Energi Terbarukan, Energi Masa Depan



Tulisan “Energi Terbarukan, Energi Masa Depan”, dimuat pada SK. Perestasi  Reformasi di Medan, No.506 Thn ke XVII,  28  November 2016, Hal.6, Kol.1-7
Hamzah Lubis, Bsc.,Ir.,SH.,M.Si,Dr
*Dewan Daerah Perubahan Iklim Provsu *Mitra Baharai Provsu *Komisi Amdal Provsu
*Komisi Amdal  Medan *Pusat Kajian  Energi Terbarukan-ITM *Jejaring HAM KOMNAS HAM-RI
                                      *KSA XLII/1999 LEMHANNAS *aktifis hukum/ham/lingkungan/pendidikan





Kebutuhan Energ
Kebutuhan energi negara-negara maju anggota Organization for Economic Cooperation (OECD) pada tahun 2040, menurut International Energy Agency (IEA), mencapai 8 triliun dollar AS  atau setara Rp.114 Triliun. Konsumsi energi di kawasan Asia, menurut  Bank Pembangunan Asia (ADB) meningkat signifikan mencapai 22 persen dari 2010 sampai 2035. Proyeksi tersebut sejalan dengan tren peningkatan pembangunan sejumlah infrasturuktur di kota-kota besar di Asia. Kebutuhan energi di ASEAN yang meliputi bidang pembangkitan, transmisi maupun distribusi, menurut Boston Consulting Group (BSG), dalam laporan penelitiannya tentang  Global Busines  Report tahun 2013 membutuhkan investasi sekitar 500 miliar dollar AS. Daya itu meningkat  dari 650 terawatt per jam pada tahun 2010 menjadi 2414 terawatt per jam pada tahun 2030.
Dengan asumsi tingkat petumbuhan pendapatan domestic bruto (PDB) sebesar 5,2 persen per tahun dari tahun 2007 hingga 2030, maka sebanyak 160 juta manusia di ASEAN  masih hidup tanpa akses listrik, terutama di pedesaan dan desa terpencil. Meningkatnya kebutuhan energi ini, menyebabkan sejumlah negara akan masuk dalam daftar negara dengan krisis energi.  Negara  yang masuk keriteria mengalami krisis energi yaitu negara yang ketergantungan energinya lebih tinggi daripada energi yang dihasilkan di negeri itu sendiri.
Dalam skala nasional, posisi ketahanan energi Indonesia semakin merosot dalam dalam beberapa tahun belakangan ini. Berdasarkan data yang dirilis Dewan Energi Dunia, Indonesia berada diperingkat ke-69 dari 129 negara pada tahun 2014. Peringkat itu melorot tajam dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2010, Indonesia berada diperingkat ke-29 dan tahun 2011 ada diperingkat ke-47.
Dengan diimpornya 60 persen kebutuhan BBM nasional, maka Indonesia telah masuk dalam kategori negara  yang mengalami krisis energi. Indonesia akan terus menjadi net importer minyak jika tidak melakukan langkah-langkah untuk mendapatkan cadangan minyak baru. Karena itu, energi bersih atau energi terbarukan ditasbihkan sebagai jawaban atas kondisi tersebut.
Sumber Energi
Sumber energi dapat dibedakan yang berasal dari bumi (terresterial) dan yang berasal dari luar bumi (ekstra terresterial). Sumber energi dari bumi dapat dikategorikan jenis renewable (terbarukan) dan non-renwable (tidak terbarukan) atau depleted energy. Sumber energi tidak  yang dapat didaur ulang (non-renewable energy), yang berasal dari bumi adalah sumber energi konvensional yang pada umumnya merupakan energi tambang atau energi fosil yang berasal dari perut bumi, seperti minyak, gas, batubara dan energi nuklir.
 Sumber energi fosil, misalnya bahan bakar minyak khususnya akan segera habis paling lambat paada akhir abad ke-XXI. Gas alam diprediksi oleh para ahli akan habis lebih kurang 100 tahun lagi, sedangkan cadangan batubara akan habis lebih kurang 200 sampai 300 tahun yang akan datang. Ketiga jenis bahan bakar  fosil tersebut dikategorikan sebagai energi yang merusak lingkungan karena kadar polusinya cukup tinggi. Kadar CO2 semakin meningkat pada tahun –tahun terakhir ini.
Gas CO2 sebagai salah-satu gas rumah kaca (GRK) menyebabkan pemanasan global, mengakibatkan sebagian es di kutup mencair dan tinggi permukaan laut  terus meningkat mengakibatkan sebagian besar kota-kota yang berada di pantai di seluruh dunia akan tenggelam. Sumber energi yang dapat didaur ulang (renewable energy), seperti biomassa, biogas, kayu bakar.  Sumber energi yang tidak habis sepanjang masa (non-depleted) seperti sumber energi panas bumi, air, angin, gelombang laut, pasang surut, gradien suhu,  energi matahari yang dimanfaatkan secara langsung (photovoltaic) dan secara tidak langsung (radiation energy thermal energy) dan lainnya.

