SELAMAT DATANG (?) PLTN

Tulisan Dr.Ir.Hamzah Lubis,SH.,M.Si berjudul Selamat Datang (?) PLTN”, telah dimuat pada SK.Perestasi di Medan, No.478 tanggal 7 Desember 2015, hal.7, kol. 1-4 

Hamzah Lubis, Bsc.,Ir.,SH.,M.Si,Dr
*Dewan Daerah Perubahan Iklim Provsu *Mitra Baharai Provsu *Komisi Amdal Provsu
*Komisi Amdal  Medan *Pusat Kajian  Energi Terbarukan-ITM *Jejaring HAM KOMNAS HAM-RI
*KSA XLII/1999 LEMHANNAS *aktifis hukum/ham/lingkungan/pendidikan

Indonesia memasuki babak baru.  Tidak lama lagi, sebagian kebutuhan energy  listrik di Indonesia akan disuplai dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Untuk sementara kapasitasnya hanya 10 Megawatt. PLTN ini akan dibangun Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) tahun 2016 dan akan beroperasi tahun 2019. Lokasi reaktor  PLTN direncanakan di komplek Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Tender pembangunan reaktor nuklir telah dilakukan.  Pemenang tender Badan Usaha milik pemerintah Rusia, “Rosatum” bekerjasama dengan BUMN Rekayasa Industri. Pelaksanaan detail desain dan prakonstruksi dilakukatan tahun depan.

Reaktor Nuklir
            Dalam fisika nuklir, sumber radio-isotop secara alami dan buatan.  Radio-isotop alami misalnya Uranium-238, Uranium-235 dan Thorium-232. Radio-isotop buatan adalah produk pengaktifan inti-inti yang stabil serta produk-produk radioaktif dari reaksi fisi (produksi fisi). Radio-isotop buatan dapat diproduksi dengan cara membelah inti dengan menggunakan ion berenergi besar atau dengan menambahkan nucleon tambahan (neutron) ke inti atom yang stabil.         Pada proses fisi, isotop berat yang dapat berfisi menyerap sebuah neutron berenergi rendah dan membentuk sebuah inti senyawa dalam berada dalam keadaan terangsang akibat energi pengikatan neutron yang diserap.  Selang 10-14 detik, inti senyawa yang terangsang itu meluluh ke kondisi tanah (ground state) dengan memancarkan radiasi gamma yang tertangkap di dalam reaksi “penangkapan radiaktif” (radiative capture) atau menfisi. (Archia W Culp,Jr.1989. Prinsip-Prinsip Konversi Energi. Erlangga, Jakarta:68 ). Pada reaksi fisi, inti senyawa yang terangsang terbelah menjadi dua inti massa yang lebih rendah (produksi fisi), disertai oleh dua atau tiga neutron dan radiasi fisi gamma. Neutron produk fisi  yang dilepaskan pada waktu reaksi fisi digunakan untuk bereaksi dengan atom-atom dapat fisi lainnya untuk mendukung reaksi fisi yang berkelanjutan. Dengan demikan reaktor fisi dapat terbentuk.
      Pada proses fusi adalah antithesis dari proses fisi. Dalam proses fisi , inti bermassa berat membelah menjadi inti bermassa ringan sambil melepaskan kelebihan energy pengikatan. Pada reaksi fusi, inti bermassa ringan bergabung dalam rangka melepaskan kelebihan energy pengikatan. Reaksi fusi adalah reaksi umum yang “meminyaki” matahari dan telah dipakai dibumi untuk melepaskan energy dalam jumlah besar didalam termonuklir atau bom “hydrogen”. Pengendalian energy yang sangat besar untuk reaktor fusi sampai kini belum terpecahkan.

