MK.IKD-14. TEORI EVOLUSI

                                                             TEORI EVOLUSI

    Sains adalah suatu cara untuk mengetahui berdasarkan deskripsi yang dapat diuji ulang dan diperoleh melalui interpretasi manusia terhadap data alamiah yang dapat diamati sebagaimana dibahas pada bab II dalam buku ini. Sains mengasumsikan bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan secara materi. Evolusi memperluas cakupan penjelasan materialistik sampai kepada makhluk hidup.

    Teori ini memasukkan positivisme dalam biologi, dengan menerangkan manusia dan kehidupan dari sisi materi. Evolusi adalah konsep terpenting dalam biologi. Bahkan seorang ahli genetika, Dobzhanky (1973), mengatakan bahwa tidak ada yang masuk akal dalam biologi kecuali ditinjau dari sudut pandang evolusi. Teori evolusi menjelaskan mengapa jutaan spesies dapat eksis. Prinsip ini mempersatukan keseluruhan sejarah kehidupan. Secara ringkas evolusi menjelaskan mengatakan bahwa keanekaragaman bentuk kehidupan muncul sebagai hasil perubahan genetiknya. Organisme-organisme modern merupakan keturunan dari bentuk-bentuk kehidupan sebelumnya yang mengalami modifikasi. Studi evolusi biologi memerlukan banyak pemahaman mengenai genetika, biokimia, embriologi, biogerafi, geologi, biologi, paleontologi, biologi molekuler, dan lain sebagainya.

        Teori evolusi dikemukakan abad 19 yang menyatakan bahwa makhluk hidup, tak terkecuali manusia, muncul dengan sendirinya melalui seleksi alam (natural selection) yang gradual. Meskipun Charles Robert Darwin (1809-1882) disebut figur kunci dalam sejarah evolusionisme, dia bukan orang pertama yang berpikir tentang kemungkinan adanya evolusi organisme. Erasmus Darwin (1731-1829), kakek Darwin sendiri pernah menawarkan spekulasi evolusi dalam bukunya Zoonomia or the Laws of Organic Life”. Akan tetapi, penjelasan teori ini belum sistematis dan tidak berpengaruh secara nyata bagi perkembangan sains berikutnya.

Tokoh penting lain yang berpikir tentang evolusi adalah Jeans Baptise Lamark (1744-1829). Dalam buku “Philosophical Zoology”, Lamark menawarkan teori evolusi yang lebih luas. Menurutnya,  organisme  berevolusi  melalui  waktu  berabad-abad lamanya dari bentuk yang lebih rendah ke bentuk yang lebih tinggi sebagai proses yang terus berlangsung. Karena organisme beradaptasi terhadap lingkungannya melalui kebiasaan mereka, modifikasi organisme pun terjadi. Jika dulu ada jerapah yang berleher pendek, karena makanan yang tersedia tinggi tempatnya, Jerapah lambat laun menjadi berleher panjang.



Gambar-1. Teori Evolusi Darwin dan Lamark


 

Teori evolusi Darwin yang termuat dalam On the origin of species by means of Natural selection” (1859) mengungguli teori evolusi pendahulunya. Dalam buku ini Darwin mengemukakan dua teori pokok:

1.            Species yang hidup sekarang berasal dari species yang hidup pada masa lampau.

2.            Evolusi terjadi melalui seleksi alam.

Species adalah suatu jenis organisme yang mempunyai hubungan struktural dan fungsional sama. Hubungan seksual dari species yang sama dapat menghasilkan keturunan; bila lain maka tidak meghasilkan keturunan.

Adapun seleksi alam itu terjadi karena macam-macam sebab yang saling menunjang antara lain:

a.            Adanya variasi. Tidak ada dua individu yang mempunyai sifat- sifat yang benar-benar sama. Dalam suatu species pun terdapat berbagai variasi, yang berarti akan selalu terbentuk varian baru dari hasil keturunannya.

b.            Over produksi. Adanya kecenderungan berkembang biak terus sehingga populasinya sangat besar.

c.             Struggle for existence. Adanya perjuangan species untuk mempertahankan hidupnya.

d.            Enheritance of variations. Individu-individu yang sesuai dengan lingkungannya (mampu beradaptasi) saja yang akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

e.            Survival of the fittest. Individu yang kuatlah yang dapat bertahan hidup.

