusia.
8.Kerentanan ( Vulnerability), yaitu kerentanan daerah terhadap kerusakan oleh peristiwa alam atau aktivitas manusia.

Metoda penelitian
    Metoda penelitian tutupan terumbu karang dengan metoda transek garis (line transec), untuk  ikan terumbu karang dengan metoda Underwater Fish Visual Census (UVC) sedangkan tumbuhan dengan metoda pencacahan.

Hasil Penelitian
1. Gambaran Lokasi Penelitian
Pulau Berhala memiliki luas lk.42 hektar pada koordinat 030 46’ 38” U dan 990 30’03” T atau sekitar 17 km  dari bibir pantai Tanjung Beringin dan sama dengan 65 km dari Pelabuhan Belawan, Medan. Secara  administrasi pulau Berhala berada di Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Deliserdang, Propinsi Sumatera Utara.  Di Pulau Berhala, terdapat titik dasar (TD) 184 yang merupakan titik yang dipakai untuk merekontruksi garis batas landas kontinen kedua negara (Indonesia dan malaysia) sejak tahun 1973.
Gugusan pulau Berhala terdiri atas pulau Berhala, dengan anak pulau (sokong) Nenek   seluas lk. 0,25 hekta are  yang hanya berjarak 200 meter dari pulau Berhala     kearah timur.  Anak pulau kedua, pulau (sokong) Datuk  yang mirip dengan pulau Berhala seluas lk.0,5 hektar are yang berada di sebelah barat pulau Berhala.
Pulau berhala dan anak-anak pulaunya dapat digolongkan kedalam jenis pulau dengan pantai berbatu besar. Dasar pulau adalah bebatuan keras sehingga pulau ini mampu bertahan atas terjangan gelombang pasang sepanjang waktu. Pada bagian selatan pulau pada arah barat terdapat pantai berpasir putih sepanjang  lk.150 meter dengan lebar 15-20 meter yang sekarang berada di depan Pos Kamla TNI-AL pulau Berhala.  Bagian selatan pulau setelah melewati bebatuan besar  dari pantai berpasir di depan Pos Kamla akan ditemukan pantai pasir putih sepanjang lk.500 meter dengan lebar pantai 15 - 25 meter. Pada bagian timur pulau terdapat pulau pantai berpasir putih sepanjang  125 meter dengan lebar 15-20 meter. Konstur pulau berhala bergunung seperti kuali terbalik dengan ketinggian lk.350 meter.

2. Kondisi Terumbu karang
Tutupan terumbu karang sudah mulai terlihat pada kedalaman 50 centimeter. Dari tiga transek yang dilakukan, transek pada pertama ditemukan tutupan terumbu karang yang hidup dari marga Acropra sebesar 25.20% yang didominasi oleh Acropora encrusting (4.40%) dan Acropora Branching(10.80%).  Selain Acropora juga ditemui marga Non Acropora 12.15 % yang didominasi Foliose (8.20%). Dasar terumbu terdiri dari Dead Scleractina 2.80 % didominasi dead coraln(2.80%), Alga 54,90 % didominasi turf (54.40%), dan abiotik  4.95 %.
Pada transek dua ditemukan tutupan terumbu karang yang hidup dari marga Acropra sebesar 28.85 % yang didominasi oleh Acropora encrusting (28.85%).  Selain Acropora juga ditemui marga Non Acropora 26.60 % yang didominasi Branching (9.50%)  Massive (6.15%) dan Encrusting(6.00%). Alga 27.90 % didiminasi Turf (27.90%), dan abiotik  16.75 % didominasi sand (16.75%). Demikian juga pada transek 3 ditemukan terumbu karang yang hidup dari marga Acropra sebesar 35.50 % yang didominasi oleh Acropora encrusting (35.50%).  Selain Acropora juga ditemui marga Non Acropora 21.95 % yang didominasi submassive (9.75%) dan Branching (8.50%)  . Alga 28.15 % didiminasi Turf (28.15%),  other fauna 1.15% dan abiotik  10.95 % didominasi sand (5.75%) dan rock (5.20%).
Dari ketiga transek, rata-rata terumbu karang yang hidup dari marga Acropra sebesar 30.85 % , Non Acropora 20.23 %,dead seleractinia 0.93%, Alga 36.98 %,  other fauna 1.15% dan abiotik  10.88%. Dengan demikian kondisi terumbu karang masuk kategori baik.

3. Kondisi ikan Karang
Dari pengematan ikan, ditemukan 40 jenis dalam 9 suku. Terdapat suku ikan indikator    yaitu Chaetodonidae  dengan 10 jenis yang didominasi jenis Heniochus difohreutes.  Ikan target  14 jenis dari 5 suku Haemulidae didominasi jenis Plectorhinchus polytaenia, Serranidae.  Ikan  Mayor terdapat 16 jenis berasal dari 3 suku  yang didominasi suku  Pamancentridae dengan jenis dominan adalah Pamancentridae Chromiscaudalis  , suku Labridae yang didominasi jenis  Coerodon cauteroma dan suku Scaridae yang didominasi suku Scarus flavipectoralis.
                                   
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukan bahwa tutupan terumbu karang dalam kategori baik demikian juga   keragaman suku dan jenis ikan, baik  ikan indikator, ikan target dan ikan mayor tinggi. Pantai pulau memiliki  pantai berpasir  putih yang memiliki  potensi ekowisata

Kepustakaan
Abdillah,D. 2006.Pengelolaan Pulau-Pulau Terluar Diperbatasan Indonesia-Malaysia: Studi Kasus Pulau Karimun Kecil, Kepulauan Riau
Atmaja,M.K. 1992. Perlindungan dan Pelestarian Lingkungan Laut: Dilihat dari Sudut Hukum Internasional, Regional dan Nasional. Jakarta : Sinar Grafika
Anwar, J. Sengli,J.D. Nazaruddin,H. dan Anthoni,J.W. 1984. Ekologi Ekosistem  Sumatera. Yogyakarta : UGM Press
Adi,S.H dan Budi,W. 2001. P.Sebesi; Pengembangan Daerah Perlindungan Laut  Warta Pesisir dan Lautan,No.1 th.3 -2001
Bengen,D.G. Amiruddin,T dan Budi,W.2003. Program Daerah Perlindungan Laut Pulau Sebesi, Lampung Selatan. Jakarta: CRMP
Dahuri,R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut; Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Lubis, H, 2003. Teknik Pencegahan Pencemaran Pulau-Pulau Kecil: Studi Kasus Pulau Unggas, Tapanuli Tengah. Medan: Gelora Madani Press
Mustopa dan LY.2002. Menciptakan Istana Para Ikan. Majalah Forum Keadilan, No.47 , 10 Maret 2002.
Pratikto,WA.2005. Menjual Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Jakarta: DKP-RI
Romimohtarto,K dan Srijuwana. Bilogi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta: Djambatan
Suwelo,I.S.2006. Ekspor Ikan Napoleon Humphea Wrasse Berada Dalam Pengawasan Cites. Warta Kehati Vol.14 No.2, April 2006
Supriatna,J. 2003. Segi Tiga Terumbu Karang Yang  Perlu Perhatian Indonesia,Tropika Indonesi, Vol.7 No.3 Priode Musim Panas, hal.10-12
Sundjaya, 2004.Perlindungan Laut Model Desa Kabalutan, Tropika Indonesia Vol.8 No.4 Oktober-Desember 2004

No comments:

Post a Comment