Reaktor Riset  
Penulis, secara langsung atau tidak langsung sudah lama bersinggungan dengan PLTN. Sebagai dosen mata kuliah “konversi energy”, pengarang buku (Reaktor Nuklir, Analisa Teknik dan Lingkungan: Glora Madani Press, 2003) dan penulis artikel. Tulisan itu diantaranya:  “Mengenal Reaktor Riset Kartini” (Hr. Waspada, 11 Juni 1987), “Nuklir: LSM-Gus Dur VS Kosim Nurseha” (Tab.Saintek-ITM, Juli 1996), “Reaktor Nuklir Fisi” (Tab.Saintek-ITM, Oktober 1998) dan “Reaktor Nuklir Fusi” (Tab.Saintek-ITM, Nopember 1998).
  Sebenarnya, Indonesia telah lama “bermain-main” dengan reaktor nuklir.  Reaktor nuklir  yang dibangun selama ini dalam bentuk reaktor riset, untuk riset pengembangan ilmu pengetahuan dibidang nuklir dan aplikasi teknologi nuklir.  Pemanfaatan reaktor nuklir riset  terbatas, seperti untuk kedokteran, pertanian, penyediaan  air bersih, pengolahan pangan, dan industry petrokimia.
Reaktor pertama adalah reaktor Trigamark di Bandung  yang beroperasi sejak tahun 1965. Reaktor kedua, reaktor Kartini di Yokyakarta. Reaktor Kartini mencapai titik kekritisan pertama kalinya, hari Kamis tanggal 25 Januari 1979 tepat Pk.17.40 Wib dan diresmikan Presiden Soeharto , 1 Maret 1979. Reaktor ketiga adalah reaktor serbaguna GA Siwabessy, tahun 2006 di Serpong. Reaktor ini menghasilkan energi listrik sebesar 30 Megawatt. Sebagai reactor riset,  kapasitas pemnfaatan terpakai saat ini baru 10 MW. 
Dengan reaktor-reaktor riset ini, putra-putri bangsa berusaha untuk menguasai teknologi nuklir. Hasilnya, dibandingkan dengan negasa Asean lainnya, Indonesia memiliki sumberdaya lebih unggul dan lebih lengkap dalam penguasaan ilmu dan teknologi nuklir. Indonesia menjadi rujukan penguasaan ilmu dan teknologi nuklir bagi negara-negara Asia Tenggara. Badan tenaga nuklir internasional (IAEA) telah menunjuk Badan Tenaga Nuklir Nasional sebagai pusat kolaborasi IAEA untuk diagnosis non destruktif, pengujian dan teknologi inpeksi untuk mendukung kegiatan IAEA di Asia Tenggara, termasuk produksi isotop baru, pelatihan ahli, serta pembuatan panduan dan protokol beragam teknik pemanfaatan nuklir. Kemampuan sumberdaya manusia Indonesia mengelola PLTN juga diyakini Wakil Rektor Rosatom Central Institute for Contiuning Education and Training, Vladimir V Artisyuk. Menurutnya, dari negara-negara Asia Tenggara, ahli-ahli Indonesia  yang terbanyak bekerja di Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). “Kemampuan ahli-ahli Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan negara yang sudah membangun pltn”,katanya. 