Setidak-tidaknya, teori evolusi Darwin berhasil menolak tiga macam evolusi. Pertama, menolak transmutasi yaitu perubahan species terjadi karena ada mutasi mendadak; kedua, menolak ortogenesis yakni kecenderungan perkembangan menuju kearah tertentu yang lebih baik dari sebelumnya; ketiga, menolak transformasi bahwa perubahan langsung sifat genetik individu karena faktor lingkungan (dikenal dengan Lamarckisme). Sebagai alternatif, Darwin menawarkan hipotesa-hipotesa baru seperti species yang bisa berubah (nonconstancy), kesamaan nenek moyang species (brancing evolution) perjuangan untuk hidup (the struggle of existence), variasi (variation), dan seleksi alam (natural selection).

Ajaran Darwin tentang evolusi didasarkan atas pokok- pokok pikiran: tidak ada dua individu yang sama, setiap populasi cenderung akan bertambah banyak, untuk berkembang biak memerlukan bantuan makanan dan ruang cukup dan bertambahnya populasi tidak berjalan terus menerus.

Meskipun gagasan evolusi telah diterima oleh sebagian besar saintis, gagasan ini banyak ditentang masyarakat karena kontradiksinya dengan beberapa aspek ajaran dari beberapa agama. Kekhawatiran kalangan agamawan terhadap teori evolusi ini, salah satunya, ada pada penafsiran mereka bahwa teori evolusi cenderung meniadakan ruangan bagi Tuhan. Tak heran kaum agamawan maupun ilmuwan segera menggugat keras teori evolusi. Seperti halnya Copernicus yang pikirannya ditentang gereja, Galileo yang dihukum penjara rumah, dan Ibnu Sina yang dituju menuju kekafiran –untuk menyebut beberapa contoh-, Darwin pun diolok-olok sebagai naturalis amatir. Teori darwin, kata mereka tidak didukung bukti-bukti yang jelas sehingga tidak pantas disebut sains. Lebih jauh, Darwin sebagai materialis yang “mendukung ideologi anarkhis dan bersifat memecah belah, yang mengancam kelangsungan kehidupan bernegara dan berbangsa”.

Hal yang paling kontroversial dari teori ini adalah upaya menjelaskan asal-usul manusia dari proses alamiah. Quthub (1986) menolaknya atas dasar tiadanya tujuan dalam proses evolusi, padahal Tuhan menciptakan dunia dengan maksud dan tujuan tertentu. Teori ini juga dianggap dapat membahayakan keimanan peserta didik. Dikhawatirkan keyakinan keagamaan siswa terguncang dan dapat luntur. Lebih jauh dikatakan bahwa teori evolusi jelas-jelas bertentangan dengan prinsip aqidah Islam, sehingga umat Islam harus memilih salah satu dari dua hal: iman atau evolusi. Beberapa waktu belakangan ini kontroversi semakin meruncing dengan terbitnya karya-karya Harun Yahya yang mempopulerkan kontradiksi Islam dengan evolusi.

Hal lain yang mengundang kontroversi dari teori Darwin yang tidak hanya dari kalangan agamawan tetapi juga dari para ilmuwan yang merasa tidak menemukan bukti dari teori ini. Hal yang paling keras mendapat tantangan adalah teorinya yang mengatakan bahwa manusia dan kera memiliki satu nenek moyang yang sama meskipun mereka merupakan dua species yang berbeda. Kalangan agamawan langsung beraksi keras. Bagi mereka, manusia adalah makhluk Tuhan yang unik, sempurna lebih tinggi derajatnya dari makhluk hidup yang lain karena, antara lain manusia mampu berbahasa simbolik (symbolic language) dan memiliki kesadaran diri (self awarenes). Lagi pula, kata mereka, andai manusia berasal dari kera mengapa kera-kera sekarang tidak bisa menjadi manusia.

Sejak 14 abad yang lalu, al-Qur’an telah menegaskan bahwa manusia bukanlah keturunan kera. Manusia pertama, Adam, sesungguhnya diciptakan dari tanah. Manusia terdiri atas materi dan roh, diciptakan dari tanah kemudian menjadi lumpur hitam yang diberi petunjuk lalu menjadi tanah kering seperti tembikar dan disempurnakan bentuknya. Firman Allah dalam Qs. Nuh (71): 17 dan 18:

Artinya: Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik- baiknya, (17)kemudian Dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. (18)

Dengan penciptaan seperti itu, manusia dibedakan dari seluruh makhluk lainnya. Manusia memiliki kesamaan dengan hewan dalam sebagian besar karakteristik, dorongan emosi untuk mempertahankan diri, serta kemampuan untuk memahami dan belajar. Namun, ia berbeda dengan hewan dari karakteristik rohnya yang membuatnya cenderung mencari Allah dan menyembahnya.

