jurnal: Konditi Terumbu Karang Pulau Unggeh, Tapanuli Tengah

Tulisan Dr.Ir.Hamzah Lubis,SH,M.Si berjudul “Kondisi Terumbu Karang Pulau Unggeh, Tapanuli Tengah”, telah dimuat pada Jurnal KEMI-ITM, Medan, Volume 4 Nomor 1, April 2009, hal.19-24 
Hamzah Lubis, Bsc.,Ir.,SH.,M.Si,Dr
*Dewan Daerah Perubahan Iklim Provsu *Mitra Baharai Provsu *Komisi Amdal Provsu
*Komisi Amdal  Medan *Pusat Kajian  Energi Terbarukan-ITM *Jejaring HAM KOMNAS HAM-RI
*KSA XLII/1999 LEMHANNAS *aktifis hukum/ham/lingkungan/pendidikan







KONDISI TERUMBU KARANG PULAU UNGGEH, TAPANULI TENGAH

Abstrak
Strategi pengembangan pariwisata Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara adalah pada sektor wisata bahari. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah menetapkan prioritas pengembangan pariwisata       yang salahsatunya adalah Kecamatan Badiri berupa obyek wisata rekreasi wisata bahari. Potensi wisata bahari Kecamatan Badiri adalah pengembangan ekowisata di Pulau Unggeh. Oleh karena itu, dirasa perlu untuk melakukan penelitian potensi sumberdaya alam pulua khususnya terumbu karang. Penelitian untuk mendapatkan benthic lifeform,  indeks dominansi dan indek keanekaragaman terumbu karang.Hasil penelitian pada 4 ( empat) transek terumbu karang menunjukkan tutupan karang rata-rata 66,45% (status baik) dengan  indek dominansi untuk ACB (11,76), ACS ( 9, 41), CB ( 5,88),  CM ( 44,71)  dan DC (15,30) sedangkan indeks diversitas  (D) 3,80. Dengana demikian potensi terumbu karang layak dikembangkan untuk kegiatawan wisata alam.
Kata kunci: Terumbu karang, Pulau Unggeh

Pendahuluan
Pola dasar pembangunan derah Tapanuli Tengah, menitikberatkan kebijaksanaan pembangunan  di bidang ekonomi pada sektor pertanian, industri, pariwisata dan jasa. Untuk sektor pariwisata; pembangunan dan pengembangan kepariwisataan dengan memamfaatkan potensi yang sudah berkembang dan potensi pariwista yang baru.
            Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah menetapkan  strategi pengembangan pariwisata yang meliputi:
1.Pengembangan kepariwisataan berorientasi kepada pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkugan serta tidak merusak kelestarian budaya daerah.
2. Peningkatan kepariwisataan dengan upaya pembinaan obyek wisata, penyempurnaan pengelolaan, penggalian dan pelestarian seni budaya asli dan melengkapi fasilitas pendukung.
3.Mengembangkan obyek wisata baru yang memiliki nilai ekonomis dan belum tergarap.
4.Pengembangan pariwisata dilakukan dengan  perinsip tidak mengganggu sturuktur perekonomian masyarakat setempat sebagai dampak investasi yang dilakukan secara besar-besaran dan ekslusif.
5. Mempertinggi kesadaran masyarakat akan arti dan mamfaat kepariwisataan dalam pembangunan hingga dapat meningkatkan peran dalam memperluas kesempatan kerja serta penghasil devisa.
6.Prioritas wisata pengembangan dikategorikan kepada sektor wisata bahari.
            Rencanata Tata Ruang Wilayah  (RTRW)  Kabupten Tapanuli Tengah telah pula menetapkan prioritas pengembangan pariwisata       yang melipti:
1.Kecamatan Sibolga, berupa obyek wisata alam/bahari dan peninggalan sejarah.
2.Kecamatan Lumut (dengan pemekaran Kec.  Badiri) berupa obyek wisata taman
    rekreasi/wisata bahari.
3.Kecaatan Sorkam,  berupa wisata peninggalan  sejarah dan taman rekreasi.
4.Kecamatan Barus, berupa obyek wista peninggalan sejarah.
            Dari hal-hal di atas, maka terlihat bahwa strategi pengembangan pariwisata Kabupaten Tapanuli Tengah diantaranya adalah pengembangan obyek wisata baru dengan prioritas pengembangan wisata bahari. Demikian juga  bahwa prioritas pengembangan pariwisata di Kecamatan Lumut sebagai kecamatan  induk dari Kecamatan Badiri ( kecamatan pemekaran) dengan prioritas pembangunan pariwisata bidang pariwisata bahari. Obyek wisata bahari yang telah mulai dikunjungi wisatawan di Kecamaan Badiri  adalah obyek wisata bahari Pulau Unggeh.
Untuk melakukan perencanaan pengembangan wisata bahari Pulau Unggeh, diperlukan data-data sumberdaya alam dan salah satunya adalah data potensi terumbu karang. Oleh karena itu, penulis merasa perlu melakukan penelitian tentang potensi terumbu karang di Pulau Unggeh. Data-data ini diharapkan akan menjadi bahan perencanaan pengembangan pariwisata bahari Pulau Unggeh.

