PENGELOLAAN TERUMBU KARANG BERKELANJUTAN DENGAN MEMANFAATKAN TEKNOLOGI SOFTWARE POWERSIM 2005

Tulisan Dr.Ir.Hamzah Lubis,SH.,M.Si berjudul: “Pengelolaan Terumbu Karang Berkelanjutan Dengan Memanafaatkan Teknologi Software 2005: Studi Kasus Pulau Poncan Gadang, Kota Sibolga”, telah dipresentasikan  pada Seminar Nasional Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Iptek,  dilaksanakan Institut Teknologi Medan, di Medan, tanggal 18 Oktober 2014,  hal.203-2011
Hamzah Lubis, Bsc.,Ir.,SH.,M.Si,Dr
*Dewan Daerah Perubahan Iklim Provsu *Mitra Baharai Provsu *Komisi Amdal Provsu
*Komisi Amdal  Medan *Pusat Kajian  Energi Terbarukan-ITM *Jejaring HAM KOMNAS HAM-RI
*KSA XLII/1999 LEMHANNAS *aktifis hukum/ham/lingkungan/pendidikan


Abstrak
Ekowisata snorkel dan diving  memerlukan terumbu karang yang baik sebagai obyek wisata utama. Kondisi eksisting tutupan terumbu karang di Perairan Pulau Poncan Gadang  sebesar 35,72 persen pada tahun 2009. Untuk meningkatkan ekowisata snorkel dan diving di Pulau Poncan Gadang memerlukan peningkatan tutupan terumbu karang. Oleh karena itu diperlukan kajian tentang alternatif dan tingkat keberhasilan masing-masing alternative untuk meningkatkan pertumbuhan terumbu karang. Dengan menggunakan PowerShim 2005 dapat diprediksi tutupan terumbu karang dari berbagai alternative yang diajukan.
Kebijakan menaikkan 75 persen  kinerja pemerintah menaikkan tutupan dari 35,72 persen menjadi 68,50  persen  dengan rata – rata pertumbuhan 66,63 persen. Kebijakan menaikkan 75 persen  kinerja pengusaha mampu menaikkan tutupan dari 68,50 persen  menjadi 69,21 persen  (sebesar 0,71 persen)   atau dari rata – rata pertumbuhan 66,63 persen menjadi 66,89 persen (sebesar 0,26 persen). Kebijakan menurunkan 50 persen sedimentasi, pengambilan dan perikanan karang  mampu menaikkan tutupan dari 69,21 persen  menjadi 101,62 persen (sebesar 32,41 persen) atau dari rata – rata pertumbuhan 66,89 persen  menjadi 100,43 persen (sebesar 33,54 persen).  Menurunkan kinerja pemerintah sebesar 5 persen menjadikan tutupan menurun dari 35,72 persen  menjadi – 16,99 persen pada tahun ke – dua ( mati total).  Menaikkan kinerja 75 persen  intansi pemerintah dan penurunan 50 persen sedimentasi, pengambilan dan perikan karang menghasilkan pertumbuhan terumbu karang secara normal.

Kata Kunci: 1.Pemanfaatan teknologi 2. Terumbu Karang  3.Powersim

1Seminar Nasional Pembangunan Berkelanjutan Bangsa Berbasis  Iptek, tanggal 18 Oktober 2014 di Kamus ITM, Medan
2Doktor Pengelolaaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, anggota Association of  Diving Scholl Internasional,  anggota Dewan Daerah Perubahan Iklim Provinsi Sumatera Utara dan pemerhati lingkungan.
Pendahuluan
         Terumbu karang merupakan ekosistem khas yang terdapat di perairan tropis. Pada dasarnya terumbu terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat (CaCO3), yang dihasilkan  oleh organisme  karang pembentuk terumbu (karang  hermatipik) dari filum Cnidaria, ordo Scleractina yang hidup bersimbiosis  dengan zooxantellae, dan sedikit  tambahan dari algae berkapur serta organisme lain yang menyekresi kalsium karbonat (Bengen, 2002).
             Secara umum terumbu karang terdiri dari atas tipe: terumbu karang tepi (fringing reef), terumbu karang penghalang   (barrier  reef), dan terumbu karang cincin atau atol. Terumbu karang tepi hidup di pinggir pantai sedangkan terumbu karang penghalang  berada jauh dari  pantai. Kedua tipe terumbu karang ini berfungsi sebagai pemecah gelombang . Terumbu Karang cincin atau atol merupakan terumbu karang  yang munculnya di perairan yang jauh dari daratan.
           