Sekiranya teori Darwin ini benar, maka tentu manusia akan berubah lagi, karena seleksi alam tak pernah berhenti. Lalu akan jadi apa manusia ini lagi? Nyatanya sejak Nabi Adam sampai sekarang, manusia tetap manusia. Manusia tidak pernah berubah meskipun Darwin mengatakan ada seleksi alam. Kalau benar seleksi alam itu ada, kita ingin tunjukkan bukti yang nyata, sebelum terbentuk seperti kera bagaimanakah bentuknya? Antara bentuk kera dengan manusia, bagaimanakah bentuknya? Apakah kita akan percaya begitu saja bahwa ada missing link (mata rantai yang hilang) sebelum berubah bentuknya menjadi manusia.

Selain bukti-bukti dan alasan-alasan di atas, ada beberapa alasan untuk menolak teori Darwin:

1.                 Jumlah kromosom pada sel tubuh manusia adalah 46, sedangkan pada kera 48.

2.                 Perbandingan berat otak dengan berat badan pada manusia adalah 1:50, sedangkan pada kera 1:125.

3.                 Manusia pandai bicara sedangkan kera tidak.

4.                 Manusia mampu berbudaya dan berperadaban sementara kera tidak.

5.                 Manusia punya akal sementara kera (binatang lainnya) tidak.

1.                 Jenis bulu manusia mengandung belerang sementara jenis bulu kera adalah pigmen.

2.                 Manusia tidak berekor sementara kera berekor.

 

 Materi  Kuliah Khusus

            Mekanisme Khayalan Evolusi

Darwin mengungkapkan salah satu mekanisme dalam teorinya, yaitu seleksi alam didasarkan atas pemikiran bahwa makhluk hidup yang kuat dan mampu beradaptasi dengan lingkungan habitatnya akan bertahan hidup. Selain itu pula, Darwin mengemukakan hukum seleksi alam sebagai penyebab evolusi:

(1) Semua makhluk hidup berjuang untuk hidup, (2) yang lestari adalah yang paling kuat. Misalnya dalam sekelompok rusa yang diburu oleh singa, mereka akan mencoba melarikan diri. Yang kuat akan mampu berlari kencang dan selamat sementara yang lemah akan menjadi mangsa. Setelah sekian lama maka yang akan tersisa dari kelompok tersebut adalah yang kuat. Namun mekanisme ini tidak menjadikan rusa berevolusi. Seleksi alam hanya menghilangkan individu lemah, cacat dan berpenyakit. Sementara yang kuat, sehat dan tidak cacat serta mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan akan terjamin kelangsungan hidupnya seperti rusa yang kuat. Konsepsi Darwin ini banyak dipengaruhi oleh  Lamark.




Gambar-2: Mekanisme Khayalan Evolusi

  

Menurut Lamark, sifat-sifat akan diturunkan kepada generasi berikutnya. Menurutnya Jerapah berevolusi dari hewan mirip rusa, lehernya memanjang dari generasi ke generasi, karena mencari batang pohon yang lebih tinggi untuk makan. Larmark juga percaya bahwa jika salah satu anggota keluarga yang dipotong tangannya sampai generasi berikutnya akan menghasilkan generasi tanpa tangan. Darwin yang terpengaruh oleh konsepsi Lamark ini, mengambil klaim yang lebih berani di dalam bukunya “On the origin of species by means of Natural selection”. Darwin menulis bahwa ketika beruang mencoba berburu di sungai akan berevolusi jadi paus.

Lamark dan Darwin telah keliru karena konsepsi mereka telah bertentangan dengan hukum-hukum dasar biologi. Lamark bahkan menyatakan bahwa sifat-sifat genetika dapat diwariskan kepada keturunan melalui aliran darah.

Teori Darwin cukup lama bertahan, akan tetapi dia merasa khawatir teorinya akan runtuh. Ternyata kekhawatirannya terbukti, karena segera sepeninggalnya ditemukan hukum penurunan sifat oleh Mendell yang telah meruntuhkan konsepsi Darwin dan Lamark tersebut.