Studi Kepustakaan
Terumbu karang merupakan ekosistem khas yang terdapat di perairan tropis. Pada dasarnya terumbu terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat (CaCO3), yang dihasilkan  oleh organisme  karang pembentuk terumbu (karang  hermatipik) dari filum Cnidaria, ordo Scleractina yang hidup bersimbiosis  dengan zooxantellae, dan sedikit  tambahan dari algae berkapur serta organisme lain yang menyekresi kalsium karbonat (Bengen,2002).
Secara umum terumbu karang terdiri dari atas tipe: (1) terumbu karang tepi (fringing reef), (2) terumbu karang penghalang   (barrier  reef), dan (3) terumbu karang cincin atau atol. Terumbu karang tepi hidup di pinggir pantai sedangkan terumbu karang penghalang  berada jauh dari  pantai. Kedua tipe terumbu karang ini berfungsi sebagai pemecah gelombang (perbandingan 3 : 4  antara panjang gelombang dengan dalam laut) dan peredam energi gelombang untuk  perlindungan pantai (Lubis,2007a). Terumbu  karang cincin atau  atol  merupakan terumbu karang  yang munculnya di perairan yang jauh dari daratan.
Terumbu karang mempunyai peran utama sebagai tempat tinggal (habitat), tempat mencari makanan (feeding ground) tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi berbagai biota yang hidup di terumbu karang atau sekitarnya. Satu terumbu karang dapat menunjang 3.000 jenis biota lainnya (Romimohtarto, 2007). Produktivitas carbon  rata-rata terumbu karang 1.500 – 3.500 gC/m2/tahun dan maksimal 11.680 gC/m2/tahun (Supriharyono, 2007). Terumbu karang dapat dimanfaatkan untuk  bahan bangunan, bahan baku farmasi, obyek wisata dan kegiatan perikanan laut. Ekosistem terumbu karang memberikan potensi lestari sumberdaya ikan sekitar 80.802 ton ikan/km2/tahun (Motik, 2009).
Nilai ekonomi pariwisata (tourism) pulau-pulau kecil memberikan income multipler bagi kegiatan ekonomi lainnya, antara 0,55 sampai 0,67.  Setiap   US$ 1 yang dibelanjakan oleh wisatawan akan memberi dampak terhadap income penduduk lokal sebesar US$ 0,55-0,67 (Fauzi, 2005). Nilai ekonomi tersebut bisa terdepresiasi manakala  pengelolaan pulau-pulau kecil mengalami kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan menyebabkan menurunnya nilai sumber daya alam, menurunnya minat dan kunjungan wisatawan,  mengancam keberlanjutan pariwisata dan bahkan  menenggelamkan pulau.
Pengambilan terumbu karang per kilometer persegi hanya memberi keuntungan bagi pegambil (US$121.000),  tetapi memberi kerugian pada sektor perikanan (US$ 93.600), proteksi wilayah (US$ 12.000-260.000), sektor wisata (US$ 2900 – 481.900) dan sektor lainnya (Dahuri dalam Lubis, 2003).  Penelitian Ola (2004) di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, bahwa pengambilan karang untuk bahan bangunan mendegradasi terumbu karang 355,33 m2/tahun, menyebabkan penurunan ikan kerapu sebesar 19 ton/tahun di ekosistem terumbu karang.
            Pemerintah, melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 tahun 1990 tentang Pantai Lestari, telah menetapkan program  Taman Lestari (terumbu karang dan mangrove lestari) untuk kelestarian terumbu karang dan mangrove.  Untuk mengurangi perusakan, pengambilan dan perdagangan  terumbu karang, Amerika Serikat telah menetapkan sertifikasi (ecolabeling) terumbu karang untuk perdagangan bebas  (Ikawati, 2001).