Metoda Penelitian
Lokasi penelitian  untuk kondisi fisik - kimia perairan, tutupan terumbu karang pada 2 (dua) titik  yaitu di sebelah barat pulau (koordinat  10  71’ 11” LU  -  980 76’ 93” BT) dan di sebelah timur pulau (koordinat 10 70’ 98” LU -  980 75’ 84” BT). Penelitian tutupan terumbu karang menggunakan metoda transek garis. Penelitian sosial – ekonomi di Pulau Poncan Gadang dan Kota Sibolga.
Sampling peneletian sosial terdiri atas: (a) masyarakat nelayan 30 orang, (b) masyarakat  yang hidup dari usaha hasil laut 40 orang, (c) tokoh masyarakat (tokoh agama, pemuda, wanita dan pendidikan) 30 orang, wisatawan 10  orang, intansi Dinas Kebudayaan  Priwisata Pemuda dan Olah raga 1 orang, Kantor Lingkungan hidup 1 orang, Dinas Kelautan dan Perikanan 1 orang dan PT. Sibolga Marine Resort 1 orang.
Data tutupan terumbu karang dianalisis dengan metoda matematis sedangkan  model dinamis daya dukung terumbu karang dengan bantuan software PowerSim 2005. Uji Validitas model menggunakan Uji Penyimpangan Rata – rata (Absolute Mean Error, AME) dan Uji  Penyimpangan Variasi (Absolute Variansi Error, AVE).
Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Tutupan terumbu  karang
          Hasil penelitian terumbu karang yang dilakukan di perairan Pulau Poncan Gadangdan dan hasil-hasil penelitian terumbu karang dari penelitian Puslitbang Oseanologi – LIPI (1997) dan Coremap - LIPI tahun 2006, tahun 2007, tahun 2008 dan tahun 2009 disajikan pada Tabel 1. Status terumbu karang berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup  Nomor: 4 Tahun 2004 tentang Keriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang masuk kategori rusak dengan keriteria rusak buruk dan rusak sedang.  
.
  .                           Tabel 1. Prosentase  Tutupan Karang
Tahun
Lokasi - 1
Lokasi - 2
Rata-rata
Status
1997
22,86
27,83
25,35
Rusak, buruk
2006
20,00
29,00
24,50
Rusak, buruk
2007
30,00
39,00
34,50
Rusak, sedang
2008
20,00
25,00
22,50
Rusak, buruk
2009
41,53
29,90
35,72
Rusak, sedang
   

2. Variabel pertumbuhan terumbu karang
            Variabel fisik-kimia perairan mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang. Hasil penelitian derajat keasaman (pH) perairan  diperoleh 8,25 sedangkan kondisi ideal untuk ekowisata snorkel dan diving sebesar 6,5 – 8,5.  Perbandingan pH perairan Poncan Marine Resort dengan pH maksimal untuk wisata snorkel dan diving didapat sebesar 97,06 persen.  Dengan cara yang sama didapat untuk  salinitas  94,05 persen, kecerahan 0,015  persen,  oksigen terlaut  0,01 persen,  fospat 28,97 persen ,  nitrat 14,27 persen,  nitrit 0,009 persen, kenaikan permukaan air laut  51,76 persen, kenaikan suhu 74,67 persen, kenaikan radiasi ultraviolet  0,001 persen, penyakit terumbu karang 5 persen dan coral bleacing  0,21 persen.
          Variabel perusakan terumbu karang oleh nelayan berupa kegiatan pengambilan terumbu karang 30 persen terdiri atas pengambilan untuk bahan hiasan 30 persen dan pengambilan bahan bangunan 70 persen . Perusakan terumbu karang karena perikanan tangkap 25 persen  dengan pengeboman ikan 40 persen dan peracunan ikan 40 persen dan lain-lain 20 persen. Perusakan terumbu karang akibat sedimentasi memberi kontribusi 20 persen  berasal dari pertanian 15 persen, limbah domestik perkotaan 35 persen , pembangunan pesisir 30 persen  dan penambangan 20 persen .
          Hasil kuesioner yang telah diolah, menunjukkan pelaksanaan kewajiban konservasi terumbu karang di Kota Sibolga untuk intansi kelautan 25 persen, intansi lingkungan hidup 34,20 persen,  intansi pariwisata 70,83 persen, pengusaha pariwisata 54,33 persen, masyarakat lokal 88,33 persen dengan  konservasi intitusi sebesar 57,60 persen. Kewajiban pengusaha untuk         peningkatan ekonomi 57,14 persen, sosial budaya masyarakat 81,81 persen, hak – hak masyarakat dari intansi kelautan  56,25  persen , intansi lingkungan hidup 58,93 persen dan intansi pariwisata 68,75 persen. Pelaksanaan kewajiban konservasi wisatawan sebesar 100 persen.  
                   