Ilmu genetika yang berkembang awal abad XX membuktikan bahwa individu tidak mewariskan sifat bawaan melalui darah tetapi menurunkan sifat aslinya melalui gen. Dengan kata lain seleksi alam yang menyebabkan sifat dapat terakumulasi membentuk species baru tidaklah benar.

Walaupun teori Evolusi di atas digugat habis-habisan, toh teori  tersebut terus bergeming terhadap kritik. Malahan, temuan- temuan ilmu pengetahuan seperti teori hereditas Mendel, biologi molekul, struktur DNA (asam deoksiribo-neukleat: substansi genetis makhluk hidup yang terdapat di inti sel), penemuan fosil Australopithecus Ramidus di Ethiopia yang merupakan fosil leluhur manusia tertua, memperkuat posisi teori evolusi. Karena itu mungkin tidak terlalu mengherankan jika Richard Dawkins mengatakan bahwa hanya orang bodohlah yang tidak percaya terhadap teori ini.

Tidak mengejutkan juga bila kemudian Paus Paulus II pada oktober 1996, mengubah sikap gereja Katholik terhadap teori evolusi. Jika sebelumnya teori ini dianggap spekulasi besar- besaran, sekarang Paus menyerukan kepada umatnya untuk memandang teori ini sebagai sebuah teori yang sungguh-sungguh. Ilmuwan-agamawan pun banyak mendukung teori ini dengan mengatakan bahwa teori evolusi tidak bertentangan dengan doktrin agama.

Untuk lebih memahami dan membuktikan evolusi, maka dapat kita lihat dari petunjuk-petunjuk seperti: (1) geologi dan paleontologi, (2) morfologi dan anatomi perbandingan, (3) reaksi fisiologi perbandingan, (4) penyebaran makhluk di muka bumi, dan (5) embriologi.

Dalam perkembangannya, ada beberapa tokoh muslim yang mencoba membenarkan teori evolusi dengan ayat-ayat al-Qur’an, seperti QS. Nuh (71): 13-14:

Artinya: Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?(13) Padahal dia Sesungguhnya Telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.(14)

Mereka menafsirkan fase-fase tersebut adalah sesuai dengan fase-fase yang diakui oleh penganut teori evolusi Darwin tentang proses kejadian manusia. Ayat lain juga yang memperkuat teori ini adalah QS. al-Ra’du (13): 17, dan QS. al-An’am (6): 133.

 

Artinya: Allah Telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan- perumpamaan.

Artinya: Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.

Ayat ini dijadikan juga sebagai penguat kebenaran teori “struggle for life”atau struggle for existence yaitu adanya perjuangan species untuk mempertahankan hidupnya, yang menjadi salah satu landasan teori Darwin.

Terlepas dari perdebatan di atas, sebenarnya menurut Quraish Shihab, beberapa abad sebelum munculnya teori evolusi Darwin (1804-1872) telah ada beberapa ilmuwan Muslim yang menuliskan pendapatnya tentang evolusi seperti Al-Farabi (783- 950 M), Ibnu Maskawaih (wafat 1030 M), Muhammad bin Syakir Al-Kutubi (1287-1363 M) dan ‘Abdurrahman Ibn Khaldun (1332- 1446). Ibn Khaldun menulis dalam kitabnya Kitab al-Ibar fi Diwani al-Mubtada’ wa al-Khabar sebagai berikut: “Alam binatang meluas sehingga bermacam-macam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat memiliki dan berpikir”. Yang dimaksud kera oleh Ibn Khaldun adalah sejenis makhluk yang oleh para penganut evolusionisme disebut Anthropoides. Ketika menemukan teori tersebut Ibn Khaldun dan ilmuwan-ilmuwan lainnya tidak merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an, tetapi mereka mendasarkan pada penyelidikan dan penelitian mereka.

Ada beberapa teori ilmiah yang disebutkan dalam al-Qur’an tetapi pemaparan tersebut tidak memberikan penjelasan secara detail, hanya untuk menunjukkan kebesaran Tuhan serta memotivasi manusia untuk mengadakan pengamatan dan penelitian yang lebih mendalam untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.

 

** Sumber: Nurdiana.2016. Ilmu Alamiah Dasar, Lombok:  

                    Pustaka Lombok

 

No comments:

Post a Comment