Metoda Penelitian
Penelitian dilakukan di perairan Pulau Unggeh. Pulau Unggeh berada  pada koordinat  10 24’ 36’’  sampai 10 34’ 21’’   Lintang Utara  dan 980 45’ 11’’ sampai  980 45’ 19’’  Bujur Timur. Secara administrasi masuk desa Sitardas, Kecamatan Badiri (sebelumnya Kecamatan Lumut), Kabupaten Tapanuli Tengah. Luas pulau lk. 15,6 ha. Tujuan penelitian untuk mendapatkan benthic  lifeform report, indeks dominansi/ kelimpahan dan diversitas Indeks / indeks kaanekaragaman.
Benthic Lifeform Report adalah untuk mendapatkan percent cover tutupan karang, dihitung dengan rumus:  C =  a/A x 100 %, dimana C =  prosentase tutupan, a =  panjang penutuan dan A = panjang transek. Pengolahan data dalam bentuk  benthic lifeform report dan prosentase tutupan untuk hard corals acopora, hard corals non acropora, dead selection, algae, other fauna dan abiotic.
Indeks dominansi atau indeks kelimpahan menggambarkan komposisi jenis dalam komunitas dengan rumus Di = ni / N x 100 %  ; dimana Di = indeks dominansi, ni = jumlah individu/ jenis i dan N = jumlah individu/ dalam habitat. Indeks dominansi dengan keriteria “dominant” dimana Di > 5% dan “ sub dominant” dengan Di 2% - 5%.
Diversitas Indeks / Indeks kaanekaragaman adalah keanekaragaman komunitas ditandai banyaknya spesies dari organisme yang membentuk  komunitas tersebut. Semakin banyak jumlah spesies semakin tinggi keanekaragamannya. Indeks keanekaragaman menunjukkan hubungan antara jumlah spesies dengan jumlah individu  yang menyusun suatu komunitas. Indeks keanekaragaman Simpson dihitung dengan rumus: D = Ni (N – 1) / ni (ni -1) ; dimana  D = diversity indeks Simpson, Ni = jumlah total individu seluruh jenis , ni = jumlah total individu jenis ke- i.