3. Model  pertumbuhan terumbu karang
a. Kausa loop pertumbuhan terumbu karang


 










Gambar 1. Kausa loop  model  pertumbuhan terumbu karang
b. Model pertumbuhan terumbu karang


 












         Gambar 2. Model pertumbuhan terumbu karang

c. Uji  Validitasi Model
                     Tabel 2. Validitasi Model
rata-rata aktual
29
rata-rata simulasi
30
AME
0.031565
Sa
6.770926
Ss
1.807457
AVE
-0.73306
Va
45.84543
Vs
3.2669
KF
0.066519
                AME Valid
VALID
AVE Valid
VALID
                           
Uji Validitas model ini dilakukan dengan menggunakan Uji Penyimpangan Rata – rata (Absolute Mean Error, AME) dan Uji  Penyimpangan Variasi (Absolute Variansi Error, AVE). Hasil validitasi AME dan uji AVE dinyatakan valit.


4. Simulasi model
(1). Alternatif tanpa perlakuan terhadap pengelolaan terumbu karang

Dengan menggunakan model pertumbuhan terumbu karang, dengan memasukkan data-data hasil penelitian, maka hasil prediksi pertumbuhan terumbu karang disajikan keluaran dari model disajikan pada Tabel 3.

               Tabel  3. Prosentase Pertumbuhan Karang 2009 – 2021









Dari tabel ini terlihat bahwa simulasi model tanpa perlakuan dengan data – data hasil penelitian menunjukkan penurunan tertinggi tutupan terumbu karang dari 35,72 persen menjadi 27,97 persen  dengan tutupan rata – rata 29,96 persen.

(2).  Alternatif  meningkatkan  75  persen   kinerja  intansi pemerintah
            Dengan meningkatkan  75 persen  kinerja  intansi pemerintah, maka pertumbuhan terumbu karang disajikan pada Tabel 4.

                                   Tabel  4. Prosentase Pertumbuhan Karang




Dengan meningkatkan kinerja intansi kelautan, intansi lingkungan hidup  dan intansi pariwisata menjadi 75 persen ternyata mampu menaikkan tutupan terumbu karang dari 35,72 persen  menjadi 68,50  persen  dengan rata – rata pertumbuhan 66,63 persen .  

(3).  Alternatif  meningkatkan  75 persen  kinerja  intansi pemerintah dan  pengusaha pariwisata
     Dengan meningkatkan  75 persen  kinerja  intansi pemerintah dan  pengusaha pariwisata,  maka pertumbuhan terumbu karang  hasil simulasi disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Kinerja 75 persen Pemerintah dan  Pengusaha








         
Dengan menambah menaikkan 75 % kinerja pengusaha hanya mampu menaikkan tutupan terumbu karang dari 68,50 % menjadi 69,21 % (sebesar 0,71 %)   atau dari rata – rata pertumbuhan 66,63 % menjadi 66,89 % (sebesar 0,26 %). Dalam hal ini peran pengusaha pariwisata tidak signifikan.

(4).  Alternatif  meningkatkan  75 persen  Kinerja  Intansi Pemerintah dan Pengusaha Pariwisata serta Penurunan 50 persen  Sedimentasi, Pengambilan  karang dan Perikanan Karang

         
Dengan meningkatkan  75 persen  Kinerja  Intansi Pemerintah dan Pengusaha Pariwisata serta Penurunan 50 persen  Sedimentasi, Pengambilan  karang dan Perikanan Karang,  maka pertumbuhan terumbu karang  hasil simulasi disajikan pada Tabel 6.
       
Tabel 6. Kinerja 75 persen Pemerintah,  Pengusaha dan Penurunan 50 persen
                         Sedimentasi, Pengambilan  dan Perikanan Karang




 


.






Hasilnya dari penurunan 50 % sedimentasi, pengambilan dan perikanan karang  mampu menaikkan tutupan terumbu karang dari 69,21 % menjadi 101,62 % atau sebesar 32,41 %  atau dari rata – rata pertumbuhan 66,89 % menjadi 100,43 % atau naik sebesar 33,54 %. Dalam hal ini peran penurunan 50 % sedimentasi, pengambilan dan perikanan karang signifikan. Peningkatan tutupan sebesar 100 % diartikan bahwa terumbu karang tumbuh dengan sempurna. Pertumbuhan karang sepanjang 2,5 – 20 cm/tahun (Ikawati, 2001).




(5).  Penurunan 5  persen  Kinerja  Intansi Pemerintah
Dengan meningkatkan  5 persen  kinerja  intansi pemerintah,  maka pertumbuhan terumbu karang  hasil simulasi disajikan pada Tabel7.