Energi Terbarukan
Indonesia memiliki berlimpah energi terbarukan. Data Komisi Energi Nasional, potensi energi  terbarukan Indonesia mencapai 800 gigawatt,  baru digunakan  sekitar 1 persen. Energi terbarukan tersebut, diantaranya potensi panas bumi 16.502 MW dimanfaatkan 1.341 MW, potensi energi hidro 75.000 MW dimanfaatkan 7.059 MW, potensi mini-mikrohidro 769,7 MW dimanfaatkan 512 MW, potensi angin 3-6 meter/detik  (950 GW) dimanafaatkan  1,33 MW, potensi energi matahari 4,8 kWh/m2/hari (112 GW Peak) dimanfaatkan 452,78 MW,  potensi gas metana batubara 453 MW, potensi gas batuan serpih/ shale gas 574 TSCF, panas bumi (28,8 GW) dan  energi arus laut (60GW). Potensi biomassa di Indonesia, 32.654 MW, namun baru 5,2 persen yang digunakan.
Kendati Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar, namun menurut Bali Energy Forum 2015, sebuah forum yang membahas sektor energi, pengembangan energi terbarukan masih memiliki banyak kendala. Dalam forum ini mencuat masalah pengembangan energi terbarukan terkendala pembiayaan. Juga terjadi perdebatan energi terbarukan jenis apa yang hendak diprioritaskan untuk dikembangkan. Apakah  tenaga panas bumi atau tenaga matahari yang lebih dulu diprioritaskan? Para pakar diforum itu, menyebutkan bahwa ongkos pengembangan energi terbarukan menjadi listrik sangat mahal. Tingkat ekonomisnya yang masih rendah dengan tingkat resiko yang tinggi, menyebabkan perbankan masih setengah-setengah untuk membiayai pengembangan energi terbarukan.

Kebijakan Energi
Salahsatu rekomendasi Bali Energy Forum 2015, di Nusa Dua, Bali, 19-20 Nopember 2015 lalu, adalah mendorong pemanfaatan secara optimal energi terbarukan. Energi terbarukan dipandang sebagai solusi jalan tengah terbaik peningkatan kebutuhan energi ditengah isu perubahan iklim. Energi terbarukan adalah energi yang ramah, (mungkin) murah dan berkelanjutan.
Kebijakan energeri terbarukan sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 30 tahun 2007 tentang Energi. Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dan dokumen RUEN.  Dewan Energi Nasional (DEN) telah mengesahkan Rencana Umum Energi Nasional,22 Juni 2016 lalu. 
Salah satu isi butir RUEN adalah: Pengembangan energi  baru terbarukan23 persen pada tahun 2025 harus dicapai. Mengacu pada isi RUEN, pemerintah akan membangun inprasturuktur enrrgi, mendorong konservasi energi, meningkatkan penguasaan teknologi  dibidang energi dan menjadikan nuklir menjadi salah-satu pilihan energi terakhir. Penggunaan energi nuklir harus dilakukan dengan melalui riset yang membuka kerjasama internasional dan melibatkan ahli nuklir dalam negeri.
Kapasitas energi terbarukan telah tumbuh dengan cepat seiring menurunnya biaya sampai kira-kira 70 persen dalam 10 tahun terakhir, meningkatnya pertumbuhan sampai 10 kali lipat. Energi terbarukan, termasuk air, kini berperan dalam sekitar seperlima pembangkit listrik global dan terus meningkat sampai dengan seperempat pada tahun 2018. Ketika diversifikasi energi terus bertambah, pelaku industri harus menemukan kobinasi yang paling efisien untuk memanfaatkan pembangkit listrik terbarukan dengan yang konvensional.
Pemerintahan Joko Widodo-Yusuf Kalla menyadari urgensinya masalah energi ini. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, kedaulatan energi dan ketenagalistrikan masuk dalam prioritas ke-7 Nawacita. Tidak mudah mewujutkan Nawacita ke-7 ini. Kedaulatan  energi adalah kemampuan bangsa untuk menetapkan kebijakan, mengawasi pelaksanaannya, dan memastikan jaminan ketersediaan energi dengan harga terjangkau dan mudah diakses, baik rumah tinggal, industri maupun kementerian/lembaga/pemda. Kedaulatan energi sebuah keharusan. Ia kan...


No comments:

Post a Comment