Hasil penelitian
1.Gambaran Lokasi Penelitian
Wilayah Desa Sitardas mempunyai panjang garis pantai lk. 6 km dan berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Tinggi gelombang laut berkisar 0,6 – 2,5 meter, tinggi pasang surut rata-rata 0,70 m, tipe pasut campuran dan condong ke harian ganda , kedalaman laut 1 – 10 meter dengan jenis subtrat dasar pantai berpasir dan batu kerikil.
Perairan dengan pantai mempunyai salinitas rata-rata 18 ppt sedangkan diperairan lepas pantai (offshore) salinitas mencapai 30 ppt. Berdasarkan hasil pengukuran parameter fisik dan kimia perairan, didapat suhu permukaan laut  rata-rata 28 0C, kecerahan tinggi, TSS 32 ppm, warna laut biru hijau, kadar oksigen terlarut (DO) 7,6 ppm, BOD 7,2 ppm dan pH 8,2. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang  Baku Mutu Air Laut dengan mengacu kepada data-data yang ada maka perairan Pulau Unggeh dapat dinyatakan bahwa perairan tersebut belum tercemar, layak untuk kegiatan wisata bahari.  Dengan demikian potensi terumbu karang Pulau Unggeh  layak dikembangkan untuk kegiatan wisata bahari.
Penelitian potensi terumbu karang dilakukan pada garis (teransek) pengamatan. Setelah melakukan observasi terumbu karang di sekeliling Pulau Unggeh, maka ditetapkan 4 (empat) lokasi transek garis yang menjadi lokasi penelitian.Transek -1 di ujung barat sebelah utara pulau pada koordinat  10  34’ 32’’  Lintang Utara  dan 980 45’ 11’’ Bujur Timur, posisi garis berjarak 20 meter dari pinggiran pantai. Transek - 2 di ujung barat sebelah barat  pulau pada koordinat  10  34’ 32’’  Lintang Utara  dan 980 45’ 10’’ Bujur Timur, posisi garis berjarak 15 meter dari pinggiran pantai. Transek - 3 di ujung barat sebelah barat  pulau pada koordinat  10  34’ 31’’  Lintang Utara  dan 980 45’ 12’’ Bujur Timur, posisi garis berjarak 15 meter dari pinggiran pantai. Transek - 4 di ujung barat sebelah selatan  pulau pada koordinat  10  34’ 30’’  Lintang Utara  dan 980 45’ 11’’ Bujur Timur, posisi garis berjarak 20 meter dari pinggiran pantai.

2.Benthic Lifeform Report
Analisis hasil pengukuran didapat tutupan karang untuk  transek – 1, dimana prosentase tutupan untuk Hard cooral acopora 35,10 % , Hard cooral non acropora 64,90 % .sehingga total tutupan karang  100,00%. Untuk transek – 2, dimana prosentase tutupan untuk Hard cooral acopora 0,70 % , Hard cooral non acropora 30,70 % . Dead selection 39,70, Algae  0%, Fauna 1,80% dan Abiotic 27,10% sehingga total tutupan karang  31,40%. Untuk transek – 3, dimana prosentase tutupan untuk Hard cooral acopora 16,00 % , Hard cooral non acropora 43,50 % . Dead selection 36,00, Algae  0%, Fauna 0,00% dan Abiotic 4,50% sehingga total tutupan karang  49,50%. Untuk transek – 4, dimana prosentase tutupan untuk Hard cooral acopora 49,90 % , Hard cooral non acropora 35,00 % . Dead selection 4,80, Algae  0%, Fauna 9,30% dan Abiotic 1,00% sehingga total tutupan karang  84,90 %.
Prosentase rata-rata tutupan karang hidup 66,45%. Dengan mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 4 tahun 2001            tentang    Keriteria Baku Kerusakan                      Terumbu Karang, terumbu karang Pulau Unggeh masuk kategori “baik”.

3.Indeks Dominansi/ Kelimpahan
Indeks dominansi atau kelimpahan menggambarkan komposisi jenis dalam komunitas di tutupan karang Pulau Unggeh untuk Hard cooral acopora branching (ACB) 11, 76; Hard coral acopora submassive (ACS)  9, 41 sedangkan Hard coral non acropora branching (CB) 5,88 ; Hard coral non acropora massive (CM) 44,71; Hard coral non acropora foliose (CF) 3,53; untuk dead cooral (DC) 15,30; soft coral (SC) 3,53; sand (S) 4,71 dan rubble ® 1,17. Indeks kelimpahan yang dominan adalah Hard cooral acopora branching (ACB) 11, 76; Hard coral acopora submassive (ACS)  9, 41;  Hard coral non acropora branching (CB) 5,88 ; Hard coral non acropora massive (CM) 44,71; dan dead cooral (DC) 15,30. Indeks kelimpahan yang sub-dominan Hard coral non acropora foliose (CF) 3,53; soft coral (SC) 3,53; dan sand (S) 4,71.