Kebijakan Energi Nuklir
        Indonesia telah lama berangan-angan memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir.  Dirjen Badan Tenaga Atom Nasional, Jali Ahimsa telah berketetapan hati  membangun PLTN di Muria (Jawa Tengah) tahun 1998 dan mulai beroperasi tahun 2003. Menurutnya, kalau terus dilanda ketakutan yang  tidak karuan kita sulit bergerak maju. ”Saya tetap optimis PLTN akan terlaksana, layak ditetapkan di Indonesia” katanya mantap. Akibatnya, pembahasan pembahasan RUU Ketenaganukliran tahun 1996 untuk menggantikan UU No.31 tahun 1964 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Tenaga Atom menjadi alot. 
        Garis kebijakan ketenanukliran nasional semakin jelas setelah UU Nomor 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran diundangkan.  Didalamnya disebutkan, Batan berwenang melakukan pembangunan, pengoprasian dan komisioning reaktor daya non-komersial (RDNK). Keriteria reaktor daya non-komersial dapat berupa reaktor daya eksprimental (RDE) atau reaktor daya serbaga guna (RDSG). Kewenangan Batan juga diatur dalam PP.Nomor 2 tahun 2014 tentang Perizinan Intlasi Nuklir dan Pemanfaatan Bahan Nuklir. Dalam tataran operasional, Renstra Batan tahun 2015-2019  telah mencantumkan pembangunan dan pengoperasian RDE/RDSG dengan target komisoning atau operasi tahun 2019/2020. Demikian juga, dalam rancangan bauran energi nasional tahun 2025, sumbangan listrik dari energi terbarukan 23 persen dengan 4 persen diantaranya berasal dari nuklir. Karena pembangunan PLTN  rata-rata butuh waktu 10 tahun, maka untuk memenuhi bauran energi nasional tahun 2025  seharusnya pembangunan PLTN  sudah harus dimulai tahun 2015.
 
Pembangunan PLTN
PLTN  adalah pilihan sumber energi yang murah dan berdaya besar.  Perbedayaan reaktor nuklir PLTN dengan reaktor nuklir riset  adalah adalah pemanfaatan energi yang dihasilkan dari peluruhan  fisi nuklir.  Pada reaktor daya, reaktor dirancang untuk menghasilkan  sebesar-besarnya  daya  listrik.  Karena reaktor daya (PLTN) mampu menghasilkan energi listrik yang besar dan murah, maka PLTN sering menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan energi  listrik yang terus meningkat.
Persiapan pembangunan reaktor daya (PLTN) Serpong  telah dilakukan sejak tahun 2014 lalu. Investigasi calon tapak sudah dilakukan, meliputi berbagai asfek studi, yaitu kegempaan, kegunungapian, geoteknik dan fondasi, meteorologi, hidrologi, kejadian akibat kegiatan manusia, demografi, tata guna lahan dan tata ruang.  Tahapan prosesnya diantaranya evaluasi tapak,  tahapan izin tapak, izin kontruksi dan izin operasi.
Reaktor yang akan dibangun, reaktor  generasi 4, yang memiliki tingkat keselamatan tinggi. Kelebihan PLTN generasi 4 adalah dapat menggunakan bahan bakar torium yang banyak terdapat di Indonesia.  Reaktor ini mampu mengisolasi diri jika terjadi kecelakaan sehingga tidak akan menyebarkan kontaminasi radiasi ke luar. Limbahnya jauh lebih sedikit daripada reaktor negerasi sebelumnya. Reaktor nuklir ini, selain menghasilkan energi listrik, juga bisa mencairkan batubara, menghasilkan hydrogen maupun  desalinasi air laut.
Jenis reaktor daya eksprimental (RDE) yang dipilih berdasarkan dari kajian teknologi dan pendanaan adalah reaktor tipe HTGR (high temperature gas cooled reactor). HTGR termasuk teknologi reaktor inovatif yang menguntungkan dari sisi ekonomi, keselamatan, inprasturuktur, proteksi fisik, lingkungan, dan limbah. Karakteristik lain HTGR yang mendukung aspek keselamatan reaktor antara lain densitas dayanya rendah dan kapasitas termal tinggi. Reaktor ini dapat multi fungsi, tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga menghasilkan hidrogen dan untuk mencairkan batubara.

Penutup
Banyak pihak yang belum (tidak) setuju dengan energy nuklir karena dampak radiasinya. Sebagian ulama berfatwa menolak dengan pertimbangan prinsip kehati-hatian (ihtiyati) dan aktifis lingkungan melihat masih banyak alternatif energy selain nuklir khususnya energy baru dan terbarukan. Pembangunan PLTN Muria mendapat penolakan dan ternyata gagal.  Akankah pembangunan PLTN Serpong akan berhasil atau akan  gagal juga?  Waktulah yang akan menentukan***


No comments:

Post a Comment