                   Tabel 7. Penurunan  5 %  Kinerja  Intansi Pemerintah


 










Jika terjadi penurunan kinerja pemerintah sebesar 5 %, hasilnya menjadikan tutupan terumbu karang dari 35,72% tahun  menjadi – 16,99  % pada tahun ke – dua ( mati total).  Artinya penurunan kinerja pemerintah 5 % dari kondisi sekarang ini akan menyebabkan kepunahan terumbu

Kesimpulan
1. Hasil uji  validitas model Powersim 2005  untuk pertumbuhan terumbu karang Pulau Poncan Gadang dengan menggunakan uji Penyimpangan Rata – rata (Absolute Mean Error, AME) dan Uji  Penyimpangan Variasi (Absolute Variansi Error, AVE) dinyatakan valit.
2. Hasil  simulasi model pertumbuhan terumbu karang Pulau Poncan Gadang dengan menggunakan Powersim 2005 untuk: 



a. Pertumbuhan terumbu karang secara alami tanpa perlakuan, menyebabkan terjadi penurunan tutupan terumbu karang dari 35,72 persen menjadi 27,97 persen dengan penurunan  7,75 persen.
b. Meningkatkan  kinerja  intansi pemerintah menjadi 75 persen menaikkan tutupan terumbu karang dari 35,72 persen  menjadi 68,50  persen dengan kenaikan  32,78 persen.
c. Meningkat an  kinerja  intansi pemerintah dan  pengusaha pariwisata mencapai 75 persen  hanya mampu menaikkan tutupan terumbu karang dari 35,72 persen  menjadi 68,50  persen kemudian menjadi 69,21 % (sebesar 0,71 %).  
d.  Meningkat an  75%  kinerja  intansi pemerintah dan pengusaha pariwisata diikuti  penurunan 50 % sedimentasi, pengambilan  karang dan perikanan karang
menaikkan tutupan terumbu karang dari 35,72 persen 69,21 persen  menjadi 101,62 persen  atau sebesar 32,41 persen.  Peningkatan tutupan sebesar 100 % diartikan bahwa terumbu karang tumbuh dengan sempurna. Pertumbuhan karang sepanjang 2,5 – 20 cm/tahun (Ikawati, 2001).
e. Menurunkan kinerja  intansi pemerintah sebesar 5 persen menjadikan tutupan terumbu karang dari 35,72 persen  menjadi – 16,99  %  pada tahun ke – dua ( mati total). 

Daftar  pustaka
Anonim. Undang - Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Anonim. Undang - Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan   Pulau - Pulau Kecil

Anonim.Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : km.67/um.001/MKP/2004  Tentang  Pedoman Umum Pengembangan Pariwisata di Pulau-Pulau Kecil

Bengen, DG. 2002. Sinopsis Ekosistem dan Suber Daya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya.  Bogor:  PKSPL – IPB

Direktur Direktorat Tata Ruang  Laut Pesisir dan Pulau - Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan - RI. 2006. Strategi Penataan Ruang  Pulau - Pulau Kecil. 2006. Buletin Kelautan

Coremap-LIPI. 2006.  Tapanuli Tengah Baseline Ekologi. Jakarta:  Critc - Coremap LIPI

----------2007.Monitoting Terumbu Karang Tapanuli Tengah. Jakarata: Critc-Coremap LIPI
----------2008. Monitoting Terumbu Karang Tapanuli Tengah .Jakarata: Critc-Coremap LIPI

---------2009. Monitoting Terumbu Karang Tapanuli Tengah. Jakarata: Critc-Coremap LIPI

Maanema, M. 2003.   Model Pemanfaatan Pulau – Pulau Kecil: Studi Kasus di Gugus Pulau Pari Kepulauan Seribu . (Diserthasi PSPL - IPB Tidak Dipublikasikan)

Puslitbang Oseanologi – LIPI. 1997. Laporan Penelitian Studi Kondisi Fisik dan Penyebaran Terumbu Karang di Pantai Barat Sumatera Utara. Jakarta: Puslitbang Oseanologi – LIPI

Soebagio. 2005.  Analisis  Kebijakan  Pemanfaatan  Ruang Pesisir  dan  Laut  pKepulauan Seribu Dalam Meningkatkan Pendapatan  Masyarakat Melalui Kegiatan Budidaya Perikanan Dan Parawisata. (Diserthasi PSPL-IPB Yang Tidak Dipublikasikan, 2005)

Setiono, J. Sujatno. Rukman, D. 2003. Rencana Pengembangan Pariwisata Alam Nasional di Kawasan hutan.  Bogor:  Dirjen PHKA Dephut

Yoeti, O. A. 1997.  Perencanaan & Pengembangan Parawisata. Jakarta: Pratnya Paramita


No comments:

Post a Comment