4.Diversitas indeks /Indeks kaanekaragaman
Keanekaragaman komuntas ditandai banyaknya speseies dari organisme yang membentuk  komunitas tersebut. Semakin banyak jumlah spesies semakin tinggi keanekaragamannya. Indeks keanekaragaman menunjukkan hubungan antara jumlah spesies dengan jumlah individu  yang menyusun suatu komunitas
 Untuk transek – 1 D = 2, 92 ; transek -2 D = 3,35 transek – 3 D = 5,82 dan transek – 4 D = 3, 12 dengan rata-rata indeks keanekaragaman D =  3,80.

Kesimpulan
Strategi pengembangan pariwisata Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara adalah pada sektor wisata bahari. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah menetapkan    prioritas pengembangan pariwisata            yang salahsatunya adalah Kecamatan Badiri berupa obyek wisata rekreasi wisata bahari. Potensi wisata bahari Kecamatan Badiri adalah pengembangan ekowisata di Pulau Unggeh. Penelitian terubu karang Pulau Unggeh , pada 4 ( empat) transek terumbu karang menunjukkan tutupan karang rata-rata 66,45% dengan keriteria “baik’ dengan  indek dominansi untuk ACB (11,76), ACS ( 9, 41), CB ( 5,88),  CM ( 44,71)  dan DC (15,30) sedangkan indeks diversitas  (D) 3,80. Dengana demikian perairan dan potensi terumbu karang layak dikembangkan untuk kegiatawan wisata bahari.

Kepustakaan
Bengen, DG. 2002. Sinopsis Ekosistem dan Suber Daya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya. Bogor: PKSPL-IPB
BPS.2008. Tapanuli Tengah  Dalam Angka 2008. Pandan: BPS Tapanuli Tengah
Fauzi, A. 2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan: Isu, Sintesis dan Gagasan.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Ikawati, Y. Hanggarawati, PS. Parlan, S. Handini,H. Siswadiharjo, B.2001. Terumbu Karang di Indonesia. Jakarta: Mapiptek-Ristek.
Lubis, H. 2008. Laporan Akhir Kajian Model Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar Sumatera Utara. Medan: Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sumatera Utara
........2003. Teknik Pencegahan Pencemaran Pulau-Pulau Kecil. Medan: Gelora Madani Press
……. 2002. Pengelolaan Ekowisata Bahari di Pulau Unggas, Tapanuli Tengah  ( Thesis PSL-USU Yang Tidak Dipublikasikan, 2002)
LIPI-Coremap. 2006. Tapanuli Tengah Baseline Ekologi. Jakarata: Critc-Coremap LIPI
--------2007. Tapanuli Tengah Baseline Ekologi. Jakarata: Critc-Coremap LIPI
---------2008. Tapanuli Tengah Baseline Ekologi. Jakarata: Critc-Coremap LIPI
Motik, CH. Iskandar, S. Dasril, M. Tomo ,HS. Navi, NJV. Bambang, H. Muhammad, A. 2009. Buku Bacaan Pendidikan Kelautan: Kekayaan Negeriku Negara Maritim. Jakarta; Dewan Kelautan Indonesia
Ola, OL. 2004.   Model Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Dalam Rangka Pengembangan Wilayah Kepulauan Wakatobi. (Diserthasi PSPL-IPB Yang Tidak Dipublikasikan, 2004)
Romimohtarto,K. Sri,J. 2007. Biologi Laut, Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta: Djambatan
Supriharyono. 2007 .Konservasi Ekosistem Sumber Daya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis. Yokyakarta: Pustaka Pelajar
Siregar, AAW. 2007.Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) Desa Sitardas. Pandan: Coremap Phase-II Tapanuli Tengah
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 1990 Tentang  Program Pantai Lestari
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang  Baku Mutu Air Laut
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 4 Tahun 2001 Tentang  Keriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang








No comments:

Post a Comment